KH. AHMAD ASRORI AL-ISHAQY : DAKWAH BIL HIKMAH

Oleh: Syifaul Fajriyah

Kyai Haji Ahmad Asrori Al-Ishaqy atau yang biasa
dikenal dengan Kyai Rori adalah putra keempat dari KH. Muhammad Usman Al-Ishaqy
dan Nyai Hj. Siti Qomariyah. Beliau lahir di Surabaya, pada tahun 1951. Nama
Al-Ishaqy merupakan gelar yang dinisbatkan kepada Maulana Ishaq (ayah dari
Sunan Giri). Oleh sebab itu, KH. Asrori adalah keturunan dari Sunan Giri. 
Dari jalur ayah yaitu KH. Usman, silsilah nasab
Kyai Asrori bersambung dengan Sunan Giri. Sedangkan melalui jalur ibundanya,
silsilah nasab bersambung dengan Sunan Gunung Jati, Cirebon. Jika diruntut,
nasab dari sosok yang disebut Romo Asrori ini bersambung drngan Nabi Muhammad
Saw. pada urutan ke-38.

Romo Kyai Asrori dikenal dengan sosok mursyid
tarekat al-Qadariyyah wa al-Naqsabandiyyah serta seorang ulama sufi yang
kharismatik. Sosoknya yang menjadi panutan ini sudah tampak sejak masa remaja.
Setelah bertahun-tahun berkelana menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren,
Romo Kyai Asrori mulai berdakwah dengan cara unik yang jarang dilakukan oleh
para pendakwah pada masa itu. Yaitu berdakwah dengan menggunakan pemuda jalanan
sebagai objeknya.

Berdakwah dengan mengajak anak-anak jalanan
bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, banyak dari mereka yang sudah tidak
mempercayai bahkan menyakini agama. Namun, metode yang digunakan oleh Romo Kyai
Rori membawakan hasil. 
Gus Rori -panggilan Kyai Asrori di masa muda-
menggunakan cara dengan mengikuti hobi anak-anak jalanan seperti bermain musik
ditengah malam sembari nongkrong. Hiburan malam itu pun disisipkan dengan ilmu-ilmu
agama yang dikemas oleh Kyai Rori dalam obrolan ringan.

Metode dakwah seperti ini juga pernah digunakan
oleh tokoh islam, yaitu Walisongo. Para wali menggunakan proses akulturasi
islam dan budaya lokal untuk menyebarkan agama islam, khususnya di tanah Jawa.
Walisongo menanam ajaran islam pada penduduk pribumi tanpa membabat habis
budaya lokal yang masih mengakar kuat. Budaya lokal yang dapat dikatakan non
islami tersebut justru menjadi media bagi para Wali, yaitu dengan
mengintegrasikan budaya lokal dan ajaran agama islam.

KH. Asrori mengikuti metode dakwah Walisongo.
Bahwa dengan dakwah bil hikmah, sesuatu yang keras dan kaku akan melunak dengan
kelemah lembutan. Dengan menggunakan aktivitas yang telah menjadi kebiasaan
pemuda jalanan sebagai pintu masuk untuk berdakwah dan membimbing mereka. Visi
yang dibangun oleh Kyai Rori adalah menjadikan perkumpulan yang kurang
produktif menjadi perkumpulan dzikir atau majlis dzikir. 
Keunikan inilah yang menarik masyarakat untuk ikut
serta dalam dakwah Kyai Asrori. Ditambah dengan kekharismatikan beliau serta
netral terhadap kelompok keagamaan tertentu. Berbagai kalangan masyarakat mulai
dari kaum muda hingga tua berkhidmah bersama dalam majlis dzikir yang Romo Kyai
Asrori naungi.

KH. Asrori al-Ishaqy wafat pada hari selasa, 18
Agustus 2009. Dalam kalender hijriyah yaitu pada tanggal 26 Sya’ban 1430 H.
Pendiri Pondok Pesantren As Salafi Al-Fithrah tersebut, meninggal pada usia 58
tahun. Beliau dimakamkan di dalam kompleks ponpes Al-Fithrah.

 

Sumber Referensi:

Rosyid, Abdur. 2019. Konsep Sufistik KH. Ahmad Asrori al-Ishaqy.
Yogyakarta: Bildung

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp