Waktu yang Sering Kita Sia-Siakan
Oleh Alvian Izzul Fikri

Saya tertarik dengan penyampaian Prof. Faisal Fatawi tadi malam. Beliau menjelaskan bahwa waktu dan kesempatan yang kita miliki hari ini jauh lebih luas untuk memperdalam ilmu pengetahuan dibandingkan dengan zaman para ulama terdahulu.
Dulu, para ulama membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menulis sebuah kitab. Mereka masih menggunakan pena celup, menulis lembar demi lembar dengan penuh ketekunan. Sekarang, pekerjaan itu bisa dilakukan dengan jauh lebih mudah. Cukup control + A, lalu control + C, dan terakhir control + V. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan itu ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas kita. Waktu yang tersedia semakin luas, akses ilmu semakin mudah, dan fasilitas semakin lengkap. Sayangnya, semua itu tidak selalu membuat kita semakin produktif. Kita semakin mudah mendapatkan ilmu, tetapi belum tentu semakin tekun mempelajarinya.
Kenyataan ini seolah menjadi tamparan bagi kita. Jangan-jangan, masalahnya bukan karena kita kekurangan waktu dan fasilitas, melainkan karena kita belum mampu memanfaatkan keduanya dengan baik.
Saya teringat sebuah teori yang dikenal dengan istilah paradox of choice, (meskipun hal ini erat kaitannya dengan masalah ekonomi dan bisnis), yaitu keadaan ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang kesulitan mengambil keputusan. Karena ingin memilih yang terbaik, kita sibuk mempertimbangkan banyak kemungkinan, takut salah melangkah, dan khawatir kehilangan kesempatan lain. Akibatnya, energi habis untuk berpikir, sementara tindakan nyata terus tertunda.
Hal serupa terjadi dalam urusan waktu dan kesempatan. Kita ingin membaca banyak buku, mengikuti berbagai kajian, menulis artikel, dan mempelajari banyak keterampilan sekaligus. Semuanya terasa penting, tetapi karena ingin mengerjakan semuanya, kita justru kesulitan memulai. Kita sibuk menyusun rencana, tetapi lupa melangkah.
Dalam konteks ini, saya teringat penjelasan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab Qimatuz Zaman indal Ulama, halaman 35:
فكان الزمانُ من جملة أصولِ النِّعَمِ، فلذلك أقسمَ الله به، ونَبَّهَ سبحانه على أنَّ الليل والنهار فُرْصةٌ يُضيعُها الإنسان! وأنَّ الزمان أشرفُ من المكان فأقسمَ به، لكون الزمانِ نعمةً خالصةً لا عيبَ فيها، إنما الخاسِرُ المَعيبُ هو الإنسان
Artinya, waktu termasuk pokok-pokok kenikmatan, sehingga Allah bersumpah dengannya. Malam dan siang merupakan kesempatan yang sering disia-siakan manusia. Waktu juga lebih mulia daripada tempat sehingga Allah bersumpah dengannya. Waktu adalah nikmat yang murni, tidak memiliki kekurangan. Yang merugi dan memiliki kekurangan justru manusianya.
Ada dua hal penting dari penjelasan tersebut yang membekas betul.
Pertama, waktu termasuk pokok-pokok kenikmatan, dan karena itulah Allah bersumpah dengannya
فكان الزمانُ من جملة أصولِ النِّعَمِ، فلذلك أقسمَ الله به
Waktu merupakan nikmat mendasar yang memungkinkan kita menikmati nikmat-nikmat lainnya. Kita bisa belajar, beribadah, berkarya, dan memperbaiki diri karena masih diberi waktu. Dalam Surah Al-‘Ashr, Allah berfirman, “Demi masa.” Ini mengingatkan kita betapa berharganya waktu dalam kehidupan manusia. Namun, memiliki waktu saja tidak cukup. Kita harus mengisinya dengan sesuatu yang bernilai, sebab waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali.
Kedua, waktu lebih mulia daripada tempat sehingga Allah bersumpah dengannya
وأنَّ الزمان أشرفُ من المكان فأقسمَ به
Tempat yang baik memang dapat membantu seseorang berkembang. Namun, berada di tempat yang baik tidak otomatis membuat kita menjadi lebih baik. Kita bisa berada di perpustakaan tanpa membaca, tinggal di pesantren tanpa bersungguh-sungguh mengaji, atau duduk di majelis ilmu tanpa benar-benar memperhatikan. Sebaliknya, seseorang di tempat sederhana bisa menghasilkan karya besar karena mampu memanfaatkan waktunya dengan baik.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar berapa banyak kesempatan yang kita miliki, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita memanfaatkannya. Kita tidak harus mengerjakan semuanya sekaligus. Kita hanya perlu menentukan prioritas dan mulai melangkah.
Jangan sampai kita hidup di zaman ketika ilmu begitu mudah dijangkau, tetapi justru menjadi generasi yang paling banyak menyia-nyiakan waktu. Sebab, kemajuan tidak ditentukan oleh banyaknya kesempatan yang tersedia, melainkan oleh kesungguhan kita dalam memanfaatkannya. Wallahhu a’lam bishawab.