
Oleh: Zahriyatun Nafiah
Identitas Kitab:
- Judul Kitab: Maulid Diba’
- Pengarang: Al-Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar ad-Dibai
asy-Syaibani al-Yamani asy-Syafi’i - Tahun Kelahiran Pengarang: 866 H (1461 M)
- Tahun Wafat: 944 H (1537 M)
- Bahasa: Arab
- Tema Utama: Kisah Maulid (Kelahiran) Nabi Muhammad SAW
- Jenis Kitab: Natsar (prosa) dan Nadhom (puisi)
Review
Kitab Maulid Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang paling banyak dibaca oleh umat
Islam, khususnya dalam tradisi Islam Sunni. Kitab ini ditulis oleh Imam Abdurrahman ad-Diba’i.
Beliau adalah seorang ahli hadis, sejarawan, dan faqih dalam Mazhab Syafi’i. Dalam kitab ini, Imam
Dibai menghadirkan kisah kelahiran dan kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan gaya sastra yang
indah.
Kitab ini dibacakan terutama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi
membaca maulid telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Muslim di berbagai
belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Kitab Maulid Diba’ memiliki struktur yang khas, memadukan prosa (natsar) dan syair
(nadhom). Bagian prosa berisi cerita sejarah kehidupan Rasulullah SAW, mulai dari peristiwa-
peristiwa sebelum kelahiran beliau, hingga berbagai mukjizat yang menyertai kehidupan Nabi
Muhammad. Di dalamnya juga dikisahkan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam, seperti
peristiwa Isra & Miraj dan hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah.
Bagian syair dalam kitab ini penuh dengan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.
Syair-syair ini biasanya dilantunkan dalam bentuk nasyid atau qasidah. Syair-syair ini tak hanya indah
secara estetika, tetapi juga mengandung makna tentang kecintaan dan penghormatan kepada Nabi.
Di dalam kitab ini terdapat beberapa tema yang dibahas di antaranya adalah tentang kelahiran
Nabi Muhammad SAW. Kitab ini mengisahkan tanda-tanda kebesaran yang mengiringi kelahiran
Nabi Muhammad, termasuk fenomena alam yang terjadi seperti cahaya yang menerangi langit dan
bumi. Selanjutnya diceritakan juga mengenai mukjizat yang dialami oleh Nabi Muhammad misalnya
mukjizat terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jari Nabi, serta berbagai mukjizat lain yang
menguatkan iman para sahabat. Kitab ini juga menyoroti akhlak Nabi Muhammad SAW yang menjadi
teladan bagi seluruh umat Islam. Sifat-sifat seperti kesabaran, keadilan, kasih sayang, dan
kebijaksanaan beliau menjadi pokok utama dalam bagian ini. Di akhir kitab, pembaca diajak untuk
memohon syafaat dari Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk harapan agar di akhirat kelak umatnya
mendapatkan pertolongan.
Kritik dan Tantangan:
Meski Kitab Maulid Diba’ banyak diterima oleh umat Islam, sebagian kelompok mengkritisi
pembacaan kitab maulid secara seremonial. Mereka berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi
dalam bentuk pembacaan kitab maulid seperti ini tidak dilakukan oleh para sahabat atau generasi
salaf, sehingga dianggap sebagai praktik baru yang tidak memiliki dasar dalam sunnah Nabi.
Namun, ulama yang mendukung pembacaan maulid berpendapat bahwa selama niatnya
adalah untuk menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad dan dilakukan dengan cara yang benar,
maka hal tersebut diperbolehkan. Mereka juga berpendapat bahwa peringatan maulid tidaklah
bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam, melainkan sebagai cara untuk menumbuhkan
cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.
Kelebihan Kitab Maulid Diba’:
1. Kitab ini tidak hanya sebagai narasi sejarah, tetapi juga sebagai karya sastra yang indah
dengan penggunaan bahasa yang kaya akan majas, metafora, dan simbolisme.
2. Pembacaan kitab ini di berbagai majlis atau peringatan keagamaan memberikan dampak
spiritual yang kuat bagi para pembacanya. Melalui lantunan syair-syair pujian, umat Muslim
diajak untuk lebih mencintai dan mengenal sosok Nabi Muhammad SAW.
3. Kitab Maulid Diba’ menjadi bagian dari tradisi keagamaan di banyak negara Muslim,
terutama di kalangan masyarakat Sunni.
Pondok Pesantren Darun Nun







