AKU DAN DIA

Oleh: Muhammad Irhaz Irham

       Di dalam kamar yang yang besarnya kurang lebih 3X4 meter, seorang wanita sedang berbaring di atas kasur sembari memegang ponselnya, ia nampak asyik menyecapi situs sosial media yaitu Instagram dan facebook dengan serius. Sebut saja, wanita berkulit hitam langsat ini acap di panggil Ainun. “Titutt. .”

       Suara notifikasi WhatsApp terdengar, namun Ainun merasa asing dengan nomor yang merayap masuk ke kolom chatingnya. Dengan dahi yang mengerut, ia memutuskan untuk membuka pesan singkat itu yang tertera kata  “Hi “. Karena sisi lain dari diri Ainun yang sangat uncare terhadap sesuatu yang bekonotasi tidak penting, tanpa berfikir panjang terhadap sebuah pesan yang tidak jelas, ia mengabaikan pesan itu dan menutup ponselnya lantas beranjak bangkit dari tempat tidurnya untuk bersiap siap ke kamar mandi dan bersiap berangkat ke kampus.

      Mungkin sekitar dua puluh menitan ia butuhkan untuk mandi dan bersolek diri, akhirnya ia siap untuk beragkat ke kampus. Tas bermotif folkadot favoritnya telah ia kenakan dalam gendongan sambil berjalan keluar kamar. Sesaat seketika ia ingin mengambil sepatu, untuk kedua kalinya terdengar kembali suara Notifikasi whatsApp, fikirnya adalah notif dari seseorang absurd yang sama, jadi Ainun tidak begitu bergeming untuk hanya sekedar memeriksanya, namun ia mengabaikannya untuk kedua kali dan memilih untuk segera segera berangkat dan menunggu kendaraan umum di halte dekat rumahnya. Tatkala sedang asyik menatap riuhnya kendaraan pagi itu untuk menunggu Mang angkot langganannya, mendadak terdengar suara siulan nakal dari sosok lelaki yang ia sendiri juga tidak mengenalnya. Tanpa tahu malu, lelaki itu mendekati Ainun dan menyapanya 

Hiiii cantikk ” matanya berkedip singkat sebelah menambah kegenitan wajahnya, sembari menjulurkan tangannya dengan percaya diri ia memperkenalkan namanya, “Namaku Irhaz, kamu siapa nih ??” 

Ainun sekalipun tidak menjatuhkan sedikit tatapannya kepada pria itu, sepanjang itu ia hanya memasang wajah dingin dan enggan menjawab pertanyaannya, lirikannya seolah berujar,

 “Ihh apaan sih nih orang nggak kenal juga, sok akrab “ 

Cuman kenalan doang emang salah ya ??” Seakan Irhaz bisa membaca isi hatinya. Perlahan Ainun merasa iba dengan pria itu, lagian toh dia tidak macem-macem atau bahkan menjahatinya. Akhirnya ia pun menjulurkankan tangannya lalu menyebutkan namanya “Ainun” sahutnya membalas, namun wajahnya tetap saja tertekuk tidak berubah. “Yaah kenapa wajahnya masih cemberut gitu, sayang loh cantiknya ilang”

Tidak ada jawaban

Ehhhh… Ainun kamu kuliah yah ? di kampus mana ? Jurusan apa ?? Kali aja kita sama”

Irhaz masih berusaha membangun sebuah percakapam, namun Ainun masih enggan untuk menjawabnya, sesekali ia hanya menganggukan dang menggelengkan kepala sebagi sebuah jawaban atas pertanyaan. Irhaz hanya tersenyum melihat itu semua, senyumnya seakan berkata bahwa memang untuk meluluhkan hati seorang wanita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setelah lama mendiamkan percakapan pria itu, angkot langgananan yang ia tunggu datang. Tanpa sebuah pamit Ainun segera naik ke angkot, meninggalkan sosok pria yang baru ia kenalnya sendiri di halte. Sebenarnya meraka adalah mahasiswa sekampus, hanya saja Irhaz setahun lebih dulu disana, ia terkenal sebagai mahasiswa yang mempunyai prestasi yang tidak bisa diremehkan. Menyadari sikap yang ditunjukkan oleh Ainun tadi, Irhaz lebih memilih naik ke angkot lain, ia tidak ingin terlalu lama membuat Ainun merasa risih. 

       Tepat pukul 08 .10, Ainun tiba di kampus, lantas ia beranjak turun dari angkot dan berjalan ke kelas. Namun tiba-tiba tanpa disengaja, ia berpapasan dengan Irhaz. Tak ada ujaran dari keduanya, Ainun bergegas menuju kelas karena matakuliahnya segera dimulai. Setiba di kelas ia duduk di bangkunya. Terdengar derap langkah dosen memasuki kelasnya, tak lama berselang beliau mengucapkan salam, serentak mahasiswa menjawab “Waalaikumussalam Wr. Wb “ –kelas fisika dimulai. Di tengah panasnya sesi pertanyaan, seluruh kelas dibuat pecah fokus dengan suara seoang mahasiswa yang melontarkan sebuah salam. Ternyata itu Irhaz dan kedua temannya.

Oh tuhann, mengapa harus bertemu wajah menyebalkan itu lagi sih” batin Ainun dalam hati.

Setelah meminta izin ke dosen terkait tujuannya, ia kemudian mempresentasikan organisasinya, yaitu UKM Futsal. Sepanjang pemaparannya Ainun hanya membuang muka tak perduli. 

Nun, dengerin tuh !! Asal kamu tahu dia adalah kapten futsal ternama di kampus kita, udah sering ia menjuarai liga antar kampus !!” Sergap teman Ainun yang mendapatinya tidak memperdulikan pria itu. Mendengar itu, ia sedikit merasa bangga dengan prestasi yang pria itu telah capai. Ia merasa bersalah telah berburuk sangka terhadapnya. Usai presentasi Irhaz dan kedua temannya pamit keluar, diskusi kembali dilanjutkan. Sekejap kemudia suara notifikasi whatsapp lagi lagi terdengar dari handphone, ia reflek membuka, ternyata masih dengan nomor yang sama. Hatinya dibuat bertanya-tanya, siapa gerangan ?? Apa perlunya dan dari mana ia mendapatkan nomornya ??


TO BE CONTINUED


Malang, 9 Oktober 2020

Pondok Pesantren Darun Nun 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp