JUARA SEJATI DI MATA IBU

Oleh: Ebnu Hajar

Aroma karbol rumah sakit dan bunyi melengking alat pemantau jantung adalah dua hal yang tak akan pernah bisa kuhapus dari ingatanku. Namaku Hanif. Sejak ayahku meninggal saat aku masih duduk di bangku kelas 6 SD, duniaku hanya berpusat pada dua hal yaitu Ibu dan bulu tangkis.

Di sekolah, orang-orang mengenalku sebagai atlet andalan. Kok dan raket adalah perpanjangan tanganku, dan podium juara sudah seperti rumah keduaku. Namun, semua itu berubah saat aku naik ke kelas 11. Sebuah kekalahan telak merenggut semuanya dariku. Aku kehilangan semangat berlatih, menghindar dari teman-teman klub, dan yang paling parah, aku merasa sangat malu setiap kali melihat pantulan diriku di cermin. Aku merasa seperti seorang pecundang.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di hari pertandingan itu. Ditempat ruang ganti yang dingin, beberapa jam sebelum laga final penentuan tiket ke kancah internasional dimulai, aku didatangi oleh pelatih dari pihak lawanku. Ia menyodorkan sebuah koper yang isinya uang tunai senilai seratus juta rupiah. Syaratnya hanya satu yaitu aku harus mengalah.

Pada awalnya amarahku memuncak. Harga diriku sebagai atlet terasa diinjak-injak. Namun, ponselku bergetar membawa kabar dari rumah sakit. Kondisi Ibu memburuk. Beliau butuh tindakan medis dan perawatan intensif secepatnya, dan biayanya jauh melampaui tabunganku. Aku mencoba menghitung cepat, sekalipun aku memenangkan pertandingan ini dan mendapatkan uang pembinaan dari kejuaraan, nominalnya tak akan cukup untuk menutupi biaya rumah sakit Ibu.

Di titik itulah hatiku hancur berkeping-keping. Bingung, gelisah, dan kalut bercampur menjadi satu. Menang berarti mewakili negaraku di kancah internasional impian terbesarku sejak kecil. Namun, apalah arti sebuah impian dan medali emas jika aku harus kehilangan satu-satunya harta berharga yang kumiliki di dunia ini? Jika merawat wanita yang telah membesarkanku sendirian saja aku tak mampu, untuk apa aku berdiri bangga di atas podium?

Dengan tangan gemetar dan dada yang sesak, aku menerima tawaran kotor itu. Di lapangan, aku berpura-pura kehilangan fokus. Aku membiarkan shuttlecock jatuh di areaku. Aku kalah.

Kini, uang itu telah menjalankan tugasnya. Ibu sudah melewati masa kritis dan pelan-pelan mulai pulih. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan, nyawa Ibuku. Namun di lubuk hati yang paling dalam, ada rongga kosong yang perih. Tiket internasional itu hangus. Aku sangat ingin memenangkan perlombaan itu.

Sore itu, di sebuah taman kota yang sepi, aku duduk menatap kosong ke arah danau. Meratapi nasib dan meraba-raba sisa puing mimpiku yang sudah telanjur kuhancurkan sendiri.

“Hanif?”

Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan mendapati seorang pemuda sebayaku berdiri dengan wajah ragu, yang sedetik kemudian berubah menjadi senyum lebar. Itu Irfan! Dia adalah sahabat masa kecilku yang paling akrab, yang dulu terpaksa berpisah dariku karena harus ikut orang tuanya pindah kota.

Kami berpelukan, tertawa riang seolah beban di pundakku menguap begitu saja. Tak ingin mengobrol sambil berdiri, kami memutuskan pindah ke sebuah tempat makan sederhana di pinggir jalan. Sambil menyantap makanan, kami saling bertukar cerita. Irfan ternyata kini tumbuh menjadi seorang atlet pencak silat yang hebat.

Mendengar antusiasme Irfan tentang dunia bela dirinya, pertahananku runtuh. Aku menceritakan semuanya kepadanya. Tentang Ibu, tawaran seratus juta, rasa maluku, dan impianku yang kandas.

Irfan menatapku lekat. Tidak ada sorot menghakimi di matanya. Ia menghela napas panjang dan bercerita bahwa ia pun pernah mengalami masa-masa gelap yang serupa, jatuh ke titik terendah dalam karir silatnya.

“Waktu itu gue bener-bener mau nyerah, Nif,” ucap Irfan sungguh-sungguh. “Tapi pelatih gue nampar gue dengan satu kalimat yang bikin gue sadar. Dan gue rasa, lo harus denger ini juga.”

Irfan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Lanjutkanlah usahamu selama ini, dan tunjukkan kepada orang-orang yang pernah menginjak-injak harga dirimu bahwa kamu juga bisa meraih impian itu juga dengan semangat dan tekad yang ada.”

Kata-kata itu menghantam dadaku dengan telak.

“Jangan nyerah sama mimpi lo,” lanjut Irfan. “Cari solusi dari masalah lo ini. Lo nggak sendirian. Kalau lo butuh bantuan, lo bisa minta ke gue, atau ke orang-orang yang bisa lo percaya.”

Hari itu, di meja makan kayu yang sederhana, semangatku kembali menyala. Kata-kata Irfan membuatku berpikir jernih. Aku mulai memutar otak mencari solusi bagaimana aku bisa kembali mengejar mimpi tanpa harus mengorbankan waktu perawatanku untuk Ibu.

Aku membuka kalender kejuaraan. Ada satu turnamen seleksi nasional yang akan diadakan tiga bulan dari sekarang. Jeda waktu yang cukup panjang. Artinya, selama tiga bulan ke depan, aku bisa fokus merawat Ibu hingga kondisinya benar-benar stabil, sembari mengasah kembali fisik dan rekleksku dengan latihan keras setiap subuh dan malam hari.

Bulan demi bulan berlalu. Aku menepati janjiku pada diriku sendiri. Aku menjaga Ibu dengan penuh kasih sayang, dan di saat yang sama, aku menghancurkan batas kemampuanku di lapangan latihan. Hingga akhirnya, hari kejuaraan itu tiba.

Suasana arena terasa jauh berbeda. Kali ini, tidak ada rasa kalut atau ketakutan. Saat aku melangkah masuk ke lapangan, mataku langsung tertuju pada deretan kursi penonton. Di sana, duduk wanita paruh baya yang paling kucintai. Ibu tersenyum hangat ke arahku, melambaikan tangannya dengan raut wajah bangga. Yang kini beliau sudah sehat dan dengan kehadiran Ibu di tribun memberiku tenaga yang tak bisa dibeli dengan uang ratusan juta dari pihak mana pun. Setiap ayunan raketku, setiap lompatanku, dan setiap smash tajam yang kulakukan adalah pembuktian atas tekadku.

Peluit panjang berbunyi. Pertandingan berakhir. Aku menjatuhkan diri ke lantai lapangan, menangis sejadi-jadinya saat namaku diumumkan sebagai juara. Aku berhasil. Aku bukan hanya berhasil mengembalikan harga diriku yang sempat terinjak, tapi aku juga memenangkan tiket untuk mewakili negaraku di tingkat internasional. Dan yang paling penting, aku meraihnya sambil melihat senyum Ibuku dari pinggir lapangan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp