Penyakit Perpolitikan Mengganggu Kedamaian Masyarakat

Oleh Zainuddin

Politik di negara demokrasi sangat menjadi waktu setiap 5 tahun sekali menjadi peristiwa pesta rakyat untuk merayakan proses demokrasi. Menurut Aristoteles, politik merupakan ”master of science”, maksudnya bukan dalam arti ilmu pengetahuan melainkan ia menganggap pengetahuan tentang politik merupakan kunci untuk memahami lingkungan. Politik tidak bisa dipisahkan oleh dua aspek yaitu konflik dan kerja sama. Konflik menggambarkan ketidakseimbangan perencanaan dalam perpolitikan sedangkan kerjasama menjadikan keterkaitan antar masyarakat dapat bersatu dengan baik.

Dalam berpolitik 1 hal yang harus dihindari selama proses berpolitik adalah Fanatisme. Dalam sosiologi, fanatisme adalah sikap atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan berlebihan terhadap suatu hal, seperti agama, politik, atau tokoh tertentu. Seseorang yang fanatik cenderung memiliki keyakinan yang kuat terhadap suatu ajaran, dan sulit berpikir kritis atau objektif. Fanatisme dapat menimbulkan konflik di masyarakat, dan sulit untuk meredakannya. Hal ini disebabkan karena orang yang fanatik menganggap orang lain yang berbeda keyakinan dengan mereka sebagai ancaman. 

Dengan adanya prosesi perpolitikan di indonesia yang menganut asas dasar demokrasi yang sudah dilaksanakan dari tahun 2008 yang di menangkan oleh bapak SBY yudhoyono dalam kontestasi pilpres membuat hal yang baru dalam pemilihan pemimpin negara. Namun, semenjak tahun 2008 hingga sekarang, fanatisme tidak bisa di elakkan, adanya ketertarikan yang terlalu dalam sehingga menganggap salah satu paslon yang lain dianggap tidak sesuai dengan keinginan hati. Hal ini yang memang harus dihilangkan setiap kontestasi pemilu. Ketegangan yang ditimbulkan oleh politik juga mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Persahabatan dan hubungan antar individu dapat rusak hanya karena perbedaan pandangan politik, yang seharusnya menjadi hal yang bisa dibicarakan dengan kepala dingin. 

Solusi untuk permasalahan di atas adalah pendidikan politik yang sehat dan inklusif sangat penting untuk mencegah polarisasi. Masyarakat perlu diberi pemahaman tentang pentingnya perbedaan pendapat dan bagaimana menjaga perdamaian dalam berpolitik. Kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang bagaimana berdebat dengan santun, menghindari ujaran kebencian, dan mengedepankan fakta juga sangat diperlukan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp