
Layaknya matahari yang dikelilingi planet-planet, setiap waktu ka’bah dikelilingi umat muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Suara detak jarum jam sudah menjadi detak langkah umat muslim yang tawaf mencurahkan doa, rasa dan harap dalam tangis nikmat yang dirasakannya. Kepadanya lah tertuju segala hasrat serta kerinduan umat. Tidak jarang, hawa nafsu menggoda manusia untuk meruntuh, merusak dan menghancurkannya. Tidak jarang senjata kuat nan hebat menghantam bangunan yang begitu sederhananya. Namun, Allah selalu memberikan perlindungan sekalipun bencana meluluhlantakkan daerah disekitarnya. Kesesatan, kesyirikan, penyimpangan keyakinan pernah meraja di dalamnya. Di sanalah amarah, pertikaian pernah menguasai ego manusia yang haus akan harta dan tahta hingga saling menumpahkan darah perjuangan kebodohannya. Namun, berkali-kali pula Allah kembali melindungi dan menyucikannya.
Sudah banyak ilmuan yang melakukan penelitian terhadap ka’bah, dan mereka selalu mendapatkan fakta ilmiah yang sangat menakjubkan. Diantaranya adalah Arnold Keysrling, ia merupakan salah satu peneliti barat yang mengungkapkan bahwa “Garis bujur kota Makkah seharusnya menjadi garis penentuan waktu internasional sebagai pengganti Greenwich”. Oleh karena itu, seorang ulama Pakistan yang bernama Dr Ir Yahya Waziri dalam Dalail Al-I’jaz Al-Qur’an memberikan usulan agar Kota Makkah menjadi pusat garis bujur bumi untuk menggantikan Greenwich. Selain itu, Dr Husein Kamaluddin mengamati bahwa kota Makkah berada tepat di puncak jantung dunia yang melintasi seluruh tepian benua. Terdapat dua waktu dalam setahun dimana secara vertikal matahari berada tepat diatas ka’bah sehingga setiap bayangan benda mengarah ke ka’bah.
Dalam hal ini, sangat sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 96-96 yang artinya:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata(diantaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang siap melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam”
Banyak penelitian juga yang mengatakan bahwa ka’bah sangat berpotensial sebagai poros bumi, tentu hal ini telah mereka teliti dalam jangka waktu yang lama dan dengan proses yang tidak mudah. Hal ini merupakan salah satu bukti nyata dari firman Allah. Semoga dengan ilmu yang kita miliki dapat meningkatkan iman kita kepada Allah.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang






