Sebelas Tahun Menanti Restu
Oleh Amalia Ayu Putri Roosyidah
Kalau hidupku dibuat film, mungkin genrenya adalah thriller romantis drama. Saking bingungnya, arah hidup ini rasanya berjalan di atas lampu kuning. Disuruh jalan tidak yakin, disuruh berhenti pun terasa nanggung. Sebelas tahun adalah waktu yang kuhabiskan hanya untuk menunggu satu kata: restu. Di tengah penantian itu, aku juga harus menelan pil pahit ketika ayah dan ibu pergi untuk selama-lamanya. Namun, syukurlah Tuhan berpihak pada orang-orang yang sabar.
Perjalanan hidupku dimulai saat aku berusia dua puluh tahun. Ayah meninggal dunia karena serangan jantung secara mendadak saat aku baru duduk di semester dua kuliah. Dalam satu hari, duniamu runtuh. Tinggal ibu dan dua adikku yang masih sekolah, adik pertama berjarak satu setengah tahun dariku, dan yang bungsu masih kelas lima SD. Karena keluargaku bukan dari kalangan berada, aku langsung memutuskan berhenti kuliah dan mencari pekerjaan demi menyambung hidup. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan impian setelah melewati tes seorang diri tanpa pegangan uang dari siapa pun. Gaji pertamanya kuberikan seluruhnya kepada ibu, menyisakan sedikit untuk membayar kontrakan karena jarak tempat kerja dan rumah mencapai empat puluh kilometer. Berjauhan dengan ibu membuatku menangis tiap hari, ditambah rasa rindu yang teramat sangat kepada ayah setiap malam.
Lima bulan bekerja, secara tidak sengaja aku dikenalkan dengan seorang pria di kantor. Awalnya aku sempat ragu dan mengabaikannya, namun keisenganku membalas pesannya justru membuka jalan komunikasi yang sangat intens. Topik obrolan kami nyambung layaknya anak tongkrongan, dan aku sadar ia berbeda dari pria kebanyakan. Tidak lama setelah pertemuan awal, ia menyatakan perasaannya. Aku berpikir, tidak ada salahnya dicoba. Dan siapa sangka, hubungan kami bisa bertahan hingga sebelas tahun lamanya tanpa ada drama putus-nyambung, kecuali satu bulan perpisahan di awal. Kami menjalin hubungan yang sehat, komunikasi yang terbuka, dan rasa saling menghargai yang tak pernah luntur.
Namun, rintangan terbesar kami bukanlah soal materi atau pendidikan, melainkan restu. Ibu, adik-adik, hingga keluarga besar menentang keras hubungan kami semata-mata karena perbedaan suku. Di tahun kedua berpacaran, kami sempat merencanakan pernikahan secara diam-diam. Namun, sebuah rumor buruk disebarkan oleh seseorang kepada kekasihku, hampir membuatnya menyerah. Berkat cinta yang besar di antara kami, kami memutuskan untuk tetap bertahan dan berjuang bersama.
Beberapa waktu kemudian, ujian hidup kembali datang menghantam. Ibu jatuh sakit yang awalnya dikira gangguan pencernaan biasa, hingga akhirnya vonis pahit menghantam: tumor anus stadium empat. Aku membawa ibu berobat ke rumah sakit rujukan dengan jarak seratus dua puluh kilometer pulang-pergi seorang diri. Mengurus administrasi, menemani kemoterapi, sementara badanku sendiri sudah hancur lebur karena kelelahan. Di saat ibu dirawat selama lima sampai enam hari untuk kemo, aku bahkan sering ikut dirawat di rumah sakit kota tempatku tinggal. Selama dua tahun, kami tiga bersaudara merawat ibu bersama-sama hingga kondisinya benar-benar drop dan sering kehilangan kesadaran.
Tepat sepuluh tahun setelah kepergian ayah, ibu menyusul. Rasanya duniaku benar-benar runtuh seketika. Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun, mengurung diri, dan merasakan sakit kepala luar biasa yang belum pernah kurasakan seumur hidup. Di usia tiga puluh satu tahun, aku menjadi yatim piatu, belum menikah, dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Belum cukup sampai di situ, aku sempat menjadi korban penipuan hingga mengalami kerugian jutaan rupiah. Demi menutup hutang pinjaman online, aku terpaksa menggadaikan emas peninggalan ibu dan menjual satu-satunya motor milikku. Di titik terendah itu, kekasihku tidak pernah meninggalkan atau menghakimiku. Ia justru membantuku menyelesaikan masalah tersebut dengan sabar.
Setelah melewati pertentangan panjang dengan adik-adikku, lelah yang teramat sangat, serta kondisi fisikku yang mulai diserang saraf kejepit akibat beban hidup, sebuah keajaiban akhirnya datang. Menjelang Ramadhan, adikku mulai melunak. Hingga pada suatu hari, aku memutuskan untuk berbicara kepada adikku untuk yang terakhir kalinya. Aku bertekad, direstui atau tidak, aku akan tetap menikah dengan kekasihku atau memilih pergi jauh ke luar negeri. Dan alhamdulillah, setelah sebelas tahun drama penantian, restu itu akhirnya diberikan.
Kabar baik itu langsung kusampaikan pada kekasihku. Keesokan harinya, kami langsung mengurus berkas ke KUA. Tanggal 28 Januari, di usia tiga puluh dua tahun, kami resmi menikah secara sederhana di KUA, dilengkapi dengan kebaya spesial yang aku jahit sendiri untuk hari istimewa tersebut. Kebahagiaan itu ternyata belum berhenti. Dua minggu setelah menikah, aku memberanikan diri melakukan tes kehamilan secara diam-diam, dan hasilnya positif. Allah tidak membiarkan kami menunggu lama untuk mendapatkan momongan.
Sekarang, usia kehamilanku sudah masuk 24 minggu. Tanggal perkiraan lahir bayinya bahkan hanya beda satu hari sama ulang tahunku. Dari semua yang dialami, ternyata cobaan datang dalam banyak bentuk dan tidak ada yang bisa prediksi kapan dan seberapa beratnya. Yang bisa dikendalikan adalah cara berdiri lagi setiap kali jatuh. Orang yang beneran cinta sama kamu, dia tidak akan pergi di saat kamu paling hancur. Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar, dan suami membuktikan itu. Kesabaran dan doa yang konsisten tidak akan pernah ada yang sia-sia, semuanya akan indah pada waktunya.




