Potret Ketimpangan Pendidikan dan Kekuasaan dalam Puisi “Sajak Sebatang Lisong” Karya W.S Rendra

Oleh Siti Rahmatillah

Pendahuluan

            Karya sastra yang berbentuk puisi tidak selamanya mengandung diksi puitis yang menggambarkan tentang perasaan cinta atau sekadar kata-kata indah sebagai khiasan semata, tetapi adakalanya ia mengandung nilai-nilai sosial dan berisi ekspresi yang menggambarkan keresahan, kegelisahan, dan kekhawatiran tentang fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar. Pernyataan ini diperkuat oleh Plato dan Aristoteles dalam teorinya tentang karya sastra sosial, ia mengatakan bahwa karya sastra merupakan tiruan dari fenomena yang terjadi di sekitar. Oleh karena hal demikian, lahirlah karya sastra yang di dalamnya memuat fenomena atau peristiwa-peristiwa sosial yang umumnya terjadi di lingkungan masyarakat, tak terkecuali karya sastra puisi “Sajak Sebatang Lisong” karya W.S Rendra yang di dalamnya memuat fenomena tentang ketimpangan pendidikan dan kekuasaan.

Berkaitan dengan karya sastra yang memuat fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat, Lucien Goldman dalam teori struktural genetiknya mengatakan bahwa karya sastra memiliki hubungan dengan peristiwa sosial yang terjadi dalam lingkungan pengarang. Dari hal ini dapat dipahami bahwa ideologi yang dihadirkan atau yang diekspresikan oleh pengarang dalam karya sastra sosial memiliki hubungan yang erat dengan kondisi sosial yang terjadi atau yang dialami oleh pengarang, dan hal ini juga dikenal dengan teori ekspresif. Namun, dalam teori struktural genetik pengarang tidak hanya dinilai sebagai individi atau subjek yang menciptakan karya sastra seperti halnya dalam teori ekspresif, tetapi pengarang di sini juga berkedudukan sebagai transindividual atau kolektif subjek (mewakili keresahan semua masyarakat) (Pratiwi, Safitri, & Farika).

Lahirnya hubungan sastra dan masyarakat dikarenakan oleh adanya ideologi yang diekspresikan oleh pengarang dengan bersumber dari fenomena yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri. Dan ideologi yang diekspresikan tersebut muncul melalui beberapa mediasi estetik, di antaranya mediasi semiotik, dan mediasi sosial dan historis. Mediasi semiotik adalah mediasi yang melihat objek-objek, peristiwa-peristiwa, atau budaya sebagai tanda atau kode sosial. Sedangkan mediasi sosial dan historis adalah mediasi yang melihat kondisi masyarakat sebagai struktur sosial yang dinamis (mengalami perkembangan sesuai kondisi zaman), dan ini mencakup seluruh berbagai aspek dalam kehidupan sosial (Haris & Amalia, 2018).

Puisi “Sajak Sebatang Lisong” Karya W.S Rendra dalam pengeskpresian ideologinya lahir melauli mediasi semiotik dan Mediasi Historis dan Sosial. Karena menilik nilai yang dieskpresikan terdapat peristiwa-peristiwa yakni adanya ketimpangan pendidikan dan juga kekuasaan. Selain itu juga terdapat refleksi di akhir bait sajaknya yang berarti sebuah anjuran untuk menghidupkan nilai-nilai yang sesuai dengan perkembangan zaman atau kondisi masyarakat sekitar.

Pembahasan

Ketimpangan Pendidikan

            Pendidikan harus diartikan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Melalui pendidikan pola pikiran dan perilaku seseorang dibentuk ke arah yang lebih baik, selain itu melalui pendidikan seseorang bisa memahami kondisi atau lingkungan yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan makna yang terkandung dalam puisi “Sajak Sebatang Lisong” Karya W.S Rendra justru kebalikannya, ia menggambarkan terjadinya ketimpangan pendidikan, berikut beberapa kutipan bait puisinya:

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet, dan papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persolan kehidupan

 

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing

     Diktat-diktat hanya memberi metode,

     Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

     Kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa-desa    

mencatat semua gejala, dan hanya menghayati persoalan yang nyata

 

Kutipan bait pertama menggambarkan kritikan tentang banyaknya generasi yang tidak memiliki kemampuan untuk mengenyam pendidikan, mereka tidak terfasilitasi dengan baik. Di kutipan tersebut juga menjelaskan adanya kelalaian negara, padahal ini sudah menjadi tanggungjawab negara dalam menyejahterakan pendidikan generasi. Dan bait puisi tersebut juga dijelaskan bahwa implementasi nilai-nilai pendidikan tidak sesuai dengan norma-norma atau budaya-budaya yang terjadi di sekitar “papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan”. Sedangkan kutipan pada bait kedua mengurai kritikan tentang pendidikan di Indonesia yang berkiblat pada nilai-nilai luar atau ideologi luar, hal ini juga diperkuat oleh pendapat H. M Idris Suryana KW yang mengatakan bahwa “selama ini pendidikan kita lebih banyak menggunakan literatur barat yang steril” (Rizal & Zuhri), padahal seharusnya pendidikan Indonesia harus sesuai dengan nilai-nilai yang ada di Indonesia, yakni beasaskan Pancasila dan UUD 1945.

Ketimpangan Kekuasaan

            Kekuasaan adalah cara atau kemampuan yang dimiliki untuk memerintah orang lain sesuai dengan yang diinginkan. Berdasarkan jenisnya, kekuasaan dibagi menjadi dua bentuk yakni hegemoni dan dominasi. Hegemoni adalah kemampuan yang dimiliki oleh penguasa untuk menjalakan peraturan sesuai dengan hasil kesepakatan, sedangkan dominasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh penguasa untuk menjalankan peraturan sesuai dengan keinginan tanpa mempertimbangkan hasil kesepakatan (Patria & Arif, 2003).

Ketimpangan kekuasaan yang terdapat dalam puisi “Sajak Sebatang Lisong” Karya W.S Rendra adalah ketimpangan kekuasaan dominasi. Adapun kutipan bait yang menggambarkan ketimpangan kekuasaan dominasi adalah sebagai berikut:

Gunung-gunung menjulang

            Langit pesta warna di dalam senjakala

            Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,

            Terhimpit di bawah tilam

Kutipan pada bait ini menggambarkan tentang adanya penindasan berupa terbungkamnya suara masyarakat yang menyuarakan tentang ketidakadilan. Rakyat berprotes tapi tidak diproses. Suara-suaranya ditenggelamkan, enggan didengar dan menutup telinga. Dan mereka yang berkuasa menari-menari di atas penderitaan masyarakatnya “Langit pesta warna di dalam senjakala”.

Kesimpulan

Puisi tidak hanya sebatas karya sastra yang berisikan kata-kata indah atau puitis belaka. Tetapi ia juga dapat dijadikan sebagai alat untuk mengeskpresikan kegelisahan, menyampaikan keresahan, dan menarasikan kritikan-kritikan sosial. Puisi merupakan salah satu cara berkomunikasi yang santun dalam berpendapat. Sebagian besar seseorang atau masyarakat sulit menyampaikan aspirasinya, tetapi melalui puisi dan rangkaian struktur kalimat di dalamnya mampu membuat pengarangnya merdeka dalam berekspresi dan menyadarkan serta mengajak pendengar atau pembacanya untuk merenungi makna-makna tersirat dan tersurat di dalamnya, salah satu contohnya adalah puisi “Sajak Sebatang Lisong” karya W.S Rendra yang di dalamnya memuat nilai-nilai kritikan sosial berupa ketimpangan pendidikan dan kekuasaan. Adapun bentuk ketimpangan pendidikan yang terkandung di dalamnya tidak terimplementasinya nilai-nilai pendidikan yang sesuai dengan norma-norma yang kehidupan yang terjadi di sekitar. Sedangkan bentuk ketimpangan kekuasaannya adalah terjadinya kekuasaan yang berlangsung secara dominasi.

DAFTAR PUSTAKA

Haris, A., & Amalia, A. (2018). Makna dan Simbol dalam Proses Interaksi Sosial (Sebuah Tinjauan Komunikasi). Risalah, 29(1), 16-19.

Patria, & Arif. (2003). Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pratiwi, D. A., Safitri, I., & Farika, L. (n.d.). Kritik Sosial dalam Kumpulan Puisi W.S Rendra: Kehidupan Masyarakat di Indonesia. Cakrawala Linguista, 59-67.

Rizal, H., & Zuhri, S. (n.d.). Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan Akhlak. SUHUF, 8(2), 166-181.

 

Lampiran 1 Puisi “Sajak Sebatang Lisong” Karya W.S Rendra

Menghisap sebatang lisong,

melihat Indonesia raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka

 

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet, dan papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persolan kehidupan

 

Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan, tanpa pepohonan,

tanpa dangau persinggahan,

tanpa ada bayangan di ujungnya.

 

Menghisap udara yang disemprot deodorant,

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya;

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiun

 

Dan di langit;

para tekhnorat berkata:

bahwa bangsa kita adalah malas,

bahwa bangsa mesti dibangun

mesti di up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

 

Gunung-gunung menjulang

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,

Terhimpit di bawah tilam

 

Aku bertanya

tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian

 

Bunga-bunga bangsa tahun depan

Berkunang-berkunang pandang matanya,

di bawah iklan berlampu neon

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak

Menjadi gemelau suara yang kacau,

menjadi karang di bawah muka samodra

 

Gunung-gunung menjulang

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,

Terhimpit di bawah tilam

 

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat

Apakah artinya kesenian

Bila terpisah dari derita lingkungan

Apakah artinya berpikir

Bila terpisah dari masalah kehidupan

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp