Mengapa Adiku Ingin Menjadi Ultramen?

Oleh I Gede Adhitya Satrio Wiramurti

Pernah nggak sih kalian  itu diwanwancarai oleh adik kalian sendiri yang masih balita ataupun anak-anak, dengan pertayaan-pertanyaan yang diluar nalar atau logika, Sehingga membuat kalian itu kesal karena dicecar oleh pertanyaan kekanak-kanakan seperti itu secara terus menerus.

“Wah kalau itu sering sih, aku sih punya adik dirumah yang umurnya tuh masih 3 ½ tahun,  dia sering sih bertanya ke aku tentang hal-hal yang tidak masuk akal bahkan lebih kekanak-kanakan, contohnya seperti,”

“Kak, aku bisa nggak jadi kayak ultlamen?”

“Monstel itu rumahnya dimana ya kak?”

“Kakak punya nggak kantong ajaib kayak dolaemon?”

“Wah nih bocil kenapa ya?, kebanyakan lihat spongebob kali ya”, bantin si Andy yang merasa bimbang oleh kelakuan si Tomi adiknya.

Nah, tanpa disadari kasus dari kelakuan adiknya si andy yang bernama tomi, itu merupakan salah tahapan pada perkembangan anak yang dapat disebut dengan Tahapan Pra-operasioanal, yang dimana anak terkadang berpikir secara Transductive Reasoning atau cara berpikir yang tidak induktif atau deduktif, yang contohnya seperrti; seorang anak yang ingin menjadi seorang super hero favoritnya di TV.

“Aku Mau jadi Supel Helo sepelti ultlamen!”, Ucap tomi sambil melakukan pose seperti utlramen

Menurut tori piaget, anak-anak mengembangkan pemahaman dunia mereka sendiri dan melewati empat tahap perkembahangan kognitif. Organisasi dan adaptasi adalah dua proses yang diperlukan dalam upaya kognitif. Organisasi dan adaptasi adalah dua proses yaang diperlukan dalam upaya kognitif untuk memperoleh pemahaman tentang dunianya. 

“Lalu, apa sih yang dimaksud degan perkembangan kognitif itu, dan apa saja 4 tahapan-tahapan yang dimaksud tersebut?”

Jadi perkembangan kognitif itu  merupakan tingkatan kemapuan seorang individu dalam berpikir yang meliputi proses pemecahan masalah, mengingat, serta mengambil keputusan. Hal ini merupakan proses yang terjadi secara internal pada pusat susunan saraf ketika manusia berpikir. Lalu tahapan-tahapan perkembnagan kognitif anaka menurut piaget terbagi menjadi 4 yaitu:

  1. Tahap Sensori Motor (0-2 Tahun)

Tahapan ini dimulai ketika anak setelah lahir hinga berumur 2 tahun, Pada tahap sensori ini, bayi lahir beralih dari refleks instintif ke tahap pemikiran simbolis. Bayi melakukan tindakan fisik untuk mengatur pengalaman sensoor mereka, yang membnatu mereka memahami dunia. Pada titik ini, pemikiran anak mulaimelibatkan berbagai sensasi, termasuk pendengaran, penglihatan, pendengaran, penglihatan, dan pergeseran. Artinya, anak-anak memiliki indra yang dapat melihat pembinaan perkembangan pemikiran sebagai dasar untuk pengembangan intelegensinya. Anak-anak bertindak sesuai dengan pemikiran mereka. Karena sangat membantu anak belajar dari apa yang ada disekitarnya. Teori ini menyatakan bahwa tahapan berfikir akan dimulai jika seorang anak dapat menanggapi kata-kata orang dewasa. Berikut ciri-cirinya:

-Semua tindakan masih naluriah artinya timbul dari dorongan didalam hati sseorang anak.

-Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pengalaman indrawi

-Dapat melihat dan menyerap pengalaman, tetapi tidak dapat mengkategorikan pengalaman tersebut

-Anak mulai belajar menangani objek tertentu menggunakan sistem sensorimotor. 

  1. Tahap Pra-operasional (2-7 Tahun )

Tahapan ini dimulai ketika anak telah berumur 2 tahun sampai dengan umur 7 tahun, Pada tahap ini anak-anak biasanya sangat bergantung  pada presepsi merekan sendiri. Ini benar-benar terjadi antara usia dua tuhan dan tujuh tahun. Dengan pertumbuhan bahasa dan ingatan, anak-anak memiliki kemampuan untuk mengingat banyak hal tentang dunia sekitar mereka. Anak-anak yang egoistik tidak menyadari bahwa orang lain memiliki sifat perspektif yang berbeda dengan mereka, yang menghambat pemahaman mereka. Pikiran anak-anak pada tingkat ini tidak sistematis, kosisten dan rasional.

Salah satu ciri-cirinya adalah sebbagai berikut : 

  1. Transductive reasoning, Ini adalah cara berpikir Anak-anak dimana mereka membuat kesimpulan dari situasi khusus lainya tanpa berpikir secara logis. Misalnya, jika seoarang anak melihat langit gelap dan kemudian hujan, ia mungkin berpikir bahwa setiap kali langit gelap akan hujan.
  2. Ketidak jelasan hubungan sebab-akibat, anak-anak sering kali memebuat hubungan sebab akibat yang tidak logis. Cotohnya, seorang anak mungkin berpikir bahwa ia menjadi sakit karena tidak mendengarkan orang tuanya, bukan karena virus atau bakteri.
  3. Animisme, Ini adalah kepercayaan bahwa benda-benda tidak hidup memiliki kualitas hidup, seperti perasaan dan kesadaran. Seorang anak pada tahap ini mungkin berbicara dengan boneka atau mobil mainanya seolah-olah merekaa dapat mendengarkan dan merespons.
  4. Artificialims, Keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta dibuat oleh manusia atau entitas supranatural. Misalnya, anak mungkin berpikir bahwa awan dibuat oleh orang-orang di pabrik awan.
  5. Perceptually Bound, Anak-anak menilai dan memahami dunia berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengan secara langsung. Mereka kesulitan memahami kkonsep atau situasi yang tidak langsung mereka alami.
  6. Mental Experiment, Anak-anak mencoaba melakukan sesuatu secara mental untuk menemukan sesuatu atas sebuyah peratanyaan yang mereka hadapi. Mereka menggunakan imajinasi untuk mengeksplorasi berbagai kemunkinan.
  7. Centration, Fokus pada sebuah aspek yang menoinjol dari suatu objek atau situasi dengan mengabikan aspek lainya. Misalnya, Anak mungkin hanya memperhatikan warna mainan daripada ukuranya atau fungsi lainya.
  8. Egosentrisme: Anak-anak melihat dunia dari prespektif merekka sendiri dan kesulitan memahami pandangan orang lain. Mereka cenderung berpikir bahwa semua orang memiliki pandangan yang sama dengan mereka.
  9. Tahap Operasi kongkrit (7-11 tahun)

Pada usia 7 hingga 11 tahun, anak-anak mencapai tahap operasi kongkrit, dimana mereka dapat berpikir secara logis tentang peristiwa yang kongkrit dan mengkategorikan objek ke dalam berbagai kategori. Meskipun dapat mengklasifikasikan seuatu, tidak dapat memecahkan masalah abstrak. Operasi kongkret adalah tindakan mental yang dapat dibalik yang memiliki hubungan dengan dunia nyata.

Di usia 7 atau 8 tahun , seorang anak akan belajar mengingat substansi. Dia menyadari bahwa jika anda memotongnya menjadi bola, memecahnya menjadi sepuluh bola yang lebih kecil, atau mengubahnya menjadi bola seperti yang dia lakukan sebelumnya, tanah liat akan tetap sama. Ini adalah proses yang disebut sebagi perbalikan.

  1. Tahap Operasi Formal (11-dewasa)

Operasi formal dimulai pada usia 11 tahun hingga dewasa. Fase ini dikenal sebagai masa muda. Pada usia sebelas hingga lima beas tahun, remaja mulai memikirkan pegalaman kongkret dan memikirkanya dengan cara lebih abstrak dan idealis. Pemecahan masalah verbal menunjukan bahwa pemikiran operasional formal memiliki kualitas abstrak. Pemikir operasional kongkret harus melihat elemen kongkret A,B, dan C untuk sampai pada kesimpulan logis bahwa A = B dan B=C. Sebaliknya  pemikir operasional formal memilki kemampuan untuk mememcahkan masalah, meskipun masalah tersebut diberikan secara lisan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp