Oleh : Muhammad
Anis Fuadi
Anis Fuadi
“Tiada
Kata Terlambat untuk Suatu Kebaikan”. Kalimat tersebut seringkali kita
dengar dan kita yakini benar adanya. Saya pun sudah sedari dulu menerpakan dan
percaya akan kalimat sakti tersebut. Akan tetapi, entah mengapa kalimat ini
perlahan mulai sirna dari benakku bahkan kulupakan saja kalimat itu. Saya
menganggap kalimat tersebut tidak relevan lagi dengan masaku saat ini.
Kata Terlambat untuk Suatu Kebaikan”. Kalimat tersebut seringkali kita
dengar dan kita yakini benar adanya. Saya pun sudah sedari dulu menerpakan dan
percaya akan kalimat sakti tersebut. Akan tetapi, entah mengapa kalimat ini
perlahan mulai sirna dari benakku bahkan kulupakan saja kalimat itu. Saya
menganggap kalimat tersebut tidak relevan lagi dengan masaku saat ini.
Sekarang,
diriku telah memasuki jenjang perkuliahan yang memang telah kurencanakan
jauh-jauh hari dulu. Sejak kecil diriku mencintai kegiatan belajar-mengajar
dimanapun dan kapanpun. Sehingga untuk jauh dari kegiatan belajar mengajar
rasanya sulit bagiku. Sementara kedua orangtuaku tidak jauh berbeda denganku.
Hanya saja beliau berdua tidak menempuh pendidikan hingga bangku perkuliahan.
Dari situ, beliau mencurahkan semangatnya padaku untuk menempuh pendidikan yang
lebih tinggi darinya. Meskipun saya rasa, takkan mampu diri ini untuk melampaui
keluasan ilmu beliau.
diriku telah memasuki jenjang perkuliahan yang memang telah kurencanakan
jauh-jauh hari dulu. Sejak kecil diriku mencintai kegiatan belajar-mengajar
dimanapun dan kapanpun. Sehingga untuk jauh dari kegiatan belajar mengajar
rasanya sulit bagiku. Sementara kedua orangtuaku tidak jauh berbeda denganku.
Hanya saja beliau berdua tidak menempuh pendidikan hingga bangku perkuliahan.
Dari situ, beliau mencurahkan semangatnya padaku untuk menempuh pendidikan yang
lebih tinggi darinya. Meskipun saya rasa, takkan mampu diri ini untuk melampaui
keluasan ilmu beliau.
Beliau
berdua mengenyam pendidikan amat keras dengan berlatarbelakang pondok
pesantren. Sehingga sejak lulus SD, diriku langsung diperintahkan untuk mondok.
Bodohnya, perintah itu aku bantah dengan alasan diriku masih terlalu dini untuk
mondok. Janjiku padanya, untuk menunda mentaati perintah mondok tersebut saat
diriku masuk jenjang lebih tinggi seperti ketika lulus SMP atau lebih tinggi
lagi ketika lulus SMA. Namun, betapa munafiknya diri ini hingga masuk bangku
perkuliahan, diriku masih saja belum mentaati perintah suci beliau.
berdua mengenyam pendidikan amat keras dengan berlatarbelakang pondok
pesantren. Sehingga sejak lulus SD, diriku langsung diperintahkan untuk mondok.
Bodohnya, perintah itu aku bantah dengan alasan diriku masih terlalu dini untuk
mondok. Janjiku padanya, untuk menunda mentaati perintah mondok tersebut saat
diriku masuk jenjang lebih tinggi seperti ketika lulus SMP atau lebih tinggi
lagi ketika lulus SMA. Namun, betapa munafiknya diri ini hingga masuk bangku
perkuliahan, diriku masih saja belum mentaati perintah suci beliau.
Hingga
di kemudian hari, Mahad Sunan Ampel Al ‘Aly
adalah nama tempat meraih pengalaman pertamaku mondok tipis-tipis yang
dibarengi dengan kegiatan perkuliahan di UIN Maliki Malang. Entah pengalaman
ini bisa dibilang mondok atau bukan. Aku sebut saja pengalaman ini sebagai
pengalaman mondok tipis-tipis. Lokasi mahad yang hanya sekitar 25-30 km dari
rumahku, membuat diriku seringkali pulang meninggalkan mahad ketika ada
kesempatan. Hal inilah yang membuatku bimbang apakah pengalaman ini bisa
dibilang mondok atau bukan.
di kemudian hari, Mahad Sunan Ampel Al ‘Aly
adalah nama tempat meraih pengalaman pertamaku mondok tipis-tipis yang
dibarengi dengan kegiatan perkuliahan di UIN Maliki Malang. Entah pengalaman
ini bisa dibilang mondok atau bukan. Aku sebut saja pengalaman ini sebagai
pengalaman mondok tipis-tipis. Lokasi mahad yang hanya sekitar 25-30 km dari
rumahku, membuat diriku seringkali pulang meninggalkan mahad ketika ada
kesempatan. Hal inilah yang membuatku bimbang apakah pengalaman ini bisa
dibilang mondok atau bukan.
Meskipun
demikian, pelajaran besar kuambil dari masa ini. Baik di mahad maupun kampus,
rasanya banyak sekali ilmu-ilmu yang belum pernah kupelajari sebelumnya.
Sebagian besar temanku berasal dari
kalangan yang berlatarbelakang pondok pesantren. Rasa minder, sangat jelas
muncul dari diri ini. Terlihat secara gamblang bodohnya diriku. Ditambah lagi,
di bangku perkuliahan diriku masuk di jurusan Pendidikan Bahasa Arab dengan
hanya berbekal alasan karena diriku belum bisa berbahasa arab.
demikian, pelajaran besar kuambil dari masa ini. Baik di mahad maupun kampus,
rasanya banyak sekali ilmu-ilmu yang belum pernah kupelajari sebelumnya.
Sebagian besar temanku berasal dari
kalangan yang berlatarbelakang pondok pesantren. Rasa minder, sangat jelas
muncul dari diri ini. Terlihat secara gamblang bodohnya diriku. Ditambah lagi,
di bangku perkuliahan diriku masuk di jurusan Pendidikan Bahasa Arab dengan
hanya berbekal alasan karena diriku belum bisa berbahasa arab.
Baru
terasa bahwa perintah suci tersebut benar-benar tak bisa diremehkan dengan
terus menundanya. Sampai hari ini aku menganggap bahwa diriku terlambat untuk
mondok. Memang aneh kedengarannya, tapi inilah kenyataannya. Diriku kesulitan
untuk mengimbangi ilmu teman-temanku yang jauh diatasku. Meskipun terlambat,
bukan berarti bahwa diri ini patah semangat. Kuliahku yang berlatarbelakang
pendidikan bahasa, mendorong diriku untuk mencari pondok pesantren yang
berbasis bahasa. Sampai akhirnya, kukenal Pondok Pesantren Darun Nun dengan
motto berbahasa dan berkarya mengetuk nuraniku untuk menimba ilmu disana.
Semoga dengan langkah ini diriku mampu untuk membuktikan bahwa terlambat mondok
bukan menjadi penghalang diri ini untuk menjadi insan yang berbakti kepada
orangtua, berguna bagi bangsa serta diselamatkan oleh Allah di dunia maupun
akhirat.
terasa bahwa perintah suci tersebut benar-benar tak bisa diremehkan dengan
terus menundanya. Sampai hari ini aku menganggap bahwa diriku terlambat untuk
mondok. Memang aneh kedengarannya, tapi inilah kenyataannya. Diriku kesulitan
untuk mengimbangi ilmu teman-temanku yang jauh diatasku. Meskipun terlambat,
bukan berarti bahwa diri ini patah semangat. Kuliahku yang berlatarbelakang
pendidikan bahasa, mendorong diriku untuk mencari pondok pesantren yang
berbasis bahasa. Sampai akhirnya, kukenal Pondok Pesantren Darun Nun dengan
motto berbahasa dan berkarya mengetuk nuraniku untuk menimba ilmu disana.
Semoga dengan langkah ini diriku mampu untuk membuktikan bahwa terlambat mondok
bukan menjadi penghalang diri ini untuk menjadi insan yang berbakti kepada
orangtua, berguna bagi bangsa serta diselamatkan oleh Allah di dunia maupun
akhirat.







