“Marriage is Scary” Ketika Janji Sehidup Semati Lebih Seram dari Tagihan Paylater

Oleh Muflikhah Ulya

Zaman sekarang, orang takut menikah seperti takut ketemu debt collector. Kalau dulu pernikahan dianggap puncak kedewasaan, sekarang justru dianggap puncak ketakutan. Coba buka TikTok atau Twitter, ketik hashtag #marriageisscary, maka kamu akan disambut parade keresahan, dari yang takut pasangannya berubah setelah menikah, sampai yang takut hidupnya jadi kayak sinetron Indosiar.

Fenomena ini bukan sekadar tren iseng. Ia tumbuh dari akar yang nyata, trauma kolektif, ekonomi yang makin sesak, dan ekspektasi relasi yang terlalu mulia tapi seringnya tidak realistis. Generasi sekarang tumbuh melihat orang tuanya bertengkar bukan karena kurang cinta, tapi karena kurang cukup penghasilan. Kita tumbuh dengan pelajaran: “jangan buru-buru menikah, nanti malah tambah susah.”

Di sisi lain, harga beras makin mahal, tapi harga mahar makin ajaib. Undangan harus cetak gold-embossed, venue harus Instagramable, dan prewedding kudu di atas awan seperti drama korea. Padahal, kadang pasangan belum yakin mereka udah kenal betul satu sama lain. Akibatnya? Yang niatnya sah dan sakinah, malah jadi wah dan gelisah.

Ketakutan lain datang dari terlalu banyak pilihan, tapi nggak ada yang benar-benar dipilih. Kita hidup di era swipe, semua orang bisa terlihat ideal di profil. Tapi ketika ngobrol, baru terasa “oh, dia cuma jago caption doang.” Akhirnya kita terjebak dalam dua jurang, takut salah pilih, dan takut nggak dipilih.

Media sosial memperparah semuanya. Kisah-kisah “3 bulan menikah, langsung cerai” jadi viral. Sementara pernikahan harmonis selama 10 tahun? Nggak masuk FYP. Kita lebih percaya kisah yang hancur karena rasanya lebih dekat dengan kenyataan. Kita lupa bahwa relasi yang sehat butuh usaha, dan nggak semua drama buat layak ditiru.

Tapi, benarkah pernikahan harus ditakuti? Tidak. Yang perlu ditakuti adalah ketidaksiapan emosional. Karena nikah bukan sekadar tinggal serumah. Ada yang bilang, nikah itu, bagi tugas cuci piring, berbagi WiFi, menghadapi mood swing, dan tetap cinta meski bau ketiaknya mulai familiar.

Menikah itu seperti naik gunung. Dari bawah kelihatan indah. Tapi begitu jalan, baru terasa betapa terjal dan dinginnya. Tapi kalau kamu siap dengan bekal saling pengertian, komunikasi yang sehat, dan komitmen lebih kuat dari sinyal internet, maka perjalanan itu bisa jadi indah. Bukan sempurna, tapi nyata.

Jadi kalau kamu masih ragu, tenang saja. Tidak semua orang harus menikah cepat. Tidak semua orang harus menikah sama orang yang sama. Yang penting bukan siapa yang lebih dulu naik pelaminan, tapi siapa yang bisa terus jalan beriringan sampai tua.

Karena pada akhirnya, marriage is not scary. Ketakutan kitalah yang butuh didengar dan dipahami, bukan ditertawakan.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp