Ironi Negeri Kaya: Punya Segalanya, Salah Urusnya di Mana-mana

Oleh: Nazar Junio

Kekayaan alam Indonesia sejatinya luar biasa melimpah, bahkan sering kali lebih besar dari yang kita bayangkan. Negeri ini punya hutan tropis terluas ketiga di dunia dan garis pantai terpanjang kedua, yang artinya potensi laut kita begitu dahsyat. Perut buminya pun penuh dengan harta karun seperti emas, nikel, bauksit, hingga minyak dan gas, yang membuat Indonesia menjadi pemain penting di tingkat dunia. Semua kekayaan ini adalah harta milik seluruh rakyat, yang seharusnya menjadi modal utama agar kita semua bisa hidup makmur.

Namun, kenyataannya sungguh pahit. Kekayaan itu justru jadi biang kerok masalah karena pengerukan yang serakah dan serampangan. Hutan kita terus dibabat, setiap tahunnya ratusan ribu hektar lenyap dan sebagian besar terjadi di dalam konsesi perusahaan tambang dan sawit, memicu bencana banjir dan longsor di mana-mana. Masalah ini diperburuk oleh urusan sampah yang kacau balau. Bayangkan saja, TPA Bantar Gebang di Bekasi setiap hari menerima lebih dari 7.500 ton sampah dari Jakarta. Sementara negara lain seperti Korea Selatan sudah mendaur ulang lebih dari 60% sampahnya, kita masih berkutat menimbunnya hingga menjadi bom waktu.

Yang lebih tragis, keuntungan dari pengerukan kekayaan ini jarang sekali dinikmati oleh rakyat. Sebagian besar aset penting negara ini masih dikuasai asing dan keuntungannya lari ke luar negeri, sementara kita hanya menanggung sengsara. Masyarakat yang mencoba melawan untuk mempertahankan haknya justru sering menghadapi bahaya. Kisah aktivis Rudolfus Oktavianus Ruma hanyalah salah satu contoh. Menurut catatan lembaga seperti WALHI, setiap tahun ada puluhan kasus kekerasan dan kriminalisasi yang menimpa para pejuang lingkungan, sering kali menggunakan pasal karet UU ITE untuk membungkam mereka.

Paradoks yang tak kalah menyesakkan, secara harfiah, adalah soal polusi udara. Hampir setiap hari, kota-kota besar diselimuti kabut polusi. Faktanya, lebih dari 60% listrik di Indonesia masih dihasilkan dari PLTU batu bara, sumber polusi paling kotor yang asapnya meracuni jutaan warga dengan partikel berbahaya seperti PM2.5. Ironisnya, saat kesehatan rakyat terancam polusi, kebijakan pangan kita pun seolah tak peduli gizi. Kritik Dr. Tan Shot Yen sangat tepat sasaran. Laut kita punya potensi ikan lebih dari 12 juta ton per tahun, tapi tingkat konsumsi ikan kita justru kalah dari negara tetangga seperti Malaysia. Akibatnya, kita menjadi negara bahari dengan angka stunting anak yang masih sangat tinggi.

Dari semua cerita tadi, mulai dari tambang yang merusak, sampah yang menumpuk, hingga udara yang meracuni, terlihat jelas ada satu benang merah: negara seperti tidak becus mengurus kekayaan alamnya sendiri. Aset yang seharusnya jadi fondasi kesejahteraan malah diubah menjadi sumber bencana dan ketidakadilan. Untuk menghentikan semua ini, kita butuh perubahan total dalam cara kerja pemerintah. Pengelolaan sumber daya alam harus dirombak total agar hasilnya benar benar untuk rakyat, tidak merusak alam untuk anak cucu, dan kita sendiri yang memegang kendali, bukan orang lain. Jika tidak, Indonesia akan selamanya terjebak dalam nasib menyedihkan ini: menjadi negeri kaya yang rakyatnya hidup di atas bom waktu kehancuran lingkungan.

Daftar Pustaka

JATAM. (2024, 5 Juni). Hari Lingkungan Hidup: JATAM Desak Transisi Energi Berkeadilan, Hentikan Perampasan Ruang Hidup Warga Atas Nama Transisi Energi. JATAM.org. Diakses dari https://www.jatam.org/press-release/hari-lingkungan- hidup-jatam-desak-transisi-energi-berkeadilan-hentikan-perampasan-ruang-hidup- warga-atas-nama-transisi-energi/

Setya, D. (2024, 29 Februari). Viral Dokter Tan Shot Yen Kritik Menu Makan Siang Gratis: Telur Ceplok Jauh Lebih Bergizi Dibanding Sosis. Detik.com. Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7217596/viral-dokter-tan-shot-yen- kritik-menu-makan-siang-gratis-telur-ceplok-jauh-lebih-bergizi-dibanding-sosis

WALHI. (2024, 31 Januari). Catatan Akhir Tahun 2023 WALHI: Kado Pahit di Ujung Rezim Jokowi, Krisis Iklim dan Oligarki Ancam Pemilu 2024. WALHI.or.id. Diakses dari https://www.walhi.or.id/catatan-akhir-tahun-2023-walhi-kado-pahit-di-ujung- rezim-jokowi-krisis-iklim-dan-oligarki-ancam-pemilu-2024

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp