IQ Bukan Segalanya: Berdamai dengan Diri, Mengoptimalkan Potensi
Oleh: Ilham Fajar Ramadani
Tingkatan IQ (Intelligence Quotient) pertama kali dikenalkan oleh Alfred Binet psikolog asal Prancis bersama Théodore Simon pada tahun 1905. Kemunculan konsep ini pada awalnya ditujukan untuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam pembelajaran. Namun seiring dengan perkembangan zaman konsep ini justru disalahgunakan sebagai ajang “adu kepintaran”. Bahkan, muncul stereotip orang dengan IQ rendah dipandang bodoh bahkan disamakan dengan hewan. Secara tidak langsung hal ini malah menjadi bahan intimidasi dan diskriminasi sosial.
Lebih lebih di dunia maya sekarang sering terjumpai individu-individu yang memamerkan skor IQ nya dan mendapat respon yang baik dari pada netizen. Efeknya mahajana yang diberkati IQ rendah mulai menyalahkan diri sendiri. Bahkan ada yang sampai mencela orang tuanya sebab telah dilahirkan dalam keadaan ber-IQ rendah. Dogma ini semakin kuat dengan banyaknya statement “PINTAR ADALAH SEGALANYA”. Padahal belum tentu kecerdasan adalah kunci kesuksesan.
Kabar baiknya IQ dapat ditingkatkan melalui beberapa hal; Pertama dengan stimulasi kognitif aktif (mengerjakan soal logika, catur, atau puzzle yang menantang secara konsiten. Kedua dengan olahraga fisik, ternyata aktivitas aerobik terbukti meningkatkan aliran darah ke otak dan mendukung neuroplastisitas. Ketiga, kualitas tidur yang cukup (7-9 jam) hal ini sangat krusial karena otak mengonsolidasi memori dan “membersihkan” racun metabolik saat tidur. Keempat nutrisi otak yang cukup asupan omega-3 (ikan, kacang-kacangan), antioksidan (buah & sayur), dan menghindari gula berlebih. Membantu meningkatkan fungsi kognitif yang lebih baik. Kelima manajemen stress. Stres kronis terbukti merusak area hippocampus (terkait memori dan pembelajaran). Yang terakhir adalah interaksi sosial dan diskusi intelektual, diskusi mendalam dengan orang yang punya perspektif berbeda melatih kemampuan berpikir kritis dan fleksibilitas kognitif. Namun perlu digaris bawahi faktor tinnginya IQ didominasi pengaruh genetik.
Namun tingginya skor IQ bukanlah segalanya, setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda. Tetap menjadi peracaya diri merupakan hal yang penting agar tidak membandingkan diri dengan orang lain. Jika ragu dengan diri sendiri lantas bagaimana orang lain mau menghargai (ngregani) kita? Dalam prespektif bimbingan konsling penulis menjumpai konsep mitigasi kecemasan diri yakni, Passionate; mampu berdamai, menikmati, dan memahami diri sendiri. Apabila sudah mampu menemukenali diri selanjtnya adalah Produktive; Cerdas, kreatif, dan memaksimalkan potensi diri. Terakhir adalah Compassionate tahap dimana seseorang merasi dirinya tanpa menengok ke-kana dan ke-kiri melihat kebahagian orang.
HILANGKAN INSECURE DAN PERBANYAK BERSYUKUR






