Menimbang Ulang Singgasana Filsafat Barat
Oleh: Ilham Fajar Ramadani
Filsafat Barat sering diajarkan sebagai garis lurus kemajuan akal budi: dari Sokrates ke Plato, Aristoteles, Descartes, Kant, Hegel, lalu seterusnya. Di bangku kuliah, nama-nama itu hampir otomatis dianggap sebagai “filsafat” itu sendiri, bukan salah satu tradisi berpikir di antara banyak tradisi. Di situlah persoalan pertama muncul. Yang dipersoalkan di sini bukan kecerdasan mereka, tetapi klaim universal yang kerap menyertai pemikiran mereka, dan cara kita menerimanya tanpa jarak kritis.
Subjek yang terlalu percaya diri
Descartes membangun filsafat modern di atas cogito, subjek yang berpikir dan karena itu ada. Terobosan ini penting, tetapi ia juga menanamkan pandangan bahwa manusia adalah akal yang terpisah dari tubuh, alam, dan komunitas. Dualisme pikiran-tubuh itu pada akhirnya memberi legitimasi bagi sikap memandang alam sebagai benda mati yang boleh dikuasai. Krisis ekologis hari ini bukan semata akibat Descartes, tetapi cara pandang yang ia wariskan ikut menyiapkan tanahnya. Bandingkan dengan banyak tradisi Nusantara yang memahami manusia sebagai bagian dari jejaring relasi dengan sesama dan alam, bukan sebagai subjek tunggal yang berdiri di hadapan dunia.
Universalisme yang menyembunyikan prasangka
Kant dengan indah merumuskan martabat manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Namun dalam tulisan-tulisan antropologisnya, Kant juga menyusun hierarki ras yang menempatkan orang Eropa di puncak. Hume, empiris yang begitu skeptis terhadap klaim-klaim besar, tanpa banyak bukti menulis bahwa orang kulit hitam secara alami lebih rendah. Hegel lebih jauh lagi: dalam filsafat sejarahnya, Afrika dianggap berada di luar sejarah, sementara Eropa dipandang sebagai puncak perjalanan Roh. Ini bukan catatan kaki yang bisa diabaikan. Ia memperlihatkan bahwa “manusia” yang dibicarakan filsafat Pencerahan sering kali bukan semua manusia. Universalisme mereka bocor di bagian yang paling menentukan: siapa yang dihitung sebagai subjek rasional. Dan prasangka itu tidak hanya hidup di atas kertas; ia berjalan beriringan dengan kolonialisme, yang justru memakai bahasa “peradaban” dan “rasionalitas” untuk membenarkan penaklukan.
Pembelaan yang terlalu mudah
Pembela klasik akan berkata: mereka adalah anak zamannya, jadi jangan menghakimi dengan standar sekarang. Argumen ini separuh benar, tetapi separuh lainnya lemah. Pada zaman yang sama, ada suara-suara yang menentang perbudakan dan kolonialisme, misalnya Diderot atau Las Casas, yang membuktikan bahwa pilihan lain tersedia. Lagi pula, jika pemikiran seseorang diklaim berlaku abadi dan universal, ia tidak bisa sekaligus berlindung di balik “konteks zamannya” ketika bagian yang tidak enak ditunjukkan. Kita tidak boleh mengambil keagungannya dan membuang noda-nodanya sesuka hati.
Tentang Nietzsche dan kebanggaan yang berbahaya
Nietzsche, yang mengkritik moralitas Barat dari dalam, sering dirayakan sebagai pemberontak. Kritiknya terhadap kemunafikan moral memang tajam. Namun romantisasi terhadap “manusia unggul” dan sikap meremehkan belas kasih mudah tergelincir menjadi pembenaran bagi hierarki dan kekuasaan. Sejarah pembacaan yang menyimpang atas karyanya memang bukan salahnya sepenuhnya, tetapi gaya aforistik yang provokatif tanpa pagar etis memberi ruang bagi salah tafsir yang mahal harganya.
Bukan menolak, melainkan memindahkan posisi
Kritik ini tidak berarti filsafat Barat harus dibuang. Argumen Aristoteles tentang kebajikan, kritik Kant atas pengetahuan, dan analisis Marx tentang keterasingan tetap berguna, termasuk bagi kita yang hidup jauh dari Eropa. Yang perlu bergeser adalah posisi kita sebagai pembaca. Kita bisa belajar dari mereka tanpa menjadikan mereka ukuran tunggal. Kita bisa membaca Kant sambil juga membaca Ki Hajar Dewantara, Ibn Khaldun, Nagarjuna, atau Frantz Fanon, bukan sebagai pelengkap eksotis, tetapi sebagai lawan bicara yang setara. Filsafat yang jujur adalah filsafat yang berani memeriksa dirinya sendiri. Menghormati para filsuf Barat berarti memperlakukan mereka sebagaimana mereka sendiri menuntut kita memperlakukan setiap gagasan: dengan menguji, mempertanyakan, dan bila perlu menolak. Singgasana yang tidak boleh digugat bukanlah tempat filsafat, melainkan tempat dogma.