
Oleh: Ahmad Nashrun Al-Abid
Teater adalah salah satu seni bermain peran (drama) yang menyajikan cerita
kehidupan nyata di atas pentas. Jalan cerita yang disajikan biasanya mengandung
pesan moral yang tersirat dan bisa dijadikan pelajaran kehidupan oleh para
penonton. Teater adalah cabang kesenian yang lahir pada masa Yunani klasik.
Pada masa itu, sekitar 500 tahun SM dimainkan di atas altar oleh pendeta-pendeta
dan salah satu adegannya adalah upacara memberi kurban pada dewa. Hingga
kemudian bentuk itu berubah pada masa Athena, kurban diganti oleh peran
antagonis yang dihukum atas dasar kehendak masyarakat dan mati bagi semua
orang.
Dalam makna tersebut teater modern Indonesia dipahami secara konseptual (teater
realis) dimulai sejak Usmar Ismail dan Asrul Sani mendirikan ATNI (Akademi Teater
Nasional Indonesia) pada 10 September 1955 di Jakarta. Sejak itu bentuk teater di
Indonesia mengalami perubahan yang cukup mendasar dibandingkan dengan
bentuk-bentuk tradisionalnya, seperti Randai, Ludruk, Mahyong, Ketoprak, dan
Ledhek.
Unsur internal teater adalah elemen penting yang menentukan keberlangsungan
pementasan dan disebut sebagai “jantung” pertunjukan. Unsur-unsurnya meliputi:
1. Naskah/Skenario – berisi kisah, tokoh, dan dialog yang menjadi dasar pertunjukan
serta menyatukan seluruh unsur lain.
2. Pemain – aktor/aktris yang memerankan tokoh dengan suara dan gerak. Jenisnya
meliputi peran utama, peran pembantu, dan figuran.
3. Sutradara – pemimpin dan pengatur jalannya pementasan, mulai dari membedah
naskah, menciptakan ide, hingga mengarahkan aktor.
4. Pentas – tempat pertunjukan yang mendukung nilai estetika, dilengkapi tata
lampu, ruang, dan dekorasi.
5. Properti – perlengkapan penunjang seperti meja, kursi, dan dekorasi.
6. Penataan – meliputi tata rias (mendandani pemain sesuai karakter), tata busana
(pakaian sesuai peran), tata lampu (pencahayaan), dan tata suara (pengeras suara).
Unsur eksternal teater adalah elemen yang mengurus hal-hal teknis dan kebutuhan
pementasan. Unsur-unsurnya meliputi:
1. Staf Produksi – dipimpin produser, bertugas mengatur seluruh produksi, termasuk
anggaran, fasilitas, dan program kerja.
2. Sutradara/Direktur – mengarahkan jalannya naskah, mengoordinasi pementasan,
menyiapkan aktor, serta mengatur bagian desainer dan kru.
3. Stage Manager – penanggung jawab panggung dan membantu sutradara.
4. Desainer – menyiapkan aspek visual, seperti properti, kostum, tata lampu,
pencahayaan, hingga audio.
5. Crew – tim pelaksana teknis sesuai divisi, seperti panggung, tata lampu,
perlengkapan, dan musik.
Teater memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakat. Dalam fungsi ritual,
teater menjadi ajang penjelasan, penghayatan, dan pengukuhan nilai-nilai
kepercayaan atau agama, yang hingga kini masih tampak pada teater etnik melalui
mantra, sajen, dan upacara tertentu. Dari segi seni atau estetik, teater tidak hanya
mengungkapkan pikiran, perasaan, kecemasan, dan harapan, tetapi juga
memberikan kepuasan estetik melalui bentuk ungkapan yang digunakan.
Teater juga berfungsi sebagai hiburan karena mampu menghadirkan pengalaman
berbeda dari kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi sarana pelarian dari persoalan
hidup. Selain itu, teater merupakan media pendidikan karena bersifat kolektif dan
membutuhkan kerja tim, sehingga pesan moral yang disampaikan penulis dan
pemain dapat lebih mudah dipahami penonton dibandingkan hanya melalui bacaan.
Terakhir, teater menjadi media ekspresi, karena senimannya menyalurkan seni
melalui gerak tubuh dan dialog, berbeda dengan musik yang menekankan suara
atau tari yang menekankan keselarasan gerak dan irama.
Teater tradisional banyak mengungkap wacana kearifan lokal sehingga berfungsi
sebagai sarana pewarisan nilai-nilai kehidupan, hiburan, dan pendidikan moral
masyarakat. Teater ini menjadi sendi penting dalam membangun harmoni sosial
karena membiasakan masyarakat dari berbagai latar belakang suku, bahasa, adat,
dan agama untuk berdampingan saat menonton. Dalam teater tradisi, batas antara
pelaku dan penonton kabur sehingga penonton bisa sewaktu-waktu menjadi bagian
dari pertunjukan. Teater tradisi erat kaitannya dengan ritual, adat, bahasa daerah,
dan kebudayaan lokal yang berlandaskan semangat kekeluargaan serta gotong
royong, dengan perpaduan seni laku, tari, musik, dan suara yang saling melengkapi.
Sementara itu, teater modern mengambil pola Barat sebagai rujukan dan
memisahkannya dari tari, seni suara, dan musik. Kehadirannya berkembang menjadi
produk kesenian yang mengarah ke industri, dengan bentuk teater modern
konvensional, pembaruan, dan kontemporer. Teater konvensional masih
menggunakan pola dasar Barat yang disesuaikan dengan alam dan bahasa
Indonesia, sedangkan teater pembaruan mencoba memasukkan unsur tradisional
sebagai gaya pementasan dan menyadarkan masyarakat teater Indonesia bahwa
tradisi perlu dipertahankan. Adapun teater kontemporer berupaya mendobrak pola
konvensional dan pembaruan dengan memadukan berbagai unsur seni dunia untuk
kepentingan teater.
Teater sangat penting dalam kehidupan karena dapat mendidik, menghibur,
membangun empati, mengembangkan keterampilan sosial dan kreativitas, serta
berfungsi sebagai sarana kritik sosial dan penjaga nilai budaya. Melalui pementasan,
penonton bisa belajar dan merasakan pengalaman baru, sementara pelakunya bisa
meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan kerja sama.
Pondok Pesantren Darun Nun