KENANG ALAM

Oleh Nur Sholikhah
Kuingat saat rintik-rintik hujan turun di beranda rumah
Kaki berlari keluar pintu yang sengaja terbuka
Dingin mendera sekujur tubuh yang mulai basah
Oleh air hujan yang turun dengan kasih sayang-Nya
Lalu kawan-kawanku berlari memanggil namaku
Mengajakku untuk menginjak tanah tanpa alas kaki
Kami tertawa, mendalami setiap air yang menapaki
Tanpa ada alasan kami harus senantiasa berbagi
Canda dan derain-deraian kisah yang suatu saat akan terpatri
Satu lagi, kami menggiring langkah mendekati sungai kecil di belakang
rumah
Percikan air hujan membuatnya semakin dingin dipandang mata
Kami berteriak,                                            
Menyuarakan rasa senang agar senyum menguak
Jernihnya air sungai itu seperti bola mata kami di masa kecil
Namun kini warna itu memudar karena ulah tangan manusia yang
sengaja usil
Kuingat lagi saat rintik-rintik hujan turun di beranda rumah
Kugiring langkah kaki keluar dari halaman menuju sawah
Kawan-kawanku berlari mengejarku
Aku pun terus menginjak rumput-rumput tak berdosa
Berkejaran dengan air hujan di tengah hijaunya hamparan padi yang
mulai berbuah
Namun kini warna itu tiada lagi kudapati
Karena padi berubah menjadi tumpukan bata dan semen yang tegak
berdiri.
Oh ya aku lupa
Zaman sudah tak lagi sama
Jangankan sawah, sepetak tanah untuk bernafas saja mulai hilang
rupa
Di mana lagi tubuh padi-padi akan ditanam?
Pohon tebu mengibarkan dedaunan
Dan daun jagung yang melambaikan tangan

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp