Mengunyah Usia di Pesantren

Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam

Hidup di pesantren tidak pernah sesederhana yang dibayangkan orang-orang di luar sana. Dari subuh hingga malam, waktu seolah berjalan pelan, seakan sengaja memberi ruang bagi para santri untuk mengunyah arti kehidupan pelan, tapi pasti.

Azan subuh selalu menjadi tanda dimulainya hari. Suara santri bersahut-sahutan membangunkan teman sekamar yang masih lelap. Bau sabun mandi bercampur dengan udara dingin pagi menjadi aroma khas yang hanya bisa ditemui di pesantren. Di sela kantuk dan malas, ada kesungguhan yang tumbuh perlahan: kesungguhan untuk menata diri.

Di pondok, waktu adalah guru yang paling sabar. Setiap detik punya makna, setiap kesalahan punya pelajaran. Ketika telat jamaah, bukan hanya hukuman fisik yang diterima, tapi juga rasa malu di hadapan teman dan ustaz. Ketika kehilangan barang, bukan amarah yang diajarkan, melainkan keikhlasan untuk melepaskan. Semua terasa keras, tapi di situlah jiwa dibentuk.

Rafi, seorang santri kelas dua, sering duduk di serambi masjid selepas mengaji. Wajahnya masih muda, tapi matanya menyimpan lelah yang tak bisa dijelaskan. Ia bukan santri paling pintar, bukan pula yang paling rajin, tapi setiap kali dimarahi ustaz, ia selalu menunduk dalam diam dan tersenyum kecil.

Suatu sore, ketika hujan turun deras, Rafi menulis di buku catatannya:

“Aku mulai mengerti, pesantren bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, tapi tempat untuk belajar siapa diri kita sebenarnya.”

Di kamar berukuran kecil yang berisi sepuluh orang, Rafi belajar sabar. Ketika sandal hilang, ketika nasi keburu habis, ketika harus berbagi selimut di malam dingin semuanya menjadi latihan hidup yang tidak diajarkan di sekolah mana pun.

Namun, di balik kerasnya disiplin dan padatnya kegiatan, ada kehangatan yang tak tergantikan. Tawa para santri di sela waktu istirahat, canda kecil saat mencuci baju di kamar mandi umum, hingga momen sederhana ketika berbagi mie instan tengah malam. Semua itu menjadi potongan kenangan yang kelak membuat hati rindu untuk kembali.

Rafi sering membayangkan, suatu hari nanti, ketika ia sudah pulang ke rumah, orang-orang mungkin hanya melihat dirinya sebagai “mantan santri.” Tapi mereka tak akan pernah tahu, bahwa di balik gelar sederhana itu, ada proses panjang penuh air mata dan tawa proses yang membuatnya lebih mengerti arti sabar, taat, dan ikhlas.

Suatu malam, menjelang tidur, ustaznya berkata pelan,

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp