Tuduhan “Faker” Menuju Pelaminan

Tuduhan “Faker” Menuju Pelaminan

Oleh Nyimas Salsabila Fitri

Kehidupanku sebagai keturunan Belanda-Jawa sebenarnya terbilang berkecukupan. Sejak masih di bangku SMA, aku sudah merintis usaha kebun kopi dan kafe sendiri. Namun, kalau bicara soal asmara, jalanku ternyata harus melewati lika-liku yang penuh prasangka dan drama yang menguras emosi.

Semua bermula di Jakarta saat aku berada di penghujung masa sekolah. Melalui seorang teman sekelasnya bernama Adiva, aku berkenalan dengan Ara, gadis asal Lampung yang duduk di kelas sebelas. Karena urusan bisnis papa sering mengharuskanku bolak-balik ke Lampung, kami memberanikan diri untuk menjalin hubungan jarak jauh.

Bulan-bulan awal terasa begitu indah dan manis. Hari-hariku dihiasi dengan dering telepon, usapan layar video call, serta tawa yang mengalir hangat di antara obrolan kami. Setiap kali ada rezeki lebih, aku tak ragu mengirimkan hadiah ke rumahnya. Namun, di tengah kesibukanku mempersiapkan ujian dan mengelola kafe, sebuah pesan masuk dari Ara memecah ketenangan itu.

“Kamu tuh sebenarnya enggak nyata ya? Kok kamu enggak pernah mau nemuin aku?”

Aku tertegun di depan layar ponsel, dahi berkerut membaca kalimat demi kalimat yang ia kirimkan. Tuduhan itu kian membingungkan ketika Ara menuduhku sebagai sosok fiktif, ia meyakini bahwa akunku dijalankan oleh Adiva dan foto-fotoku hanyalah gambar yang diunduh dari Pinterest. Hanya karena melihat fotoku ada di galeri ponsel Adiva, Ara langsung mengambil kesimpulan sepihak, mengabaikan fakta bahwa kami rutin saling bertatap muka lewat video call setiap hari.

Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Ara memutuskan hubungan secara sepihak. Tak berhenti di situ, ia bahkan menghasut teman-teman sekelasnya untuk memusuhi dan merundung Adiva di sekolah.

Melihat ketidakadilan itu, aku tergerak untuk menghubungi Salsa, teman sekelas mereka yang dikenal selalu berpikiran positif. Aku menceritakan seluruh kronologi yang sebenarnya, meminta tolong agar ia mau merangkul dan menemani Adiva. Benar saja, keberanian Salsa berdiri di samping Adiva membuatnya ikut dijauhi oleh teman-temannya. Namun, mereka berdua memilih bersikap tak acuh dan menguatkan satu sama lain.

Waktu berlalu begitu cepat. Setelah lulus sekolah, aku memutuskan untuk pindah ke Belanda untuk melanjutkan hidup, sementara Salsa dan Adiva melangkah ke kelas dua belas. Di antara bentangan jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu, komunikasiku dengan Salsa justru tumbuh kian erat.

Salsa adalah sosok yang teramat manis. Tatapan matanya yang teduh, pikirannya yang dewasa, serta obrolan kami yang tak pernah kehabisan arah membuat rasa nyaman itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta, sosok yang jauh berbeda dari tabiat Ara.

Hingga pada suatu sore di Belanda, saat aku berdiri di tengah taman bunga yang sedang bermekaran indah, aku mengarahkan kamera ponselku ke arah kelopak-kelopak warna-warni itu lewat sambungan video call. Di balik debet jantung yang bertalu cepat, aku memberanikan diri mengungkapkan isi hati.

“Aku suka sama kamu,” ucapku mantap.

Salsa sempat tertegun, raut wajahnya menunjukkan rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan. Sebelum rasa bingungnya makin meluas, aku melanjutkan kalimatku dengan sebuah ajakan yang sangat berani: “Kamu mau enggak nikah sama aku?”

Keheningan sempat tercipta di seberang telepon. Namun, melihat keseriusanku serta kemandirian finansial yang sudah kubangun lewat usaha kafe dan kebun kopi, Salsa meminta waktu dua hari untuk berpikir. Setelah dua hari yang membuat dadaku terus berdebar menunggu kepastian, sebuah jawaban lembut akhirnya memecah kecemasan itu: Salsa menerima lamaranku.

Begitu Salsa menyelesaikan ujian kelulusan sekolahnya, aku langsung terbang dari Belanda menuju Lampung. Aku melangkah masuk ke rumah orang tuanya, duduk berhadapan langsung untuk memohon izin dan restu. Aku memaparkan seluruh rencana masa depan, kesiapan finansial, serta komitmenku untuk tetap mendukung pendidikannya. Kehangatan dan kepercayaan dari kedua orang tuanya pun menyambut niat baikku.

Di tengah kesibukan kami mempersiapkan acara pernikahan dan pre-wedding di Lampung, sebuah kebetulan mempertemukanku dengan Ara di sebuah supermarket. Begitu matanya menatap sosokku yang berdiri nyata di hadapannya, wajah Ara seketika pucat pasi. Ia melangkah maju, memegang tanganku dengan raut penuh penyesalan, lalu merengek meminta maaf dan mengajak untuk kembali bersama.

Aku menarik tanganku secara perlahan namun tegas, menatapnya dingin lalu berkata, “Kalau kamu mau minta maaf, minta maaflah ke Adiva. Dia harus menanggung malu di sekolah selama berbulan-bulan hanya gara-gara tuduhan tanpa dasar dari kamu.” Tanpa membuang waktu, aku berbalik dan meninggalkannya sendirian yang terpaku di lorong supermarket.

Kini, hari-hari bahagia menjelang pernikahan kami tinggal menghitung waktu. Pengalaman hidup ini menanamkan satu hal mendalam di batinku: sebuah hubungan hanya akan kokoh jika dibangun di atas rasa percaya dan kejujuran, bukan prasangka buruk yang mudah goyah oleh bisikan orang lain.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp