Duka yang Terlambat Disesali

Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Secara fisik, Diana adalah gambaran pesona yang sempurna. Di usianya yang belum genap tiga puluh lima tahun, ia selalu tampil memesona, pandai merias diri, dan sangat aktif membagikan momen indahnya di media sosial. Namun, di balik kemilau yang ia pamerkan, Diana sebenarnya seorang anak yatim piatu yang tak memiliki siapa-siapa lagi selain keluarga dari suaminya, Andra.
Anehnya, Diana kerap memposisikan diri sebagai istri paling menderita. Ada satu sifat mendasar yang tak pernah bergeser dari dirinya sejak remaja: Diana tidak pernah benar-benar dewasa. Bagi Diana, pernikahan bukanlah perjalanan untuk saling menopang, melainkan panggung untuk memuaskan seluruh daftar keinginannya. Rumah mewah, mobil keluaran terbaru, liburan rutin, perawatan wajah berbiaya fantastis, hingga tas bermerek menjadi daftar standar hidup yang wajib dipenuhi. Bahkan ketiga anaknya harus mengenakan seragam sekolah internasional dan menikmati jamuan makan akhir pekan di restoran ternama. Bagi Diana, semua itu bukanlah bonus, melainkan kebutuhan paling mendasar.
Masalahnya, Andra hanyalah seorang pegawai swasta dengan penghasilan yang bersahaja. Bagi Diana, kata “cukup” yang dimiliki suaminya adalah bentuk lain dari sebuah kegagalan.
Tak heran jika pertengkaran hebat kerap menjadi irama rutin di rumah tangga mereka, terutama saat awal bulan menyapa. Teriakan Diana sering pecah menembus dinding kamar, menuntut kehidupan yang setara dengan rekan-rekannya yang sudah mengendarai mobil mewah dan mendapatkan perhiasan emas setiap kali ulang tahun tiba. Bagi Diana, selalu ada hal yang kurang dari pria yang dinikahinya itu.
Di tengah hujan tuntutan itu, Andra memilih lebih banyak diam. Pria itu menyadari posisinya dan terus berusaha melebihi batas kemampuannya. Ia rela bekerja lembur hingga larut, berangkat sebelum anak-anaknya membuka mata, dan pulang tatkala buah hatinya sudah berada di alam mimpi. Bahkan di hari libur, waktu istirahatnya ia tukar dengan pekerjaan sampingan. Namun di mata Diana yang tak pernah puas, seluruh peluh dan lelah sang suami sama sekali tak bernilai.
Tuntutan Diana tak berhenti pada aspek materi. Ia juga menuntut perhatian dengan cara yang menguras emosi. Satu pesan yang tak terbalas dalam hitungan menit bisa memicu belasan panggilan telepon penuh amarah. Terlambat pulang karena urusan pekerjaan langsung berbuah tuduhan miring. Dan di setiap pengujung percekcokan, kalimat ancaman untuk berpisah selalu terlontar dari bibirnya.
Di balik riuhnya tuntutan Diana, ketiga anak mereka justru menemukan kehangatan dari kakek dan neneknya. Kedua orang tua Andra-lah yang mengambil alih peran pengasuhan mulai dari memandikan, mengantar ke sekolah, mendampingi belajar, hingga terjaga di kala sang cucu terserang demam. Diana lebih memilih menggunakan waktunya untuk melepas penat dan berkumpul bersama teman-temannya. Lambat laun, anak-anak itu justru lebih merasa aman dan nyaman berada di dekapan kakek dan nenek mereka ketimbang bersama ibu kandungnya sendiri.
Kondisi tersebut kian diperkeruh dengan kebiasaan Diana menceritakan ketidakpuasan rumah tangganya kepada orang-orang di sekitarnya. Cerita-cerita yang diwarnai sudut pandang sepihak itu mengalir dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga keluarga besar Andra. Meski merasa kecewa, sang mertua memilih menahan diri dan menyimpannya dalam diam.
Sementara itu, kesehatan Andra merosot drastis. Beban kerja yang tak ada habisnya, bayang-bayang utang gaya hidup, serta pertikaian tanpa jeda perlahan merogoh daya tahan tubuhnya. Tekanan darah tinggi, gangguan asam lambung, dan insomnia parah mulai menggerogoti fisiknya. Dokter telah berkali-kali memperingatkan agar ia menyepi dari stres, sebuah nasihat yang mustahil diwujudkan ketika rumah tempatnya pulang selalu menyimpan masalah baru.
Hingga pada suatu malam, pertengkaran kembali pecah hanya karena Andra menolak pembelian ponsel terbaru secara kredit. Usai pertikaian, Andra duduk terdiam sendirian di teras. Diana tak pernah datang menghampiri atau sekadar menanyakan keadaannya. Malam itu berlalu begitu hening, tanpa menyadari bahwa tubuh pria itu telah mencapai batas akhirnya.
Keesokan paginya, dering alarm ponsel Andra terdengar berkali-kali tanpa ada yang mematikan. Diana yang sempat kesal karena mengira suaminya kesiangan mencoba membangunkan pria itu. Namun, ketika bahunya digoyangkan, tak ada lagi respons yang tersisa. Di usianya yang baru tiga puluh enam tahun, Andra telah pergi untuk selama-lamanya.
Pria itu tidak runtuh oleh satu pertengkaran besar, melainkan perlahan tumbang karena terlalu lama memendam lelah, terlalu sering mengalah, dan tak pernah memiliki tempat untuk bersandar.
Kediaman duka dipenuhi oleh pelayat. Di saat anak-anaknya terpaku belum sepenuhnya paham, Diana menangis histeris di sudut ruangan. Namun, duka itu tak bertahan lama. Belum genap masa berkabung empat puluh hari, Diana kembali terlihat sering menghabiskan waktu di luar rumah, menyerahkan pengasuhan anak-anak sepenuhnya kepada sang kakek dan nenek.
Tak lama berselang, Diana menjalin hubungan dengan seorang pria yang berharap bisa mendapatkan keturunan darinya. Namun, demi mempertahankan hubungan baru itu, Diana memilih menyembunyikan fakta medis bahwa peluangnya untuk hamil lagi sudah sangat kecil akibat prosedur kesehatan yang pernah ia jalani sebelumnya.
Mengetahui hal tersebut, ibu dari almarhum Andra mengajak Diana berbicara secara bijak, mengingatkannya agar tidak membangun lembaran baru di atas kebohongan yang kelak hanya akan merugikan anak-anaknya. Bukannya merenung, Diana justru merasa dipojokkan dan memilih pergi.
Pernikahan siri yang kemudian dilakoni Diana akhirnya tidak bertahan lama. Ketika rahasia medis dan berbagai ketidaksesuaian cerita terkuak, hubungan itu retak dan hancur dengan sendirinya.
Kini, ketiga anak Andra tumbuh dan mengerti arti kehangatan yang sesungguhnya. Bagi mereka, rumah bukanlah tentang sosok yang menuntut keberadaan, melainkan tentang siapa yang benar-benar hadir, mau mendengar, dan merawat dengan tulus tanpa syarat.



