PULANG DAN HARAPAN

Oleh: Nety Novita Hariyani

            Sepintas kedua mataku terpusat pada
anak panah yang mengitari angka demi angka dengan lambat, anak panah merah
lebih cepat berotasi sedang kedua anak panah yang lebih panjang darinya berada
di titik sembilan dan lainyya di titik enam. Jam menunjukkan pukul 09:30, dua
jam lagi aku akan mengudara. Ribuan harapan yang terpendam terlalu lama
kupastikan ikut terbawa juga. “aku akan pulang, ma”.
            Aku terlalu muak dengan penantian,
yang kuinginkan hanyalah senyum merekah darimu, mama. Meski kau tahu hadirku
belum tentu menjamu, kau tetap setia menungguku di ujung pintu kedatangan
bersama ayah dan saudaraku.
            Aku bersandar di sebuah kursi sambil
melihat kepulan awan di jendela tepat disebelahku. Kebisingan bunyi mesin
pesawat terdengar dengan jelasnya memacu adrenalin kecemasanku selama
penerbangan. Awak pesawat dengan gagahnya menembus awan-awan yang menghalangi
jalannya.
            Di dalam pesawat ada yang tertidur,
bahkan ada juga yang mendengkur. Ada yang menonton tv karena kebetulan tv yang
melekat di belakang kursi bagian dari fasilitas pesawat yang aku tumpangi saat
ini. Berbeda dengan penumpang lainnya, aku lebih memilih meratapi, tepatnya
merintih, namun terelai oleh pertemuan yang pasti. “Siang ma, aku telah
kembali”. Selama dua jam perjalanan menyusuri awan, doamu kini tersampaikan
dengan terbalaskannya ribuan kerinduan.
            “Mbak, mohon tegakkan sandaran
kursinya, sebentar lagi kita akan take off” salah satu pramugari menyadarkanku
yang tengah tertidur dengan tangan lembutnya. Ternyata aku hanya mimpi.
           
           

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp