Berkenalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)

Oleh: Abieza Alem Muhammad 

 

Sustainable Development Goals disingkat SDGs atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan  Pembangunan Berkelanjutan, adalah sebuah program yang diusung oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Program ini merupakan sebuah rencana global yang disepakati oleh para  pemimpin dunia untuk mengakhiri permasalahan-permasalahan utama dunia seperti  kemiskinan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Program-program  SDGs diharapkan akan terealisasikan pada tahun 2030. Program SDGs ini disepakati pada 25  September 2015 dan merupakan kelanjutan dari program Millenium Development Goals  (MDGs) yang pernah disepakati sebelumnya. 

Program SDGs bercita-cita mendorong pembangunan berdasarkan Hak Asasi Manusia (HAM),  kesetaraan sosial dan ekonomi, dan lingkungan hidup. Terdapat 17 tujuan SDGs yang  mendukung pembangunan berdasarkan HAM, kesetaraan sosial dan ekonomi, dan lingkungan  hidup, yaitu:

Tanpa Kemiskinan (No Poverty)

Penghapusan kemiskinan dalam segala bentuknya tetap menjadi salah satu tantangan  terbesar yang dihadapi umat manusia. Sepanjang 1990 – 2015, populasi orang yang  hidup dalam kemiskinan ekstrem berkurang hingga setengah. Di tahun 2015, terdapat  736 juta orang yang berpenghasilan hanya 1.90 USD per hari. Maka dari itu, SDGs  berkomitmen untuk mengakhiri kemiskinan pada tahun 2030.

Tanpa Kelaparan (Zero Hunger)

Kelaparan masih menjadi permasalahan utama yang dihadapi dunia hari ini. Pada tahun  2017, terdapat 821 juta orang yang mengalami kelaparan di seluruh dunia. Di tahun  yang sama, tercatat sekitar 90 juta anak-anak mengalami malnutrisi.

Kesehatan dan Kesejahteraan (Good Health and Well-Being)

PBB memberikan perhatian kepada hal ini dikarenakan masih banyak manusia sampai  hari ini yang hidup di luar standar kesehatan yang telah ditetapkan oleh para ahli  kesehatan dan hidup jauh dari kesejahteraan. Selain itu, angka harapan hidup di negara negara tertinggal dan berkembang juga mengalami penurunan, di antaranya disebabkan  oleh kasus HIV dan malaria seperti yang terjadi di banyak negara Afrika.

Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

Sampai hari ini, masih banyak manusia yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak  bahkan tidak mendapatkan pendidikan sama sekali. Alasannya beragam, ada yang  karena keterbatasan biaya, bahkan ada juga yang disebabkan menurunnya minat untuk  menjadi pengajar dikarenakan kecilnya pendapatan yang diterima oleh profesi guru.

Kesetaraan Gender (Gender Equality)

Kesetaraan Gender masih menjadi perhatian yang cukup serius khususnya di negara negara dunia ketiga yang mana budaya patriarki masih mengakar kuat. Dalam budaya  patriarki, perempuan adalah kaum yang sangat tertindas. Mereka hanya dipandang  sebagai objek yang eksistensinya dianggap sebagai pemuas nafsu semata. Bukan hanya  perempuan, bahkan laki-laki pun sebenarnya sangat dirugikan dalam budaya patriarki.  Mereka dituntut untuk tidak boleh menampakkan emosinya dan akan dianggap lemah  apabila melakukannya. Tentu saja hal itu bisa merusak mental kedua belah pihak baik  perempuan maupun laki-laki.

Air Bersih dan Sanitasi Layak (Clean Water and Sanitation)

Masih banyak manusia yang kesulitan mengakses air bersih dan mendapatkan sanitasi  yang layak. Hal ini banyak terjadi di negara-negara Afrika dan juga negara-negara yang  mengalami konflik berkepanjangan seperti di Timur Tengah.

Energi Bersih dan Terjangkau (Affordable and Clean Energy)

Penggunaan energi terbarukan terus digaungkan dan dikembangkan setiap tahunnya oleh PBB maupun lembaga-lembaga lainnya terkhusus lembaga-lembaga lingkungan  hidup untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang merusak ozon dan  menyebabkan perubahan iklim yang ekstrem di seluruh dunia. Selain itu, energi-energi  yang dikembangkan juga ditekankan supaya dapat dijangkau oleh seluruh kalangan.  Hal itu berangkat dari fenomena hari ini dimana energi yang masif digunakan  merupakan energi fosil yang tidak bersih dan tidak dapat dijangkau oleh semua  kalangan.

Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth)

SDG 8 mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, tingkat produktivitas  yang lebih tinggi, dan inovasi teknologi. SDG 8 juga mendorong kewirausahaan dan  penciptaan lapangan kerja yang merupakan kunci untuk ini, seperti halnya langkah- langkah efektif untuk menghapuskan kerja paksa, perbudakan, dan perdagangan  manusia. Dengan target-target ini dapat diketahui tujuan SDG 8 adalah untuk mencapai  pekerjaan penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak, bagi semua manusia baik  pria maupun wanita pada tahun 2030.

Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (Industry, Innovation, and Infrastructure)

Investasi dalam infrastruktur dan inovasi adalah pendorong utama pertumbuhan  ekonomi dan pembangunan. Dengan lebih dari setengah populasi dunia kini tinggal di  wilayah urban, maka transportasi massal dan energi terbarukan menjadi semakin  penting, begitu juga dengan pertumbuhan industri baru dan teknologi informasi serta  komunikasi. Lebih dari 4 miliar orang masih tidak dapat mengakses Internet, 90  persennya berasal dari negara berkembang.

Pengurangan Kesenjangan (Reduced Inequality)

Ketidaksetaraan pendapatan sedang meningkat. Hal itu dibuktikan dari 10 persen orang  terkaya di dunia memiliki hingga 40 persen dari pendapatan global sedangkan 10 persen orang termiskin hanya menghasilkan antara 2 hingga 7 persen dari pendapatan global.

Kota dan Pemukiman Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities)

Lebih dari setengah populasi manusia hari ini tinggal di perkotaan. Pada tahun 2050,  dua pertiga dari seluruh umat manusia atau sekitar 6,5 miliar orang akan tinggal di  daerah perkotaan. Pembangunan berkelanjutan dapat dicapa secara signifikan dengan  mengubah cara dalam pembangunan dan pengelolaan ruang perkotaan. Pertumbuhan  kota yang pesat sebagai akibat dari peningkatan populasi dan migrasi yang meningkat  telah menyebabkan ledakan mega-kota, terutama di negara-negara berkembang, dan  daerah kumuh menjadi fitur yang semakin signifikan dari kehidupan perkotaan.

Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab (Responsible Consumption and  Production)

Sebagian besar populasi dunia masih mengkonsumsi lebih dari cukup untuk memenuhi  kebutuhan dasar mereka. Pengurangan setengah dari limbah makanan per kapita di  level pengecer dan konsumen juga penting untuk menciptakan rantai produksi dan  pasokan yang lebih efisien. Ini dapat membantu dengan keamanan pangan dan  mengarah pada ekonomi yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya.

Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)

Seluruh negara hari ini mengalami dampak drastis dari perubahan iklim. Emisi gas  rumah kaca hari ini lebih tinggi 50 persen dibandingkan tahun 1990. Pemanasan global  menyebabkan perubahan yang berlangsung lama pada sistem iklim bumi yang  mengancam konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki jika manusia tidak segara  bertindak.

Ekosistem Perairan (Life Below Water)

Lebih dari tiga miliar orang bergantung pada keanekaragaman hayati laut dan pesisir  untuk mata pencaharian mereka. Namun, saat ini kita melihat 30 persen stok ikan dunia  dieksploitasi secara berlebihan, mencapai tingkat di mana mereka dapat menghasilkan 

hasil yang berkelanjutan. Laut juga menyerap sekitar 30 persen karbon dioksida yang  dihasilkan oleh manusia, dan kita melihat peningkatan 26 persen dalam pengasaman  laut sejak awal revolusi industri. Pencemaran laut, yang sebagian besar berasal dari  sumber-sumber daratan, mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, dengan rata-rata  13.000 potongan sampah plastik dapat ditemukan di setiap kilometer persegi lautan.

Ekosistem Daratan (Life on Land)

13 juta hektar hutan ditebang setiap tahun sementara penurunan kualitas lahan kering  yang terus-menerus telah menyebabkan penyerbukan 3,6 miliar hektar, yang secara  tidak proporsional mempengaruhi masyarakat miskin. Meskipun 15 persen lahan  dilindungi, keanekaragaman hayati masih berada dalam risiko kepunahan. Hampir  7.000 spesies hewan dan tumbuhan telah diperdagangkan secara ilegal. Perdagangan  satwa liar tidak hanya merusak keanekaragaman hayati, tetapi juga menciptakan  ketidakamanan, memicu konflik, dan memupuk korupsi.

Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice, and Strong  Institutions)

Kekerasan bersenjata dan ketidakamanan telah menghambat perkembangan suatu  negara, mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dan sering kali mengakibatkan  penderitaan yang dirasakan oleh beberapa generasi. Kekerasan seksual, kejahatan,  eksploitasi, dan penyiksaan juga umum terjadi di tempat-tempat di mana ada konflik atau tidak ada hukum yang berlaku. Dalam kasus seperti itu, negara-negara harus  mengambil langkah-langkah untuk melindungi warganya yang paling rentan.

Tujuan  Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk mengurangi segala bentuk  kekerasan secara signifikan dan bekerja sama dengan pemerintah juga masyarakat  untuk mengakhiri konflik dan ketidakamanan. Mempromosikan hukum dan hak asasi  manusia adalah kunci dalam proses ini, begitu juga dengan mengurangi arus senjata  ilegal dan memperkuat partisipasi negara-negara berkembang dalam lembaga-lembaga  pemerintahan global.

Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)

Dunia di masa kini lebih terhubung daripada di masa lampau. Dengan meningkatkan  akses terhadap teknologi dan pengetahuan, hal tersebut sangat memuluskan jalan untuk  berbagi ide dan mendorong inovasi. Selain itu, mengkoordinasikan kebijakan untuk  membantu negara berkembang mengelola utangnya serta mempromosikan investasi  bagi negara-negara yang paling tidak berkembang juga tak kalah penting untuk  pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan. 

Referensi: 

United Nations Development Programme: THE SDGS IN ACTION 

Detik.com: Apa itu SDGs? Ini Pengertian dan 17 Tujuan Globalnya. Oleh Nimas Ayu Rosari,  2023 

Kompas.com: SDGs: Pengertian, Sejarah, dan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Oleh  Danur Lambang Pristiandaru, 2023

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp