Cara Menumbuhkan Minat Menulis bagi Mahasiswa: 6 Langkah Sederhana

Cara Menumbuhkan Minat Menulis bagi Mahasiswa: 6 Langkah Sederhana

Oleh: Ahmad Rofiqi Hasan

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Menulis merupakan keterampilan yang diasah secara berulang dalam waktu yang lama dengan konsisten. Menulis sebenarnya sudah diajarkan semenjak kita memasuki jenjang pendidikan pertama di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga bertahap ke tingkat Sekolah Dasar (SD) dan seterusnya. Namun, menulis di setiap tingkatnya mempunyai tingkatan capaian yang berbeda-beda.

Lantas, apa yang membedakan antara menulis di tingkat Sekolah Dasar dan menulis di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau perguruan tinggi? Tentu saja, perbedaan tersebut terletak pada tujuan, kompleksitas isi, struktur berpikir, serta gaya penulisan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin bertambah dan kompleks juga tingkat menulisnya.

Di tingkat pendidikan paling tinggi (perkuliahan), itulah tingkat tertinggi dalam menulis dibanding tingkat-tingkat di bawahnya. Pada tingkat perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menulis dengan benar secara tata bahasa, tetapi juga harus mampu berpikir kritis, menyusun argumen logis, serta mendukungnya dengan data dan referensi yang valid. Penulisan pada tingkat ini mencakup berbagai jenis teks akademik seperti esai, makalah, laporan penelitian, proposal, hingga skripsi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menguasai struktur penulisan ilmiah, pengetahuan tentang Kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (KBII) dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), serta kemampuan dalam menyusun kutipan dan daftar pustaka secara tepat.

Sayangnya, Indonesia mempunyai tingkat literasi yang cukup rendah dibanding negara-negara tetangganya. Tingkatan literasi ini bisa dilihat pada capaian dan kemampuan mahasiswa dalam menulis dan membaca. Masih banyak di antara mahasiswa bahkan dosen yang masih mempunyai literasi yang rendah untuk membaca, padahal membaca bisa memperkaya pengetahuan dan begitu juga menulis.

Menulis itu memang sulit bagi siapapun yang belum terbiasa menulis, karena menulis bukanlah kemampuan yang bisa diturunkan secara turun-temurun oleh orang tua layaknya harta dan kemiripan dalam fisik. Namun, kemampuan menulis diperoleh dari seberapa sering kita menulis (jam terbang).

Menulis skripsi adalah tahapan paling akhir dalam menyelesaikan studi strata satu. Namun, masih sering kita temui di antara kita atau mereka yang masih belum bisa menulis dengan benar bahkan tidak mempunyai motivasi menulis. Padahal, kemampuan menulis adalah kemampuan mendasar bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan cinta dalam menulis? Jika merujuk pada jawaban yang simpel, maka jawabannya adalah menulis. Cara mencintai menulis ya menulis itu sendiri. Karena tidak ada cara untuk menyelesaikan sebuah tulisan kecuali harus menulis.

Dulu, saya termasuk orang yang susah dalam menulis, menulis apapun itu. Sampai suatu saat saya ditakdirkan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren bersamaan dengan kuliah. Pesantren Darun Nun mengajarkan bahwa menulis itu mempunyai energi positif untuk membangun jiwa dan mental.

Tidak sebentar untuk menumbuhkan cinta tersebut, karena diperlukan konsistensi, daya juang (mau soro), dan semangat. Maka di sini saya berusaha untuk menyimpulkan langkah-langkah sederhana untuk menumbuhkan cinta dalam menulis:

  1. Menulislah dari Hal Sederhana

Menulis itu seperti naik sepeda; pada awalnya kita tidak bisa langsung melaju dengan cepat, tetapi harus diawali dengan ayunan kecil sehingga tercipta ayunan yang cepat dan kencang. Maka, seperti itulah cara sederhana dalam memulai menulis. Tulislah hal-hal sederhana, kecil seperti pengalaman, kegiatan harian, atau diari untuk memancing kemampuan dalam menulis.

  1. Hapuskan Perasaan “Tulisan Harus Bagus”

Mungkin perasaan ini biasanya menghinggapi para penulis pemula. Bagaimana tidak, mereka akan merasakan malu dan insecure ketika tulisan dibaca oleh orang lain. Padahal, semua hal itu terjadi bukan karena langsung bagus, tetapi diawali dengan hasil yang biasa saja. Waktu dan usaha adalah bukti kesuksesan seseorang.

  1. Membaca Sebagai Bahan Tulisan

Seorang prajurit sebelum berperang harus menyiapkan amunisi senjatanya supaya bisa menembak musuh. Begitu juga dengan menulis; menulis membutuhkan bahan untuk memperkaya tulisan. Membaca dapat memberikan ide-ide tulisan tanpa harus diminta. Selain itu, dari membaca kita belajar tentang gaya kepenulisan, bahasa, dan ide tulisan yang baru.

  1. Bangun Komitmen, Bukan Event Menulis

Seperti perjumpaan yang selalu dirindukan setiap waktu, semakin sering bertemu maka semakin besar rasa cinta. Ini juga berlaku pada menulis; menulis tidak hanya dilakukan saat mood bagus saja. Menulis harus dilakukan setiap saat dan setiap kali menjumpai waktu luang. Semakin tinggi jam terbang menulis, semakin bagus juga kualitas tulisannya. Jika menulis masih berpatokan pada event atau perintah, maka akan sulit jika sudah tidak ada perintah atau event lagi.

  1. Bergabung dengan Komunitas Menulis

Bergabung dengan komunitas menulis dapat memberikan dukungan dan motivasi. Dalam komunitas, kita bisa saling berbagi pengalaman, mendapatkan umpan balik, dan belajar dari penulis lain. Lingkungan yang positif akan mendorong kita untuk terus menulis dan berkembang.

  1. Tetapkan Tujuan Menulis

Menetapkan tujuan yang jelas dalam menulis dapat membantu kita tetap fokus dan termotivasi. Apakah itu menulis satu artikel per minggu, menyelesaikan bab skripsi dalam sebulan, atau menulis di blog secara rutin, tujuan yang jelas akan memberikan arah dan semangat.

Semoga enam tips sederhana di atas bisa memberikan pencerahan dan semangat untuk menulis produktif. Dengan konsistensi dan dedikasi, cinta menulis akan tumbuh dan berkembang, membawa kita pada pencapaian yang lebih tinggi dalam dunia literasi.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp