Oleh: Ade Ryan Firdaus
Dinding kapur mengelupas, saksi bisu waktu yang sunyi,
Di antara hening subuh, takbir memecah dini.
Dari balik bilik sempit, selimut ditarik cepat,
Berlari menyambut fajar, di kolah air terasa pekat.
Bukan bantal empuk yang memanggil jiwa,
Tapi panggilan Muadzin, syahdu membelah Jawa.
Bersila di atas sajadah, alif, ba, ta, terangkai mesra,
Menghafal firman suci, bekal menuju akhirat dan dunia.
Di meja reot berjejer kitab-kitab kuning,
Tinta hitam coretan tangan, ilmu tak pernah kering.
Suara Kyai berwibawa, membimbing dari gelapnya ragu,
Tentang falsafah hidup, dan adab yang selalu dituju.
Sambil melilitkan sarung, dan mengikat peci miring,
Tangan menunjuk baris makna, pikiran terus menjaring.
Ada bahasa Arab yang menjadi jembatan cahaya,
Memahami warisan ulama, membuka pintu hikmah lama.







