MENGULIK PROFIL HABIB MILENIAL: HABIB HUSEIN JA'FAR AL HADAR


link gambar: https://ibtimes.id/mengenal-jejak-dakwah-digital-habib-jafar/
Raihan Ammar Syafril R
.

Habib Husein Ja’far Al Hadar atau sering kita kenal dengan sebutan Habib Ja’far adalah seorang pendakwah kelahiran Bondowoso, 21 Juni 1988. Seorang dai berdarah madura yang juga memiliki garis keturunan dengan Rasulullah SAW bermarga Al Hadar. Saat ini beliau berusia 34 tahun, selain sebagai pendakwah beliau juga dikenal sebagai penulis dan content creator islam.

Habib Ja’far mulai merintis karir melalui dunia literasi dan kepenulisan sejak dibangku perkuliahan. Beliau merupakan penulis di media-media nasioal seperti Kompas, Tempo dan Jawa Pos. Diantara buku karya beliau ialah seperti, Menyegarkan Islam Kita, Anakku Dibunuh Israel, Islam “Mazhab” Fadullah, yang paling terkenal Ada Tuhan Dihatimu dan Seni Merayu Tuhan.

Selain seorang penulis Habib Ja’far juga aktif sebagai seorang dai dan content creator islam. Gaya penampilan beliau yang cukup modis dan santai dengan memakai kaos dan celana jeans serta peci putih lebih mendekatkan dirinya dengan kaum milenial. Gaya dakwahnya yang penuh kecintaan, kedamaian, santun, masuk diakal, tidak meledak-ledak, diselingi dengan komedi serta menggunakan bahasa yang santai khas anak muda membuat para pemuda suka mendengarkan dakwah dan nasehat beliau. Berbeda dengan kebanyakan dai lain, Habib Ja’far tidak hanya di masjid namun ia kebanyakan berdakwah di cafe-cafe, tongkrongan anak muda dan juga di akun youtube pribadinya yaitu “Jeda Nulis”.

Tak hanya aktif di youtube Habib Ja’far juga memanfaatkan media sosial lain seperti, instagram, facebook, twitter, bahkan beliau juga menggunakan tiktok untuk berdakwah. Tak jarang beliau juga collab dengan para youtuber lain untuk membuat konten-konten islami seperti podcast tentang islam yang diselingi komedi-komedi sehingga membuat para pendengar dan penonton tidak merasa bosan. Bahkan Habib Ja’far pernah membuat konten “pemuda tersesat” yang sempat viral ketika bulan Ramadan 2 tahun lalu. Dimana didalam konten tersebut beliau menjawab berbagai macam pertanyaan yang nyeleneh  dari pemuda-pemuda, seperti “pintu surga itu nanti cara bukanya didorong apa digeser, Bib?” ada lagi yang bertanya “hukum orang yang bertato dengan dua kalimat syahadat gimana, Bib?” dan masih banyak lagi pertanyaan aneh yang lain. Dalam konten “pemuda tersesat” tersebut Habib Ja’far collab dengan komedian Tretan Muslim dan Coki Pardede yang membuat suasana menjadi cair dengan lawakan-lawakan yang dilontarkan keduanya.

Mengutip dari sisi pendidikannya, Habib Ja’far pernah menempuh pendidikan pesantren di Pondok Pensantren YAPI Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan dan lulus sebagai seorang Sarjana Filsafat Islam (S.Fil.I) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Tidak hanya selesai di Strata 1, beliau kemudian meneruskan program Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di universitas yang sama. Banyak sekali berita yang mengabarkan bahwa madzhab yang dianut oleh Habib Ja’far bukanlah Ahlussunnah wal jama’ah karena latar belakang dari pondok pesantrennya dulu yang bukan sunni. Namun apapun kebenarannya beliau adalah Habib Husein Ja’far Al Hadar, habib yang menyampaikan dakwah dengan ringan, mudah diterima dan dipahami, santun, penuh toleransi dan kecintaan, sehingga dapat memahami bahwa islam itu agama cinta kasih yang Rahmatan lil alamin.

Ada satu qoutes indah dari Habib Ja’far yang akhirnya menjadi judul buku beliau yaitu, Tak di Ka’bah, di Vatikan, atau di Tembok Ratapan Tuhan ada di Hatimu – Husein Ja’far Al-Hadar


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp