SANG PENJEMPUT BAITULLAH

Oleh : Nurmiati Habib
Cerita ini kelanjutan dari kisah kehidupan dek Aida Sang Hafidzah al-Quran yang lahir dari keluarga sederhana namun penuh keteduhan. Di tengah kami sedang berbincang begitu asiknya. Datanglah satu keluarga menggunakan mobil.
“Assalamualaikum, Saya pingin sambang Pak Haji”  celetuk seorang ibu
“Waalaikumsalam, Monggo-monggo silahkan masuk, Saya lagi ada tamu yang mau mengundang Aida di acaranya” kata ayah Aida
Merekapun lelap dalam pembahasan yang dibicarakan. Sembari menunggu tamunya selesai, kami bertiga mengobrol bersama membahas kehidupan orang-orang di lingkungan keluarga dek aida tinggal yang banyak orang Madura, dan membahas tamu keluarga yang datang ternyata Bu Nyai dan punya salah satu pondok besar di Gondang Legi. Setelah tamu Ayah Aida  pulang. Kami berbicang kembali dan ternyata keluarga Bu Nyai tadi meminta ayah Aida untuk menjadi kepala sekolah di Yayasan yang mereka punya.
Setelah itu Pembahasan kami berlanjut mengenai awal cerita keinginan ayah Aida untuk menunaikan ibadah haji. Walaupun dengan kesederhanaan yang ada namun memiliki keinginan mulia untuk ke Baitullah. Saat itupun ayah aida berkata 
“Saya itu mbak, bukan dari orang punya.Yaa seperti ini keluarga saya yang terlihat.Tapi saya pingin banget berangkat naik haji. Makanya saya setiap orang baru pulang naik haji, saya harus dateng  kerumahnya dan meminta doa. Karena saya berfikir, ketika saya dan keluarga belum bisa sampai kesana, setidaknya saya dapat barokah doa dari orang-oramg yang baru pulang menunaikan haji” 
“Masyallah sekali bapak satu ini” gumamku dalam hati. 
Cerita mengalir sebagaimana mestinya. Kamipun medengarkan cerita ayah Aida dengan begitu terheran-heran.
“Bahkan bukan Cuma satu, dua, tiga rumah yang didatangi. Saya sambangi semua orang yang ada di daerah tempat saya tinggal. Tahun 2017 saya datangi empat puluh enam orang jamaah baru pulang naik haji. Di tahun yang sama juga saya langsung pergi ke tempat penurunan atau tempat kumpul jamaah haji di Malang. Disana saya menunggu rombongan haji yang turun dari bis dan langsung meminta doa. Dengan harapan suatu saat saya akan bisa seperti mereka. Dan alhamdulillah tahun ini kami sekeluarga bisa menunaikan ibadah haji secara bersama”. Kata Ayah Aida.
Secara bersama kami hanya bisa berucap 
“ Doakan Kami saget kesana”. 
 Kuasa Gusti Allah memang tiada duanya. Perjuangan dahulu yang saat ini menuai hasil dari apa yang telah di doa-doakan. Dibalik rumah sederhana nyatanya berisi anggota-anggota keluarga yang sangat menginspirasi banyak orang. 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp