Malang – Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan tren di media sosial, Pondok Pesantren Darun Nun kembali menunjukkan komitmennya dalam membina generasi muda dengan menggelar webinar inspiratif bertajuk “Beyond The Trend: Menemukan Jati Diri Santri Gen Z di Tengah Arus FOMO dan Budaya Flexing”.

Webinar gratis yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB via Zoom Meeting ini berhasil menarik antusiasme puluhan peserta dari kalangan santri, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang tergabung dalam Sobat Darun Nun.
Latar Belakang: Tantangan Santri di Era Digital
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan budaya flexing (budaya pamer) telah menjadi tantangan nyata bagi Generasi Z. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana informasi, tak jarang justru menjadi sumber kecemasan, perbandingan sosial, dan krisis identitas.
Melihat keresahan tersebut, Pondok Pesantren Darun Nun menginisiasi ruang diskusi yang aman dan relevan untuk membantu santri Gen Z tetap percaya diri, relevan dengan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.
“Tema ini kami angkat karena kami melihat banyak santri yang hebat potensinya, tapi jadi ragu dengan dirinya sendiri karena terus-menerus membandingkan hidupnya dengan apa yang ada di media sosial,” ujar panitia penyelenggara.
Hadirkan Pemateri Kompeten
Untuk membedah tema yang mendalam ini, panitia menghadirkan narasumber yang inspiratif, Mahyatul Fikriya, S.H.
Dalam pemaparannya selama kurang lebih satu jam, Mahyatul Fikriya menyampaikan tiga poin kunci:
1. Mengenal Diri Adalah Kunci Utama
Sebelum bisa bijak menyikapi tren, seorang santri harus terlebih dahulu mengenal siapa dirinya, apa potensinya, dan apa tujuan hidupnya. Jati diri tidak ditemukan dari likes atau views, melainkan dari proses muhasabah dan mengenali nilai diri sendiri.
2. FOMO vs JOMO (Joy of Missing Out)
Pemateri mengajak peserta untuk mengubah mindset dari takut ketinggalan (FOMO) menjadi bahagia karena tidak harus mengikuti semua hal (JOMO). Tidak semua tren harus diikuti. Santri perlu belajar untuk selektif dan berani mengatakan tidak pada tren yang tidak sesuai dengan prinsip.
3. Percaya Diri Tanpa Flexing
Kepercayaan diri yang sejati tidak lahir dari validasi orang lain atau dari barang-barang yang dipamerkan. Percaya diri yang autentik lahir dari ilmu, akhlak, dan karya. Menjadi santri yang berprestasi dan bermanfaat adalah bentuk flexing terbaik.
Acara dipandu dengan sangat baik oleh moderator Syabrina Wahyuni, yang berhasil membuat suasana diskusi menjadi hidup, interaktif, dan tidak kaku. Sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis dengan banyaknya pertanyaan kritis dari para peserta seputar cara mengelola media sosial yang sehat.
Webinar ini merupakan bagian dari program literasi digital Pondok Pesantren Darun Nun. Pihak pondok berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang relevan dengan kebutuhan santri masa kini.
“Kami ingin membuktikan bahwa pesantren tidak kudet (kurang update). Santri Darun Nun harus bisa menjadi santri yang open-minded, melek teknologi, melek tren, tapi tetap memiliki filter keislaman yang kuat,” tutup perwakilan Pondok Pesantren Darun Nun.