Lihatlah semut, kakinya yang begitu lemah mampu menompang benda yang lebih berat darinya. Sehingga bias membawa sebutir nasi untuk memenuhi kebutuhannya.
Lihatlah rumput, akal serabutnya yang sangat kecil mampu melawan derasnya hujan dan kerasnya hembusan angin. Sehingga bias tumbuh menjadi semakin subur dan indah.
Lihatlah lumut, berukuran sangat kecil tapi bisa membentuk kolomi yang mampu menjangkau tempat luas. Sehingga bisa tumbuh lebih cepat daripada tumbuhan besar lainnya.
Dan sekarang lihatlah kaki kita, yang lebih kekar daripada kaki semut, yang lebih kuat daripada akar rumput, dan yang lebih besar dari ukuran lumut.
Mampukah kia bertahan diatas perjuangan layaknya semut mampu membawa sebutir nasi?
Mampukah kita melawan masalah layaknya rumput melawan derasnya hujan dan kerasnya hembusan angin?
Mampukah kita melampaui orang orang hebat layaknya lumut yang tumbuh lebih cepat daripada tumbuhan lainnya?
”لا يكلف الله نفسا إلا وسعها”
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”
Kita mampu seperti semut, kita mampu seperti rumput, kita mampu seperti lumut, bahkan lebih dari itu. Ada garis tipis di ujung bibir orang tua yang harus kita wujudkan. Senyumannya, adalah harapan kita semua.







