HUJAN DI BULAN NOVEMBER

Oleh: AyJk

          Hiruk pikuk kota
Malang yang sungguh nantinya tidak bisa aku dapatkan lagi dilain kesempatan dan
tempat. Kotanya yang dingin, sejuk, jauh dari sampah, sungai yang bersih,
makanannya yang menggairahkan, mulai dari lalapannya, mie ayamnya yang enak,
ciloknya, sempolnya, bakso, soto ayam hummm…. masih banyak lagi yang perlu
kucoba. Mungkin yang sangat berbeda dari makanan ditempat lain adalah harganya.
Hehehe harganya lumayan murah untukku dibandingkan dengan kota lain.  Heyyy kalian jangan berpikir aku di sini
hanya untuk makan saja, aku hanya menceritakan hal yang berbeda di sini. Apa
yang membuatku tidak betah di Malang? Rasanya tidak ada! Semuanya terasa
lengkap di sini kampusnya, wifi tanpa batas, masjid yang mendamaikan sekali,
perpustakaan yang membuatmu tetap tinggal di situ. Yaaa semuanya tersedia. Di
hari libur kita bisa pergi ke tempat wisata yang bermacam-macam di sini… wisata
petik buah, pantainya, berbagai macam wahana, air terjunya, gunungnya… ummm…
semua ada, tinggal kita menyiapkan dompet tebal saja.
          Yaaa…. Kurang lebih
1 tahun lebih aku berada di sini, aku sungguh terbawa suasana, terlalu menikmati
kehidupan ini. Aku memang menemukan banyak hal tetapi bukan itu yang sebenarnya
ku cari. Aku haus akan perubahan, aku masih belum mengenal siapa diriku. Waktu
itu dihari pertama menginjak dunia kampus aku sungguh bersemangat untuk memulai
segalanya. Semangat menjemput mimpi-mimpiku yang ku tulis dengan rapi di buku
kecil berwarna merah di masa SMA. Tetapi sampai sekarang aku merasa masih belum
menemukan semuanya. Sekedar mengulas aku sungguh memimpikkan sesuatu yang dapat
merubahku. Dunia kampus yang begitu aku impikkan sangat berbeda dengan yang
ditemukan sekarang. Aku awalnya sangat bingung mengapa ada beberapa yang tidak
mengenakan jilbab di sini? Bukankah kampus ini adalah kampus islam? Itu
pertanyaan awalku. Pertanyaan kedua muncul mengapa hampir tiap minggu ada
konser musik? Kenapa sedikit sekali kegiatan-kegiatan agama di sini? Bahkan
masjid besar itu dilantai 1 di gunakan untuk untuk latihan menari oleh
mahasiswanya. Lalu dimana letak penerapan syariat islam di sini. Kenapa hal-hal
yang kupahami tidak
dibesyariat Islam malah kutemukan di sini. Banyak pertanyaan muncul
yang sampai sekarang belum ada yang dapat memberikan jawaban yang membuatku
yakin.
          Aku ingat pesan
terakhir dari guru SMAku sebelum aku sampai di sini. “ masuklah semua
organisasi kampus karena disitulah sebenarnya kamu belajar”. Ku ingat baik-baik
pesan itu. Semester 3 aku mulai memasuki himpunan mahasiswa jurusan, jujur saja
tidak banyak yang kudapatkan. Entahlah apakah ini karena diriku atau orang
disekitarku. Semuanya berjalan terasa biasa-biasa saja. Semester 3 aku putuskan
untuk memasuki organisasi terkenal di kampus ini. IMM namanya (Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah) sebuah organisasi otonom milik Muhammadiyah yang merupakan
organisasi islam terbesar di Indonesia. Sebelum masuk di sini setiap calon
kader termasuk diriku harus mengikuti darul arqam dasar. Dan sebelum itu kami
harus mengikuti pembukaan DAD di salah satu aula kampus. Jujur saja kawan
bukannya aku sok suci dan merasa paling beriman di situ. Kesan pertama saat aku
masuk di sini adalah aku mendapatkan acara hiburan yang di isi dengan lagu
percintaan, aku lupa tepatnya itu lagu apa, kemudian di tambah dengan pakaian
dari immawatinya tidak mencerminkan organisasi Islam, pergaulannya yang
cenderung bebas. Lalu perubahan apa yang aku dapatkan di sini.
          Selama berada di
kota ini aku belum menemukan sosok yang dapat ku gugu dan kutiru. Yang
kata-katanya berupa hikmah, tingkah lakunya menjadi kiblat, pemikirannya yang
dapat menjadi motivasi. Aku begitu merindukkan sosok yang seperti itu. Apalah
daya aku hanyalah manusia akhir jaman yang sulit mendapatkan semua ini, aku
hanya manusia biasa yang imannya mudah goya dan naik turun. Kadang aku berpikir
mungkin inilah ujian Allah bagi hambanya yang hidup pada masa ini. Yang
beginilah kehidupan di kota yang membuat orang betah saat menyinggahinya.
Kehidupan yang jauh dari semangat berorganisasi, jauh dari kegiatan-kegiatan
agama, jauh dari senior-senior tangguh yang siap mendidik adik barunya. Aku
hanya lah orang bingung di tengah banyaknya mimpi namun tidak tahu hendak
kemana.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp