FOTO DI DALAM KOTAK

FOTO DI DALAM KOTAK
Oleh Silvia Izzatul Maula

Minggu pagi itu, Nisa diminta ibunya membersihkan gudang yang sudah lama tidak
digunakan. Awalnya dia malas karena gudang itu penuh dengan barang-barang
lama dan berdebu. Namun, karena ibunya terus mengingatkan, akhirnya dia
mengambil sapu dan mulai membereskan barang-barang di sana.

Di sudut gudang, Nisa menemukan sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu berada di
bawah tumpukan kain dan beberapa buku lama. Dia mencoba membukanya, tetapi
tutupnya cukup sulit diangkat.

Setelah mencoba beberapa kali, kotak itu akhirnya terbuka.
Isinya berupa foto-foto lama, beberapa surat, dan sebuah gelang kecil berwarna
biru. Nisa mengambil foto paling atas. Foto itu memperlihatkan ibunya ketika masih
muda sedang berdiri bersama seorang anak perempuan yang kira-kira berusia lima
tahun.

Nisa mengenali ibunya, tetapi dia tidak mengenal anak perempuan di sebelahnya.
Di belakang foto itu tertulis sebuah nama: Mira, 2009.
Nisa mengernyit. Selama ini, dia tidak pernah mendengar nama Mira dari
keluarganya.

Ketika ibunya masuk ke gudang untuk memeriksa pekerjaannya, Nisa langsung
menunjukkan foto tersebut.
“Bu, ini siapa?”

Ibunya yang semula terlihat biasa saja mendadak terdiam. Dia mengambil foto itu
dari tangan Nisa, melihatnya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke dalam
kotak.

“Sudah, itu foto lama. Kamu lanjut bersih-bersih saja.”
“Tapi siapa anak ini?”
“Teman Ibu dulu.”

Jawaban itu membuat Nisa semakin penasaran. Dia ingin bertanya lagi, tetapi
melihat wajah ibunya yang mulai tidak nyaman, akhirnya dia memilih diam.
Sepanjang hari, Nisa terus memikirkan foto tersebut. Bukan karena fotonya
istimewa, melainkan karena reaksi ibunya yang terasa aneh. Kalau memang hanya
teman lama, kenapa harus terburu-buru menyimpannya?

Malamnya, ketika sedang makan bersama keluarga, Nisa mencoba bertanya kepada
ayahnya.
“Yah, Ayah kenal orang namanya Mira?”
Ayahnya menghentikan gerakan tangannya sebentar.
“Mira? Kenapa kamu tanya begitu?”
“Aku nemu foto Ibu sama anak perempuan namanya Mira di gudang.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Dia justru melihat ke arah ibu Nisa yang duduk
di seberangnya.
“Ibu sudah lihat fotonya?” tanyanya.
Ibunya mengangguk pelan.

Setelah itu, tidak ada yang melanjutkan pembicaraan. Suasana makan malam yang
biasanya ramai mendadak terasa canggung.
Nisa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak diceritakan kepadanya.
Beberapa hari kemudian, ketika ibunya pergi berbelanja, Nisa kembali membuka
kotak itu. Kali ini dia memeriksa surat-surat yang ada di dalamnya.

Sebagian surat sudah menguning dan tulisannya sulit dibaca. Namun, ada satu
surat yang masih cukup jelas.
Surat itu ditulis oleh seseorang bernama Mira.
Isinya tidak panjang. Mira bercerita bahwa dia senang bisa menghabiskan waktu
bersama ibu Nisa dan berharap mereka bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Di bagian
akhir, ada kalimat yang membuat Nisa berhenti membaca.
“Aku akan selalu mengingat hari ketika kamu berjanji tidak akan meninggalkanku.”
Nisa membaca kalimat itu berkali-kali.
Apa maksudnya?

Dia tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Kali ini, dia memutuskan untuk
langsung bertanya kepada ibunya.
Ketika ibunya pulang, Nisa menunggunya di ruang tengah sambil memegang surat
tersebut.
“Bu, aku baca suratnya.”
Ibunya menghela napas panjang. Dia duduk di sebelah Nisa dan terdiam cukup
lama sebelum mulai bercerita.
Mira ternyata bukan sekadar teman lama. Dia adalah anak dari tetangga yang
pernah tinggal di dekat rumah mereka. Ketika masih kecil, Mira sering

menghabiskan waktu bersama ibu Nisa. Mereka bermain hampir setiap hari dan
sudah seperti saudara sendiri.
Namun, suatu hari keluarga Mira harus pindah ke kota lain karena masalah
ekonomi. Sebelum pergi, Mira menangis dan meminta ibu Nisa berjanji akan tetap
menemuinya.

Ibunya berjanji, tetapi keadaan membuat mereka sulit bertemu kembali. Nomor
telepon berganti, alamat lama tidak lagi digunakan, dan hubungan mereka perlahan
terputus.
“Kenapa Ibu nggak pernah cerita?” tanya Nisa.
“Ibu pikir itu cuma kenangan lama,” jawab ibunya. “Lama-lama Ibu juga nggak tahu
harus mulai mencari dari mana.”
“Tapi Ibu masih ingat dia, kan?”
Ibunya mengangguk. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Tentu. Ibu cuma nggak pernah menyangka kamu akan menemukan foto itu.”
Nisa memandangi surat yang ada di tangannya. Dia mulai mengerti kenapa ibunya
menyimpan semua barang itu, tetapi dia masih merasa ada sesuatu yang belum
selesai.
“Kalau Ibu masih ingat, kenapa nggak coba cari Mira lagi?”
Ibunya tersenyum kecil, meskipun terlihat ragu.
“Memangnya masih bisa?”
Nisa mengangkat bahu. “Kita coba saja, Bu. Siapa tahu ketemu.”

Malam itu, mereka mulai mencari informasi yang masih mereka ingat. Mereka
mencoba menghubungi beberapa kenalan lama dan menelusuri alamat yang tertulis
di salah satu surat. Hasilnya belum banyak, tetapi untuk pertama kalinya setelah
bertahun-tahun, ibu Nisa kembali berusaha menemukan teman lamanya.
Beberapa minggu berlalu tanpa kabar. Nisa hampir mengira pencarian itu tidak akan
menghasilkan apa-apa.

Sampai suatu sore, ibunya menerima pesan dari seseorang yang mengenal Mira.
Mereka akhirnya mendapatkan nomor telepon yang mungkin masih aktif.
Dengan sedikit ragu, ibu Nisa mengirim pesan singkat. Dia memperkenalkan diri dan
menyebutkan nama kecil yang dulu hanya mereka berdua gunakan.
Balasannya datang beberapa jam kemudian.
Orang itu ternyata benar-benar Mira.

Mereka kemudian melakukan panggilan video. Nisa duduk di samping ibunya ketika
wajah seorang perempuan dewasa muncul di layar. Perempuan itu tersenyum lebar
begitu melihat ibu Nisa.
“Kamu masih ingat aku?” tanya Mira.
Ibunya tertawa kecil. “Mana mungkin lupa?”

Mereka berbicara cukup lama, membahas masa kecil, rumah lama, dan berbagai
kejadian yang sudah bertahun-tahun tidak mereka ceritakan kepada siapa pun.
Nisa hanya mendengarkan sambil tersenyum.

Sebelumnya, dia mengira kotak kayu itu menyimpan sebuah rahasia besar yang
sengaja disembunyikan keluarganya. Ternyata, isinya adalah kenangan tentang
seseorang yang tidak pernah benar-benar dilupakan, meskipun sudah lama tidak
hadir dalam kehidupan mereka.

Setelah panggilan berakhir, Nisa membantu ibunya menyimpan kembali foto dan
surat-surat itu. Namun, kali ini kotak tersebut tidak lagi diletakkan di sudut gudang.
Ibunya menyimpannya di lemari ruang tengah, di tempat yang mudah dijangkau.
“Biar nanti kalau Mira datang, kita bisa lihat foto-foto ini lagi,” kata ibunya.
Nisa mengangguk.

Hari itu dia belajar bahwa tidak semua hal yang disimpan rapat-rapat berarti sesuatu
yang buruk. Kadang, ada kenangan yang terlalu lama ditinggalkan sampai orang-
orang lupa bahwa mereka masih bisa mencoba menemukannya kembali.
Dan dari sebuah kotak kayu yang hampir terlupakan, Nisa akhirnya membantu
ibunya menemukan kembali seseorang yang pernah menjadi

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp