Salahkah Kita Menjadi Orang yang Terlalu Baik?
Oleh Alvian Izzul Fikri

Banyak narasi hari ini yang mengatakan, “Jangan jadi orang terlalu baik, nanti kamu akan dimanfaatkan.” Ada juga yang mengatakan, “Tidak baik menjadi orang yang terlalu baik.” Bahkan kita mengenal istilah self-sacrificing, yaitu ketika seseorang rela mengorbankan apa yang ia inginkan agar orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan. Istilah ini kemudian sering diarahkan kepada keadaan ketika seseorang terlalu banyak berkorban hingga akhirnya dirinya sendiri yang dirugikan.
Lantas, apakah hal itu benar?
Pertanyaan ini mungkin perlu senantiasa kita ajukan kepada diri kita sendiri. Apakah kita kemudian mengaminkan narasi tersebut, atau masih ada keraguan di dalam diri kita? Sebab terkadang kita terlalu cepat menerima sebuah pandangan hanya karena banyak orang mengatakannya. Padahal, ketika kita berani berhenti sejenak dan melihat kembali apa yang sebenarnya kita yakini, dari sanalah kita bisa bercermin kepada diri kita sendiri.
Saya mencoba mengajak kita melihat persoalan ini dari apa yang diajarkan oleh para ulama dan bagaimana agama kita memandang sebuah kebaikan.
Syekh Izzuddin bin Abdissalam dalam Syajaratul Ma’arif, ketika menjelaskan tentang al-itsar atau mendahulukan orang lain, memberikan sebuah contoh. Beliau mengisahkan seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat membutuhkan makanan. Rasulullah ﷺ kemudian meminta para istrinya menyediakan makanan, tetapi tidak ada yang memiliki makanan kecuali air.
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Siapa yang mau menjamu orang ini pada malam ini?” Abu Thalhah kemudian bersedia. Sesampainya di rumah, ternyata makanan yang tersedia hanya cukup untuk anak-anaknya. Namun Abu Thalhah dan istrinya memilih mendahulukan tamunya. Mereka memadamkan lampu dan membiarkan tamu tersebut makan, sementara mereka sendiri tidak ikut makan.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran firman Allah:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Kalau kita senang dihargai, maka kita belajar menghargai. Kalau kita senang dibantu ketika kesulitan, maka kita belajar membantu. Kalau kita ingin didengarkan, maka kita juga belajar mendengarkan.
Mungkin yang perlu kita lihat bukan sekadar “terlalu baik atau tidak?”, tetapi untuk apa kita berbuat baik. Sebab kalau kebaikan hanya kita lakukan agar mendapatkan balasan dari manusia, kita akan mudah kecewa. Hari ini kita membantu, besok tidak dibantu. Hari ini kita mengalah, ternyata tidak dihargai. Bahkan kebaikan kita terkadang dimanfaatkan.
Namun ketika kita berbuat baik karena sedang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, kita akan selalu memiliki alasan untuk tetap berbuat baik, meskipun apa yang kita harapkan dari manusia tidak selalu kita dapatkan.
Ketika kebaikan kita tidak dihargai, mungkin di situlah kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan pengakuan. Ketika pengorbanan kita tidak dibalas, mungkin di situlah kita belajar bahwa tidak semua kebaikan harus kembali kepada kita.
Dan mungkin, di sanalah kita mulai memahami bahwa menjadi baik bukan selalu tentang apa yang kita dapatkan dari manusia, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk tetap menaati Allah ketika berhadapan dengan manusia. Wallahu alam bisshawab.






