Rumah ke Dua

“Katanya rumah itu tempat pulang ya? Katanya rumah itu tempat ternyaman ya? Katanya rumah tempat bersandar teraman ya? Tapi mengapa aku tidak merasakan itu?,” ucap Liona dalam hati meratapi nasib.

Liona yang memojok di kamar itu bengong, tatapan kosongnya menggambarkan betapa berisiknya isi kepala. Bilik kecil menjadi saksi betapa terpuruknya nasib Liona. Ia bangkit dari duduk dengan sempoyongan, mengelus dada perlahan, membuka engsel pintu kamar dengan lemas. Pandangannya suram tidak ada gairah hidup, mencoba ke kamar mandi membasuh muka untuk memulai hari kembali agar segar.

“Aw…,” Liona merintih kesakitan.

Rupanya ia lupa bahwa sisa goresan di lengannya masih terbuka lebar. Rasa perih masih tertancap hebat. Namun, goresan parah itu masih terkalahkan dengan rasa sakit di hatinya. Bukan tanpa alasan Liona melakukan hal ini, bukan juga karena sekedar mengikuti trend viral. Tetapi, rasa sakit yang terpendam dari lama dan tidak ada seorangpun yang mengerti keadaannya, termasuk keluarganya.

Hal negatif yang harusnya bisa dikeluarkan, disalurkan dengan sekedar “bercerita” yang membuat hati lega kini tidak tersampaikan. Semua Liona pendam sendiri sampai pada waktu dimana bottle up, tumpah. Pelampiasan yang seharusnya dengan baik justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, ia menggores lengannya dengan segala benda tajam di sekitarnya. Segaris demi segaris ia lewati, sampai akhirnya Liona kebingungan area mana lagi yang harus digores karena sekujur tubuhnya sudah penuh barcode.

Liona hanya ingin mati, ia sudah merencanakan bunuh diri sejak lama. Namun, ia selalu memikirkan bagaimana cara bunuh diri paling aman tanpa ketahuan orang sekitar. Ia hanya bisa melukai dirinya sedikit demi sedikit dan selalu bertambah level. Menggores lengan dengan silet, meminum obat hingga overdosis, menjambak rambut hingga botak, membenturkan kepala dengan kencang, sampai di titik ia sengaja membakar diri.

“Eh, bau apa ini?”, ucap Ayah panik.

“Loh, sebentar, ini kok kaya dari sini ya baunya?”, Ibu seperti merujuk ke arah kamar Liona.

“Apa yang kebakaran ini? Buka! Buka!,” teriak Ayah sambil menggedor pintu. Liona diam tak berkutik. Tetap bertahan dengan api yang kian menyambar bajunya perlahan.

DUARRRR GLODAKK!!!

Ayah membuka paksa pintu kamar Liona dan berteriak, “KAMU NGAPAIN?!”, dilanjut dengan Ayah mematikan api yang masih membara dengan kain disekitar.

“AKU CAPEK, YAH! AKU MAU MATI HIKS…”, teriak Liona disusul dengan tangisan yang terisak-isak.

“Maksudmu apa? Terus dengan mati semua masalahmu selesai?!,” Ayah menampar dengan fakta.

Liona terdiam. Ia hanya tertunduk dan menangis.

“Yah, sudah yah, duduk sini,” Ibu menenangkan Ayah yang masih membara.

Ayah mengomel berjam-jam, menceramahi Liona dengan pakaian compang-campingnya yang sebagian terbakar. Setelah itu Ayah keluar dari kamar bersama Ibu dan Liona langsung menutup pintu, mengunci dengan erat pintu kamar. Kembali meratapi nasib, merebahkan tubuh di lantai, menatap langit-langit kamar sambil menangis. Menangis paling menyakitkan, tanpa suara.

Liona selalu berandai, “Ayah, Ibu… aku tidak pernah minta dilahirkan, tetapi mengapa ketika aku lahir kalian seolah tidak menginginkan kehadiranku? Andai aku tidak dilahirkan ke dunia ini.”

Ratapan pilu itu menggambarkan betapa seramnya suasana rumah Liona. Broken home atau yang memiliki arti Rumah rusak bukan sekedar perceraian, tetapi lebih dari itu. Kata “Rumah Rusak” itu bukan hanya terlihat dari luar, tetapi justru di dalam yang lebih krusial.

Ayah selalu mengungkit ekonomi keluarga, secara tidak sadar menunjukkan bahwa Liona sebagai beban. Bahkan perihal sakit yang tidak terduga pun bisa diungkit Ayah. Bahkan Ayah sampai melakukan kekerasan fisik. Mungkin kunci dalam berumah tangga tidak di titik beratkan pada harta. Tetapi perlu diingat, bahwa kestabilan finansial juga mempengaruhi kestabilan emosional.

“Sini lagi nggak punya uang gini malah sakit, belum periksanya, belum beli obatnya, uang siapa?”, ucap Ayah kepada Liona ketika sakit.

Liona justru dimarahi karena tidak bisa menjaga pola makan, padahal ia sendiri juga tidak menginginkan sakit. Sakit itu datang secara tidak terduga, faktor lain juga karena cuaca sedang tidak bagus sehingga mempengaruhi kesehatan tubuh. Liona mendapatkan perlakuan itu mulai dari kecil hingga saat ini ia beranjak remaja. Mungkin dahulu ia hanya diam saja karena tidak mempunyai daya dan upaya. Namun, sekarang ia sudah mulai bisa mencari kebutuhannya sendiri dan perlahan mengurangi interaksi dengan orang tua.

Liona dewasa yang terkenal dengan ketangguhannya, semua masalah ia handle sendiri. Bahkan untuk mengucapkan kata “minta tolong” nyaris tidak pernah. Ia menjadi sosok yang sangat mandiri, yang biasa disebut dengan independent woman. Bisa apa-apa sendiri bukan benar-benar mandiri, tetapi ada makna terdalam yakni tidak ingin berharap lebih ke orang lain karena takut tidak sesuai ekspektasi dan kecewa.

Rasa ketakutan itu selalu membuat was-was Liona dalam bersosialisasi. Pengalaman yang ia dapat dari orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung baginya justru menjadi neraka. Rumah sebagai tempat ternyaman justru ia tidak mendapatkannya dan bingung harus mencari kemana. Trust Issue yang mendalam membuat Liona tidak mempercayai siapapun kecuali dirinya.

Sampai suatu ketika, ia bertemu seseorang yang membuatnya nyaman. Sosok lelaki yang sangat mencintainya dengan tulus. Awalnya Liona juga tidak menerima begitu saja, ia masih trauma dengan yang seharusnya menjadi cinta pertamanya justru menjadi sumber ketakutan dalam hidup. Namun, seiring berjalannya waktu ia mulai luluh dengan lelaki itu.

Keseriusan mulai tampak pada lelaki tersebut, ia mendatangi rumah Liona dan melamarnya. Sampai di waktu ketika mereka benar-benar siap secara mental dan fisik, mereka berdua menikah. Pada jenjang ini, Liona tidak menjadikan bentuk traumanya berlarut-larut dan menghambat keseharian. Justru ia belajar dari pengalaman, bahwa menikah bukanlah hanya sekedar dua insan yang saling mencintai. Tetapi bentuk parenting yang masih harus tetap belajar sampai memiliki anak dan menjadi orang sukses.

Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, orang tualah yang meminta mereka untuk lahir. Karena sesungguhnya menikah dalam kondisi miskin merupakan tindak kriminal. Berdamai dengan diri sendiri memanglah tidak mudah, semua membutuhkan proses yang panjang, asalkan memiliki niat dan tekad. Liona menjadikan pengalaman pahitnya sebagai pembelajaran agar tidak terulang di masa depan. Kini Liona bahagia bersama keluarga kecilnya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp