Menghormati Guru Bukan Perbudakan: Membantah Stigma Negatif terhadap Pesantren

 

Oleh: Dimas Indra Pratama

Belakangan ini, obrolan di masyarakat seringkali menuding pesantren sebagai tempat yang ketinggalan zaman. Hubungan antara santri dan kiai yang sangat hormat dianggap sebagai praktik otoriter, bahkan dicap perbudakan atau feodalisme. Stigma atau anggapan ini keliru besar. Anggapan buruk ini muncul karena orang luar tidak paham tujuan utama dari disiplin spiritual yang dianut oleh lembaga pendidikan di pondok pesantren. Bahkan ada yang langsung mengklaim atau beropini pondok pesantren lebih baik dibubarkan saja hanya dengan melihat persepktif dari satu kasus saja tanpa adanya menggali lagi terkait kasus itu sendiri.

Kita harus lihat dulu, apa itu ta’dzim, secara umumnya Ta’dzim adalah sikap hormat mendalam kepada guru, yang diyakini sebagai orang tua ilmu. Bukan berarti santri harus patuh secara sepenuhnya, maksudnya adalah mengajarkan bahwa jika kita sombong atau tidak menghargai sumber ilmu, maka ilmu itu akan sulit kita serap (Nur, 2021). Berbeda sekali dibandingkan dengan perbudakan yang bisa menghilangkan hak dan martabat seorang manusia. Di pesantren, khidmah (pengabdian) dilakukan secara sukarela, seperti membantu urusan kiai atau kegiatan di pondok. Dengan cara melatih kerendahan hati (tawadhu’) dan etos kerja seorang santri, bukan dipaksa seperti kerja rodi. Jelas, khidmah adalah latihan spiritual yang berharga, bukan bentuk eksploitasi itu yang harus dan perlu digaris bawahi oleh masyarakat.

Kedisiplinan yang ketat itu sering dicap sebagai penjara kebebasan yang ada di dunia pesantren menjadikan banyak sekali persepektif. Padahal, aturan 24 jam di pesantren sebetulnya adalah sekolah untuk melatih mental dan kedisiplinan kita sebagai santri dan tidak semua aturan di pesantren itu semuanya sama. Lingkungan yang serba diatur, dari bangun subuh sampai tidur lagi, bertujuan untuk melatih santri jadi pribadi yang mandiri dan punya daya tahan tinggi (resiliensi). Contohnya, disiplin antre, hidup sederhana, atau menghafal, semua itu adalah cara menginternalisasi self-management (Fadillah & Santoso, 2023). Sikap hormat yang diajarkan, pada akhirnya, adalah modal dasar untuk menghormati aturan yang ada dimasyarakat dan melebur serta melakukan pekerjaan dalam membentuk karakter yang nyata, karena hal tersebut yang paling utama.

Tentu kita harus mengakui, tidak ada institusi yang sempurna. Ada saja oknum kiai atau ustad yang menyalahgunakan kekuasaan, dan kasus kekerasan yang terjadi harus ditindak tegas. Ini adalah fakta yang tidak bisa ditutupi. Namun, kasus yang ada menunjukkan bahwa polarisasi media sering memperburuk citra, membuat penyimpangan individu digeneralisasi sebagai kegagalan sistemik pondok pesantren (Hasan & Wibowo, 2024). Kita harus bisa membedakan secara logika yang benar serta jangan sampai ada kesalahan berpikir dalam memahami, bahwa ta’dzim yang niatnya baik, tidak boleh ikut hancur gara-gara perilaku buruk segelintir orang. Penyimpangan pribadi tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak seluruh sistem pendidikan tradisional yang sudah kokoh selama berabad-abad. Jalan keluarnya adalah mendorong pengawasan yang lebih ketat, transparansi yang terbuka, dan dialog atau komunikasi antara pondok, orang tua, dan masyarakat.

Sebagai penutup, pesantren adalah Investasi dalam dunia pendidikan keislaman yang sudah terbukti berhasil mendidik manusia utuh, yang punya moral dan intelektualitas beradab. Saatnya kita, terutama orang yang memiliki baground pendidikan walaupun tidak pernah menjadi santri, berhenti memandang ta’dzim sebagai sesuatu yang usang atau seperti perbudakan. Penghormatan kepada guru adalah pengakuan tertinggi terhadap pentingnya ilmu pengetahuan, yang justru menghasilkan individu berkarakter kuat dan siap memimpin. Intinya menghormati guru itu kunci untuk membuka pintu ilmu dan membebaskan diri, bukan sebaliknya, yang dianggap feodalisme atau perbudakan dan dianggap sesuatu yang buruk karena hanya memandang dari satu sudut pandang saja.

 

Referensi

Fadillah, A., & Santoso, R. (2023). Relasi Hirarki dan Pembentukan Resiliensi Mental Santri. Jurnal Studi Pendidikan Islam, 12(1), 45-60.

Hasan, A., & Wibowo, B. (2024). Polarisasi Media dan Stigmatisasi Institusi Pendidikan Tradisional. Jurnal Komunikasi dan Masyarakat, 7(2), 112-128.

Nur, Z. (2021). Ta’dzim: Filosofi Pendidikan Karakter dalam Tradisi Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp