Oleh: Nabila Ika Hikmatul Farochah
Aroma bensin dan deru mesin kendaraan mengiringi langkah awal pagi itu. Sekitar pukul sembilan pagi, matahari mulai menyengat, tetapi antusiasme bercampur gugup di dalam dada jauh lebih mendominasi. Aku tidak langsung meluncur ke lokasi posko. Sesuai janji semalam, aku memilih berhenti dulu di SPBU terdekat dari batas Desa Raci, menunggu sosok yang paling bisa kuandalkan pagi ini.
Tak berapa lama, sebuah motor matic dengan barang bawaan menumpuk di jok belakang menepi di sampingku. Pengendaranya membuka kaca helm, memperlihatkan wajah yang tak kalah letih tapi tetap menyunggingkan cengiran khasnya.
“Moana! Sori ya nunggu lama, jalanan lumayan padat tadi,” panggil Mpus sambil mematikan mesin motornya.
“Santai, Mpus. Aku juga baru lima belas menit nyampe kok,” jawabku seraya menepuk kardus perlengkapan yang terikat rapat di atas motorku.
Kami saling lempar pandang, sebuah isyarat tanpa kata yang seolah menegaskan bahwa petualangan ini resmi dimulai. Bagi kami berdua, Desa Raci sebenarnya bukan tempat yang asing. Dalam satu bulan terakhir, aku sudah beberapa kali menginjakkan kaki di desa ini. Mulai dari urusan observasi awal, survei rumah yang bakal dijadikan posko, rapat koordinasi dengan perangkat desa, hingga pemetaan masalah untuk program kerja KKN kami. Aku sudah cukup hafal belokan jalan utamanya, warung kopi di pinggir gang, jalanan rusak dan penuh debunya, hingga hamparan pemandangan sawah yang menjadi ciri khas desa ini.
Namun, kedatangan kali ini rasanya jauh berbeda. Hari ini bukan sekadar kunjungan singkat beberapa jam lalu pulang ke rumah masing-masing. Hari ini adalah titik awal di mana aku, Moana, bersama Mpus dan belasan orang lainnya resmi menjadi warga sementara Desa Raci Wetan selama 45 hari ke depan.
Kami pun berkendara beriringan memasuki gapura desa. Begitu roda motor kami berhenti di halaman posko, suasana sibuk langsung menyambut. Beberapa anggota kelompok lain sudah lebih dulu sampai. Di teras depan, tampak tumpukan tas koper, kardus mie instan, dan galon air yang masih tersegel.
“Woi, Moana! Mpus! Baru sampai juga kalian?” sapa salah satu teman dari dalam posko seraya melambaikan tangan.
Aku dan Mpus membalas sapaan itu dengan senyuman hangat seraya mulai merapikan barang bawaan. Namun, tak bisa dipungkiri, awan canggung masih menggelayut lumayan tebal di udara. Meskipun nama-nama mereka sudah sering muncul di grup WhatsApp dan kami beberapa kali bertemu saat rapat persiapan, kenyataan bahwa kami harus tinggal di bawah satu atap yang sama adalah hal yang sepenuhnya baru. Obrolan-obrolan awal terasa sedikit kaku dan berhati-hati, diwarnai tawa seadanya serta pertanyaan-pertanyaan standar penyambung rasa canggung.
Hari pertama ini memang tidak diwarnai acara penyambutan megah atau kegiatan besar bersama warga desa. Namun, ada satu agenda mendesak yang justru menjadi momen paling membekas, yah membersihkan posko.
Bangunan yang akan jadi markas kami selama satu setengah bulan ke depan itu tampak sudah lumayan lama tidak dihuni. Lapisan debu tipis menyelimuti lantai keramik, sarang laba-laba bertengger nyaman di sudut-sudut langit-langit, dan aroma pengap langsung menyengat begitu pintu kayu utama dibuka lebar-lebar. Tanpa perlu komando yang rumit, kami mulai membagi tugas secara alami. Ada yang memegang sapu ijuk, mengambil ember, mengelap kaca jendela yang kusam, hingga menyapu daun-daun kering di halaman depan.
Di tengah kepulan debu dan peluh yang mulai menetes, kekakuan yang tadi sempat mengganjal perlahan-lahan melumer. Es pecah bukan lewat diskusi formal, melainkan lewat teriakan kaget Mpus saat menemukan kecoa di balik meja tua, atau guyonanku saat berebutan kain pel yang jumlahnya terbatas. Kerja bakti mendadak itu memaksa kami untuk saling berkomunikasi, saling bantu, dan akhirnya tertawa lepas bersama.
Ketika sore menjelang dan proses pembersihan selesai, lantai posko yang tadinya kusam kini tampak jauh lebih layak huni. Kami duduk selonjoran bersama di lantai teras yang dingin, menikmati angin sore sambil meneguk air mineral. Menatap rumah sederhana yang kini bersih itu, ada rasa lega yang menyusup pelan di benakku. Hari pertama mungkin terasa biasa saja tanpa kejutan besar, tetapi debu yang kami sapu bersama hari ini menjadi fondasi awal dari cerita panjang 45 hari yang baru saja dimulai.
bersambung…
Pondok Pesantren Darun Nun







