Jemput Aku Pulang

Jemput Aku Pulang

Oleh : Nyimas Salsabila

 

Ayah, luka ini tak kunjung sirna,
Ayah mengantarku ke tanah rantauan tetapi lupa menjemputku pulang, meninggalkanku
dengan kesedihan yang tak berkesudahan sebab tak bisa memberikan pelukan terakhir
yang seharusnya kau dapatkan, bahkan untuk sekedar ucapan selamat tinggal tak sempat
ku ucapkan.

Kini hari-hariku bagaikan langit yang kelabu, terhampar luas di bawah beban mendung,
seperti pelangi yang tersembunyi di balik awan tebal. Selalu terbayang wajah wanita
yang memikul beban ganda tampak samar, berjuang dengan penuh harapan seperti bunga
yang tetap mekar di tengah badai. Sedangkan aku? Hanyalah bayangan di bawah sinar
rembulan, yang menambah deritanya dengan tangisan yang slalu kutahan.

Sesal tak bertepi, Ayah. Sebab kini pencapaianku tak bisa kau saksikan, tak bisa kau
banggakan seperti dulu kala. Sesal ini terus berbisik dalam batinku, namun aku tetap
bertahan dengan langkah yang tak pernah sempurna. Bukannya enggan mengikhlaskan,
namun kepedihan ini menghujam dalam, melampaui batas-batas yang mampu kuukur.
Ayah, meskipun mata ini tak lagi mampu menangkap sosokmu dengan nyata, hati ini
senantiasa merasakan kehadiranmu walau sementara. Kini doa adalah satu-satunya tali
yang menghubungkan kita, seperti benang yang menyatukan dua dunia yang terpisah,
yang kini hanya menjadi ilusi belaka.

Tuhan, masih bisakah aku menerima doa darinya? Karena dalam doanya kudapatkan
kekuatan untuk menghadapi dunia yang fana, karena dalam doanya aku dapat merasakan
tulusnya cinta yang tak terhingga. Tuhan, sampaikan padanya bahwa aku di sini baik-baik
saja, meski rinduku padanya terasa menyiksa. Tolong sampaikan padanya bahwa aku
bangga menjadi putri kecilnya, meski kini aku hanya bisa mengenang saat kita bersama.
Tuhan, jika kehidupan selanjutnya benar adanya, aku hanya ingin menjadi putri kecilnya,
dengan cinta yang tak pernah pudar dan rindu yang telah ku pendam lama. Kutunggu saat
kita bisa bersama, dalam kedamaian yang tak terpisahkan oleh waktu dan jarak yang
nyata.

Al-Fatihah.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp