Ramdan dan Sekar baru sampai di daerah Jombang, mungkin baru separuh perjalanan dari Madiun menuju Surabaya. Awalnya langit masih nampak sumringah, hingga memasuki kota ini perlahan menitikan rintikannya. Tidak butuh wa
Ramdan mulai membatin dalam hatinya “ Ya Tuhan, jangan hujan sekarang, perjalanan masih jauh”
Tapi apalah daya, doa tidak makbul. Hujan tetap turun, malah makin deras dan terlalu agresif.
“ Meneduh dulu Mas” kata Sekar
Ramdan mengiyakan saran dari Sekar. Kami memutuskan untuk berteduh di masjid sekalian luhuran.
Entah kenapa doa kami di acc Tuhan. Hujan mulai reda, kembali jadi rintik lalu hilang.
“ Hatur nuhun Gusti” Ucap Ramdan kala itu.
Melihat langit yang menyudahi tangisannya, tanpa berpikir panjang mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalananan. Ramdan mulai menstarter vespa kesayanganya, dan melaju menggilas aspal hitam di sepanjang jalanan Jombang.
Tidak sampai 10 menit kita meluncur, hujan yang tadi sempat pergi ternyata kembali.
“ Waduh Neng, (panggilan khas Ramdan buat Sekar), Gusti Allah itu memang suka becanda ya. Tadi kita berteduh, hujan berhenti. Kita jalan, hujan juga jalan.” Keluh Ramdan
“ Makanya mas, Jangan banyak komen, terima aja apa yang Tuhan kasih buat kita.” Balas Sekar
Belum sampai kita untuk meneduh, vespa yang kami tunggangi tiba tiba bergoyang. Kanan kiri, kaya mendengar musik.
“ Lo lo lo, ini kenapa mas ? kok kita goyang ? “ Sekar mulai panik.
“ Tenang, biasa. Kan ini hujan, jadi jalanya licin kaya belut tu ” Jawab Ramdan.
Ramdan membatin “kok makin asik goyanganya ya ?”
Akhirnya kami menepi dan ternyata apa, bannya bocor. Kami hanya bisa pasrah akan keadaan. Tapi kami juga bersyukur karena di sebrang jalan sudah disiapkan tukang tambal ban oleh Tuhan. Memang Tuhan itu pengertian. Otomatis kita gandeng tunggangan kami ke sana, sekalian berteduh.
Tambal ban berjalan mulus. Tapi, hujan tak kunjung usai dan kami terpaksa harus tetap melanjutkan perjalanan. Tapi mantel kami cuma satu.
“ kalau aku yang pakai, ntar dikira egois. Kalau ku kasihkan dia, ntar dikira akunya sok romantis atau apalah” batin Ramdan
Akhirnya Ramdan mengambil putusan, untuk membelikan mantel cewek yang diajaknya, yang sebenarnya ia sukai, tapi malu untuk mengungkapkan. Harganya memang murah dua puluh lima ribu, tapi tak apalah yang penting tidak tembus air dan tak tembus pandang.
Tanpa basa basi. Kami langsung mengenakan seragam mantel kami yang kebetulan sama warnanya, biru. Seperti pasangan couple gitu. Asik .
Kali ini Ramdan tidak khawatir lagi. Mau hujan, mau gerimis. Sudah aman, ada mantel. Calon istrinya pun sudah aman.
Baru melaju tiga menitan, hujan mendadak reda, lalu berhenti. Tidak pamitan, dah kaya jelangkung aja.
“ Lahh kan, Tuhan memang suka becanda. Serius.” Kata Ramdan kembali.
“ Kalau ini benar Mas, Tuhan lagi becanda” sahut Sekar.
Mau gimana lagi mantel barusan aja dikenakan. Eh, hujan malah hilang. Kami pun tetap mengenakanya walaupun mentari mulai nongol lagi dari ujung barat. Aneh rasanya, barusan dipakai kok dicopot lagi. Biarlah dikatakan orang aneh, sudah tidak hujan masih mantelan. Bagi kami yang penting jalan, toh tidak menggaanggu yang lain kok. Hanya mengangu pandangan saja mungkin.
Malang, 13 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun







