![]() |
| Source Image: Anchor.fm |
Oleh
Siti Rahmatillah
Sekarang,
saat aku tau, kalau kamu juga punya rasa yang sama. Aku merasa tak bahagia.
Merasa semuanya sedang tidak baik-baik saja. Percakapan yang semula asyik di
layar sentuh kini mulai asing dan memberikan nuansa yang berbeda, persis saat
pertama kita bertemu. Lagi-lagi aku semakin terjebak dengan rasa yang tak
biasa. Kesal, sial dan sangat meresahkan.
Aku
harap, itu bukan rasa cinta yang harus kamu ungkapkan sekarang. Tetapi,
semuanya dipendam dan selalu diikatkan di setiap doa. Sama, seperti aku yang
selalu menenangkan pikiranku terhadap sang pemilik cinta. Dan kalau bisa, cukup
saling merasa. Nanti, di saat semuanya sudah siap, mari kita saling berkata. Ku
harap, kita masih saling menyebut nama di setiap doa.
Harusnya
aku bahagia, jika kau mengungkapkan sekarang dengan memilih jeda yang tidak
terlalu lama. Tapi aku takut, takut rasa cinta malah mengakhiri semuanya.
Persahabatan yang kita bangun dengan saling menguatkan, bercerita canda tawa,
seketika sirna karena rasa. Sekali lagi aku takut, takut tak bisa hahaha
hihihi. Karena mengenalmu bukan hanya soal hahaha hihihi semata, tetapi selalu
terselip edukasi, mengerti, memotivasi dan menginspirasi. Cerah di kala suram,
bersinar di kala kelam dan menuntun jika tersesat di tengah jalan.
Semoga
saja sesuatu yang ingin kau katakan adalah berita bahagia dengan mengatakannya
pada yang lain. Dengan begitu aku lega walaupun terluka. Tidak mengapa asalkan
kau bahagia dan masih menjadi rencana untuk memilikinya, tapi jika benar nyata,
aku ikhlas. Karena mencintaimu adalah soal ketulusan. Dan jika yang dituju
adalah ketulusan, maka mustahil merasakan kekecewaan.
Bima,
24 Februari 2021
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







