KIAI HAJI SYUKRAN MAKMUN

KIAI HAJI SYUKRAN MAKMUN

Oleh: Yahdil Falakhi Alkhikam

Pagi baru saja menyingsing ketika suara langkah para santri mulai memenuhi halaman pesantren. Sebagian membawa kitab kuning, sebagian lagi menyapu halaman, sementara yang lain bersiap mengikuti pengajian setelah salat Subuh. Di antara kesibukan itu, ada satu sosok yang selalu mereka nantikan kehadirannya: seorang kiai yang mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang dihafalkan, melainkan sesuatu yang harus hidup dalam perilaku.

Nama Kiai Haji Syukran Makmun sering disebut dalam percakapan para santri. Bagi mereka, seorang kiai bukan hanya guru yang menjelaskan isi kitab, tetapi juga teladan yang menunjukkan bagaimana ilmu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua santri langsung memahami makna keteladanan itu.

Salah seorang santri bernama Farhan pernah menganggap bahwa keberhasilan belajar agama hanya diukur dari banyaknya kitab yang selesai dipelajari. Ia rajin menghafal, cepat menjawab pertanyaan, dan selalu ingin mendapat pujian dari teman-temannya. Akan tetapi, Farhan sering meremehkan pekerjaan kecil. Ia meninggalkan sandal berserakan, enggan membantu temannya yang kesulitan, dan mudah marah ketika pendapatnya tidak diterima.

Suatu pagi, Farhan terlambat mengikuti pengajian. Ia datang tergesa-gesa, lalu duduk di barisan belakang tanpa meminta izin. Setelah pengajian selesai, ia dipanggil untuk menghadap sang kiai.

“Farhan, menurutmu, apa tujuan seseorang mencari ilmu?” tanya sang kiai dengan tenang.

“Supaya menjadi orang yang pintar, Kiai. Agar bisa memahami agama dan menjawab pertanyaan orang lain,” jawab Farhan mantap.

Sang kiai tersenyum tipis. “Jawabanmu tidak salah. Tetapi, apakah orang yang pintar selalu memiliki akhlak yang baik?”

Farhan terdiam.

“Ilmu itu seperti pelita,” lanjut sang kiai. “Pelita tidak berguna apabila hanya disimpan di dalam lemari. Ia harus dinyalakan agar dapat menerangi sekitarnya. Begitu pula ilmu. Jika engkau memahami banyak hal, tetapi tidak mampu menghormati orang lain, untuk apa pengetahuan itu?”

Farhan menunduk. Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk mengejar pengakuan, tetapi lupa memperbaiki sikap.

Beberapa hari kemudian, pesantren mengadakan kegiatan membersihkan lingkungan. Farhan sebenarnya ingin segera kembali ke kamarnya untuk mengulang hafalan. Ia menganggap pekerjaan menyapu dan mengangkut sampah tidak sepenting belajar kitab.

Ketika melewati halaman belakang, ia melihat seorang santri yang lebih muda kesulitan mengangkat tumpukan buku. Farhan sempat berjalan terus. Namun, ia teringat nasihat sang kiai. Akhirnya, ia berbalik dan membantu santri itu membawa buku-bukunya ke perpustakaan.

“Terima kasih, Kak,” ujar santri tersebut.

Farhan mengangguk. Ada perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan ketika memperoleh pujian karena hafalannya.

Hari-hari berikutnya, ia mulai mengubah kebiasaannya. Ia berusaha datang tepat waktu, menjaga kebersihan, mendengarkan pendapat teman, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Perubahan itu tidak berlangsung seketika. Ada kalanya ia kembali bersikap keras kepala, tetapi ia terus belajar memperbaiki diri.

Pada suatu kesempatan, Farhan kembali bertemu dengan sang kiai.

“Kiai, saya merasa masih banyak kekurangan. Semakin saya belajar, semakin saya menyadari bahwa saya belum mengetahui banyak hal,” katanya.

Sang kiai mengangguk. “Itulah salah satu tanda bahwa ilmu mulai mendidik hatimu. Orang yang benar-benar belajar tidak akan mudah merasa paling benar. Ia akan terus mencari kebenaran sekaligus menyadari keterbatasan dirinya.”

Farhan kemudian bertanya, “Lantas, bagaimana caranya agar ilmu yang kita pelajari benar-benar bermanfaat?”

“Mulailah dari hal yang paling dekat. Hormati orang tuamu, muliakan gurumu, sayangi temanmu, dan jangan merendahkan siapa pun. Jika engkau mengetahui sesuatu yang baik, amalkan. Jika belum mampu, teruslah berusaha. Jangan sampai lisanmu lebih cepat daripada tindakanmu.”

Nasihat itu melekat dalam ingatan Farhan.

Waktu berlalu. Farhan tidak lagi hanya dikenal sebagai santri yang pandai menjawab pertanyaan. Teman-temannya mulai mengenalnya sebagai pribadi yang bersedia membantu, tidak malu meminta maaf, dan mau mendengarkan orang lain. Ia menyadari bahwa perubahan terbesar bukanlah ketika seseorang dipuji karena kepintarannya, melainkan ketika kehadirannya membawa manfaat bagi sesama.

Bagi Farhan, pelajaran paling berharga dari sosok Kiai Haji Syukran Makmun bukan semata-mata tentang banyaknya pengetahuan yang dapat dikuasai. Ia belajar bahwa ilmu agama harus berjalan bersama kerendahan hati, kejujuran, dan kepedulian.

Sebab, seorang guru yang baik tidak hanya mengisi pikiran muridnya dengan pengetahuan. Ia juga membantu muridnya mengenali kekurangan diri, memperbaiki akhlak, dan menemukan jalan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Pesan Moral:

Ilmu yang tinggi harus disertai akhlak yang mulia. Jangan menjadikan kepandaian sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Sebab, kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang diketahuinya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama dan mengamalkan ilmunya dalam kehidupan.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp