PETAKA HUJAN MEMBAWA BERKAH


Oleh: Hany Zahrah

        Senja mulai menampakkan diri di bawah langit mendung yang membasahi kota patriot. Tidak hujan memang, hanya gerimis namun banyak. Membuat Amir hanyut tenggelam dalam lamunan. Cakung (cuaca mendukung) kalo kata anak millenial. Hawa dingin menyelimuti kota itu. Minuman dan makanan hangat yang biasanya di cari kala dingin, memang cocok dengan dagangan Amir yang sedang sepi kala itu. Tak ada yang menengok bahkan melirik untuk sekedar menepi. Kini, jalanan sudah diselimuti air. Lantunan sholawat beriringan dengan gemercik  air hujan yang menggenangi. Tanpa sadar, Amir mengusap wajahnya karena hujan bukan hanya turun di jalan tapi di wajahnya juga. Langit mulai gelap, sudah waktunya istirahat. Ia pun terlelap. 

        Jaenab dan kedua anaknya menunggu di rumah dengan wajah penuh harap karena janji Amir kepada anaknya untuk membelikan dua bungkus nasi padang. Pupus sudah harapan. Amir masih setia menunggu keajaiban datang. Nihil,  semuanya percuma. Hari ini dagangannya tak laku,  bukannya balik modal malah rugi. Tak tega mengucap permintaan maaf, sebab gagal memenuhi janjinya itu, Amir pun berinisiatif menelpon ke rumah. Tapi sayang telepon hanya berdering. 

“Ah mungkin mereka sudah tidur” gumam Amir.

       Sudah waktunya pulang, Ia bergegas membereskan dagangannya. Lagi lagi Ia melamun sambil mendorong gerobaknya. Tak sadar, ada sebuah truk besar yang melaju kencang menuju dirinya, beberapa orang meneriaki Amir,  dan klakson truk itu berbunyi berkali-kali. Tapi, tetap saja Amir terus melangkah.

“Bbbrrakkkkk!” suara seseorang menutup pintu mobil dengan sangat keras membuat Amir terkejut dan terbangun dari tidurnya.

“Pak, soto nya ada?” 

“Iya Pak, masih ada” sumringah senang terpancar diwajah Amir.

“Saya pesan 20 bungkus ya pak”

“Alhamdulillah, iya pak” 

       Pembeli itu adalah Andi. Ia seorang supir dari direktur perusahaan A yang terkenal di kota patriot. Katanya, Ia sudah menelusuri sepanjang jalan Ahmad Yani, tapi semuanya tutup karena PPKM yang dibatasi sampai pukul 20.00 WIB. Rasanya tak karuan, sedari pagi Ia menunggu pembeli tapi tak ada satupun pembeli.

“Alhamdulillah Gusti, berkah sholawat” ucap Amir.

Andi hanya tersenyum mendengar ucapan penjual soto yang tak henti-henti nya mengucapkan rasa syukur.

“Ini pak, sudah”

“Totalnya jadi berapa?”

“Rp. 100.000 pak”

“Ini uangnya pak” Andi memberikan uang sejumlah 200.000.

“Maap pak, ini duitnya kebanyakan” (sambil mengembalikan uangnya)

“Gapapa pak, amanah dari bos saya”

“Alhamdulillah, makasih banyak ya pak”

         Petaka hujan membawa berkah menyadarkan amir bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang selalu mensyukuri apa yang terjadi pada dirinya, dan berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Lihatlah hal-hal postif setiap harinya, walaupun terkadang kita harus melihat lebih keras untuk mendapatkannya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp