ANTARA GABUT DAN RINDU

Oleh : Meisya Eva Natasya

 

Seusai ta’lim pagi aku kembali dengan tergesa. Berlari dengan cepat
layaknya lari maraton. Disela-sela kembali kepondok diarah barat terdapaat
pegunungan yaang tertutup asap sebab kemarau panjang karena hujan yang ditunggu
tak kunjung datang. Burung-burung bernyanyi dengan merdu dan diiringi pepohonan
dan rerumputan yang sedang menari-nari dengan lemah gemulai. Pada hari itu
jadwal kuliahku tidak terlalu padat tetapi setiap harinya selalu berangkat
pukul 06.30. eh tong sarapan dulu kali ya, nasi mana nasi, siapa di kamar
mandi? lama amat, eh siapa yang pesen grab? Ane..ane.., berapa orang? Pesen
yang 4 aja, siapa yang mau ikut? Ane..ane..ane., kerudung mana kerudung, eh
belum disetrika, setrika dulu kali ya, sebelum bapak grab datang, mobilku
datang, ayo cepat, kerudungnya dibenerin di mobil saja, pakek sepatu dimobil.
 Seketika pondok berubah
menjadi pasar dan selang beberapa menit kembali seperti kuburan. Tiap hari
antar jemput pakai mobil pribadi layaknya anak sultan. Sampai kampus pukul
06.45. sampai kelas dosen sedah datang. Perlahan ku buka daun pintu  sembari mengucapkan salam dan tersenyum
kemudian mengucapkan permohonan maaf kepada beliau. Hari ini hanya 2 matkul
saja, tpi entah aku merasakan hari itu sangat capek sekali sehingga
kuurungkan  niat ku untuk pulang
menjelang senja kemudian aku bergegas untuk pulang.
 Sesampainya di pondok
langsung kurebahkan badan ini diatas kasur yang empuk, selang beberapa menit
tak sadar ku sudah terletap dalam mimpi. Minggu lalu orang tua ku mentelvon dan
bertanya kapan bisa pulang? Kemudian ku jawab insyaallah minggu depan. Dan ternyata
minggu depan kegiatan semakin penuh dan kurungkan niat untuk pulang.
Sampai-sampai kuterbawa mimpi, mimpi yang mana bukan mimpi bagus melainkaan
mimpi buruk. Hingga keringatku keluar bercucuran membasahi kerudung yang
kupakai ketika terlelap. Kulihat jam tepat pada pukul 14.00, ku bergegas bangun
untuk ambil air wudlu karna ku ingat belum menunaikan sholat. Sesudah sholat
kuberdoa agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Betapa kumerindukan sesosok
pahlawan tak bersyap sehingga semua itu terbawa oleh mimpi.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp