Kebaikan Akan Kembali

Oleh: Ahmad Mumtaaz

 

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh persaingan, berbuat baik terkadang dianggap hal yang naif. Banyak yang berpikir bahwa kebaikan hanya membuat kita dimanfaatkan, bahwa terlalu tulus berarti terlalu lemah. Padahal, dunia ini justru terus berjalan karena masih ada orang-orang yang memilih untuk berbuat baik meski tidak selalu dibalas dengan cara yang sama.

Menjadi baik bukan soal berharap imbalan, tapi tentang menjaga diri agar tidak ikut rusak di tengah kekacauan. Kebaikan memang sering terasa seperti berjalan sendirian. Kadang kita membantu seseorang, tapi malah dilupakan. Kadang, kita menahan amarah, tapi malah disalahpahamkan. Namunapa pun yang terjadi, kebaikan tak pernah hilang begitu saja. Ia mungkin tak langsung kembali saat ini, tapi ia akan pulang dengan caranya sendiri, entah dalam bentuk ketenangan, kemudahan, atau orang lain yang tiba-tiba menolong saat kita sedang kesulitan.

Kebaikan itu seperti gema. Apa pun yang kita ucapkan akan kembali kepada kita, hanya waktu dan bentuknya yang berbeda. Orang yang menanam kejujuran akan dipertemukan dengan kepercayaan. Orang yang menanam kasih akan dipeluk dengan ketulusan. Karena pada akhirnya, hidup ini adalah lingkaran yang menampung energi dari perbuatan kita sendiri.

Menjadi orang baik tidak selalu mudah, tetapi selalu benar. Di saat dunia sibuk dengan pencitraan, kebaikan adalah hal yang nyata tanpa perlu kamera. Maka teruslah berbuat baik, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Sebab kebaikan itu tidak pernah salah alamat. Ia akan pulang, selalu pulang, kepada hati yang menebarkannya dengan tulus.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp