UMPATAN SULAMI

 Oleh: Nur Sholikhah

     Namanya Sulami, semasa hidupnya ia bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional. Ia menjual kebutuhan pokok dan buah-buahan. Suatu hari di pagi yang mendung, ia berangkat seperti biasa. Jam munjukkan pukul 5 pagi, Sulami sudah berangkat menuju pasar dengan mengendarai motor matic baru miliknya, tak tanggung-tanggung ia mengendarai dengan kecepatan tinggi karena jalan masih sepi.

    Namun di tengah perjalanan, seekor kucing melintas dengan tiba-tiba. Ia kaget bukan kepalang, sontak ia langsung mengerem dan mengumpat.

“Dasar kucing bodoh! hampir saja aku jatuh karenamu!” Ia melanjutkan perjalanan, melintasi jalanan desa, sawah-sawah, lalu jalan raya dengan banyak lubang di tubuhnya. Ia mengumpat lagi, berkali-kali. Sudah hampir semua binatang ia sebut dengan kasar. Bahkan binatang yang sudah punah pun tak luput dari umpatannya.

    Sesampainya di pasar, langit sudah tak lagi gelap. Ia berjalan setengah berlari, membuka tokonya, menyalakan lampu, menata apapun, menyapu lantai dan tersenyum mesra pada sinar mentari yang mulai berseri.

      Dan tiba-tiba banyak pembeli yang berkerumun di tokonya, ia tersenyum lebar sambil melayani mereka. Namun naas, para pembeli tak ada yang mau membayar. Ia mengumpat lagi sambil mengusirnya dengan sapu lidi.

“Dasar kucing-kucing brengsek, pergi sana!”

Dan para pembeli itu berlalu dengan ekspresi biasa saja.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp