Menuju Suraloka

Oleh : Ilman Mahbubillah


Manusia itu sedang dalam ruang jeda, di mana dirinya akan terasa berbeda. Sekelilingnya nampak ada, sedang ia selalu dalam tiada. Inderanya utuh tanpa cacat, tapi masih tak menahu bahwa sukmanya sedang diikat. Seperti dihantui; oleh segala memori laknat yang membui. Bergerak pun tak mampu; komanya sudah berjalan berminggu-minggu.

Sudah lama ia bergeming di dasar samudera, seraya menunggu warna kuning berkibar sebagai bendera. Siangnya dipenuhi kelam sebab ia terlanjur tenggelam, lagi dan lagi setiap malam tak hentinya berandai tentang penggalian sebuah makam. Berbulan-bulan ia tak lagi ingin berkawan dengan bising kesunyian juga ramai kesendirian.

Ketika ia sampai pada palung mariana, ia bertemu dengan seluruh fana beserta semua panorama yang adiwarna. Ternyata doanya telah sampai pada sang pencipta, ia bangkit bukan untuk diungkit. Melainkan dikenang oleh sorot pelita sebab namanya melejit oleh getirnya rasa pahit. Tulisnya; jika puisi adalah bentuk doa paling mulia, maka izinkan seluruh kalimat ini mengetuk pintu langit-Nya.

Di rumah itu, berbagai api menyala melenyapkan setiap yang sia-sia; menjadikannya keutuhan yang berwujud niskala. Saat itu takkan ada lagi pintu, hanya abu; yang ada, menjadikannya tanpa asa namun dan terpaksa berlapang dada. Kelak ia akan hilang, sebab angin menariknya terbang dan ia akan pulang menjelma serupa tulang-belulang.

Dan.. Wahai, serta mulia; kepada yang bukan dan masih belia. Berharaplah segalanya akan terwujud, ketika kau tunduk dan bersujud. Karena setahun silam sempat ia berdoa; mengharap bahagia. Maka kini ia menjelma; serupa wanita bermahkota bunga dengan penuh suka cita. Karena segala yang bertaut pada pernah; akan jauh lebih sempurna, dan berakhir dengan paripurna.

Meski bermula sabda ‘kun’ lalu pernah dan kemudian akan punah. Pada akhirnya; segala yang ada padanya akan mulai hilang terasa. Dari kata, bahasa, suara, nada, rasa, asa dan cinta. Lalu demikian, sudah pantaskah kita untuk menghadapi bencana dan gembira pada pusara suraloka?

Semua yang ada…. akan tiada

Semua yang pernah… akan punah

Semua yang utuh… akan terjatuh


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp