Oleh: NabilaF
Bagian 7: Gagasan Bersama Pemuda Desa
Hari ketujuh di Desa Raci terasa sedikit berbeda. Minggu pertama keberadaan kami di tanah perantauan sementara ini resmi tuntas hari ini. Jika enam hari sebelumnya diisi oleh pengenalan medan, adaptasi internal, dan pendekatan emosional dengan warga, maka hari ketujuh ini menjadi momen transisi penting dari sekadar bertamu menjadi benar-benar berkolaborasi.
Pagi hingga siang hari berlalu seperti biasa. Suasana posko kini sudah jauh dari kata kaku. Sarapan pagi diisi dengan piring-piring yang bergantian dicuci, obrolan santai tentang cucian yang menumpuk, serta candaan khas Mpus dan Guz yang selalu berhasil memecah gelak tawa. Sebagai bendahara, aku memanfaatkan waktu senggang siang itu untuk duduk di sudut ruangan bersama laptop, merapikan catatan pengeluaran kas selama seminggu terakhir sekaligus menghitung estimasi anggaran untuk agenda-agenda kolaborasi yang mulai disusun.
Malam harinya, panggung utama cerita hari ini resmi dimulai.
Melanjutkan kehangatan dari acara diba’an di mushola kemarin malam, kali ini ganti posko kami yang menjadi tuan rumah. Kami mengundang perwakilan pengurus IPNU dan IPPNU Ranting Raci Wetan untuk duduk bersama menggelar rapat koordinasi resmi. Rapat ini krusial: membahas agenda-agenda program kerja yang akan kami garap bersama selama sisa masa KKN.
Menjelang pukul delapan malam, usai salat Isya, teras posko sederhana kami sudah siap disulap menjadi ruang rapat dadakan. Karpet gulung digelar rapi, dua buah meja lipat dipasang di tengah, dan tak lupa divisi konsumsi yang dimotori Mine serta Aca sudah menyiapkan suguhan teh hangat dan deretan camilan di atas piring.
Tak lama kemudian, deru mesin motor terdengar mendekat. Rombongan pengurus IPNU dan IPPNU Raci Wetan tiba dengan senyum ramah. Salam hangat dan jabat tangan erat saling bertukar. Jika saat dibaan kemarin Neya sibuk memburu pentol kuah dan kami fokus melantunkan syair, malam ini aura yang terpancar sedikit berbeda: lebih serius, tapi tetap dipayungi semangat kekeluargaan khas anak muda.
“Ayo silakan masuk, Rek! Wah, lengkap banget nih rombongannya,” sapa Guz penuh kehangatan sebagai Kordes sekaligus warga lokal yang sudah sangat akrab dengan mereka.
Setelah semua mengambil posisi duduk melingkar di atas karpet teras, rapat pun resmi dibuka. Mba Bil selaku Sekum membagikan draf kasar rencana program kerja yang sudah kami godok di rapat BPH sebelumnya.
Diskusi berjalan sangat dinamis dan hidup. Tidak ada benteng formalitas yang kaku di antara kami. Rekan-rekan IPNU dan IPPNU Raci Wetan terbukti sangat terbuka dan responsif. Mereka tidak hanya mendengarkan paparan kami, tetapi juga memberikan masukan-masukan bernilai emas mengenai kondisi riil anak-anak dan pemuda di Desa Raci.
“Kalau untuk acara perlombaan dan kegiatan kepemudaan, anak-anak Raci Wetan biasanya paling semangat kalau ada unsur olahraganya, Mas Guz. Terus kalau bisa jadwalnya disesuaikan sama jam sekolah mereka,” ujar Ketua IPNU Raci Wetan memberikan saran berharga.
Guz memimpin jalannya diskusi dengan sangat efektif, dibantu oleh Mpus yang sigap memikirkan teknis pembagian lapangan dan kesiapan peralatan. Sementara itu, Mba Bil dengan jemari lincahnya sibuk mengetik setiap poin kesepakatan di laptopnya.
Sebagai bendahara, peranku di rapat malam itu cukup krusial. Setiap kali sebuah ide proker yang besar dan menarik tercetus dari kawan-kawan IPNU IPPNU, mataku langsung melirik ke kolom anggaran di catatan kas.
“Untuk agenda festival kepemudaan dan lomba religi nanti, alokasi dana dari kas KKN bisa menanggung bagian piala dan perlengkapan utama ya, Rek. Sisanya nanti kita bisa patungan atau cari alternatif sponsor lokal,” celutukku sambil menyodorkan estimasi angka ke tengah diskusi, yang langsung disetujui dengan anggukan mantap oleh pengurus IPPNU.
Momen saling melempar gagasan itu terasa sangat memuaskan. Ide-ide proker kami yang tadinya hanya sebatas corat-coret teori di atas kertas kampus, kini perlahan-lahan menemukan bentuk nyatanya berkat persetujuan dan masukan dari pemuda lokal. Kami menyepakati beberapa agenda besar kolaborasi, mulai dari kegiatan keagamaan, perlombaan edukatif untuk anak-anak desa, hingga aksi sosial kemasyarakatan.
Satu setengah jam berlalu tanpa terasa. Ketika draf akhir kesepakatan proker selesai disusun dan disetujui bersama, ketegangan rapat perlahan mencair. Sesi diskusi resmi ditutup dan berganti menjadi obrolan santai yang gayeng.
Mine dan Aca kembali memutar piring-piring camilan yang mulai menipis, sementara Mpus mulai melempar guyonan-guyonan konyol yang membuat seluruh isi teras tertawa terpingkal-pingkal. Pengurus IPPNU bahkan sempat menggoda Neya yang duduk di pojokan.
“Mbak Neya, tadi nyariin pentol enggak di posko?” goda salah satu pengurus IPPNU sambil tertawa.
Neya hanya bisa tertawa malu sambil menutupi wajahnya dengan ujung jilbab, memancing tawa riuh dari yang lain.
Menjelang pukul setengah sebelas malam, rombongan IPNU IPPNU Raci Wetan akhirnya berpamitan pulang. Kami mengantar mereka hingga ke depan pagar posko, melambaikan tangan saat deru motor mereka perlahan menjauh menembus kegelapan jalanan desa.
Melihat lembaran catatan proker kolaborasi yang kini tersusun rapi di genggaman Mba Bil, ada perasaan lega dan optimisme luar biasa yang membuncah di dalam dada. Seminggu pertama di Desa Raci resmi kami tutup dengan fondasi kemitraan yang sangat solid. Kami tidak lagi berjalan sendirian; ada rekan-rekan pemuda desa yang siap melangkah beriringan bersama kami untuk 38 hari ke depan