Oleh Silvia Izzatul Maula
Sejak mulai kuliah dan tinggal jauh dari rumah, banyak hal yang berubah. Dulu
setiap hari saya selalu ada di rumah. Setelah bangun tidur, saya bisa bertemu ibu
dan keluarga. Kalau lapar, tinggal mencari makanan. Kalau ingin cerita sesuatu,
saya bisa langsung berbicara dengan orang rumah.
Sekarang semuanya berbeda.
Awalnya saya merasa senang karena akhirnya bisa merasakan kehidupan sebagai
mahasiswa. Saya bisa punya lingkungan baru, bertemu teman-teman baru, dan
belajar untuk lebih mandiri. Saya juga berpikir tinggal jauh dari rumah mungkin tidak
akan terlalu sulit.
Ternyata saya salah.
Beberapa hari pertama masih terasa biasa saja karena saya cukup sibuk dengan
kuliah dan kegiatan lainnya. Saya mencoba menikmati semuanya. Saya juga mulai
berkenalan dengan teman-teman dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
baru.
Namun, ketika malam datang dan suasana mulai sepi, saya mulai merasa ada
sesuatu yang kurang.
Saya mulai ingat rumah.
Saya ingat makanan yang biasanya ada di rumah. Saya ingat suara ibu yang
kadang memanggil dari luar kamar. Saya juga ingat hal-hal kecil yang dulu sering
saya anggap biasa.
Dulu, saya mungkin merasa biasa saja ketika setiap hari bertemu keluarga.
Sekarang, ketika sudah jauh, hal-hal sederhana itu justru sering saya rindukan.
Kadang saya berpikir, ternyata saya rindu juga dengan rumah.
Suatu malam, saya menelepon ibu.
“Bu, lagi ngapain?” tanya saya.
“Lagi di rumah. Kamu gimana?”
“Baik, Bu.”
Padahal sebenarnya saya sedang merasa tidak terlalu baik. Bukan karena ada
masalah besar, tetapi saya hanya sedang merasa ingin pulang.
Saya lalu bertanya tentang keadaan di rumah. Ibu bercerita seperti biasa. Kami
membicarakan banyak hal, meskipun sebenarnya hal-hal yang sederhana. Tapi
entah kenapa, setelah mendengar cerita ibu, saya merasa sedikit lebih tenang.
Setelah telepon ditutup, saya masih memikirkan rumah. Rasanya memang aneh.
Hanya dengan mendengar suara ibu beberapa menit, rasa rindu saya bisa sedikit
berkurang.
Setelah itu, rasa rindu rumah tetap muncul beberapa kali. Apalagi ketika sedang
capek atau sedang banyak tugas. Ada saatnya saya berpikir ingin pulang saja. Saya
ingin kembali ke rumah, makan masakan ibu, lalu tidur dengan tenang tanpa
memikirkan kegiatan besok.
Tapi saya tahu saya tidak bisa terus seperti itu.
Saya tahu saya ke sini memang untuk kuliah. Saya juga ingin belajar mandiri dan
mencoba menjalani kehidupan yang baru. Kalau setiap kali merasa rindu saya
memilih untuk pulang, mungkin saya tidak akan pernah terbiasa dengan kehidupan
seperti ini.
Akhirnya saya mencoba menjalani semuanya pelan-pelan. Kalau sedang rindu, saya
menghubungi keluarga. Kalau sedang merasa sepi, saya mencoba berbicara
dengan teman. Saya juga mulai menyibukkan diri dengan kuliah dan kegiatan
lainnya.
Lama-lama saya mulai mengerti bahwa rindu rumah itu hal yang wajar. Apalagi
sebelumnya saya terbiasa tinggal bersama keluarga setiap hari, lalu sekarang harus
jauh dari mereka.
Saya juga mulai sadar bahwa selama ini ada banyak hal sederhana di rumah yang
ternyata sangat berarti. Bertemu keluarga setiap hari, makan bersama, mendengar
suara orang tua, bahkan hal-hal kecil yang dulu kadang membuat saya kesal,
sekarang justru menjadi sesuatu yang saya rindukan.
Mungkin saya memang belum sepenuhnya terbiasa dengan kehidupan jauh dari
rumah. Masih ada hari ketika saya ingin pulang. Masih ada malam ketika saya
merasa sepi dan kembali memikirkan rumah.
Tapi sekarang saya mencoba untuk tidak terlalu larut dalam rasa rindu itu. Saya
mencoba mengingat alasan kenapa saya berada di sini dan apa yang ingin saya
capai.
Saya percaya, seiring berjalannya waktu, saya akan mulai terbiasa. Mungkin tidak
langsung, tetapi sedikit demi sedikit.
Sekarang saya mulai memahami bahwa pergi jauh dari rumah bukan berarti saya
harus melupakan rumah. Justru karena jauh, saya jadi lebih menghargai hal-hal
yang dulu sering saya anggap biasa.
Karena ternyata, rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat di
mana ada orang-orang yang selalu saya rindukan, sejauh apa pun saya pergi.
Pondok Pesantren Darun Nun







