Lea menatap telapak tangannya sendiri. Di lehernya, terasa sebuah beban dingin yang melingkar. Ia meraba kalung berliontin kunci permata yang berbinar lembut di bawah terik matahari Kunci Permata Tunggal Dewi. Otaknya yang selalu menduduki peringkat umum di sekolah mendadak lumpuh seketika. Namun, rentetan potongan memori pelajaran sejarah yang tadinya sangat ia benci perlahan merayap di pikirannya: Ratu Ayu… Putri Sunan Gunung Jati… Istri dari Adipati Unus, Sang Pangeran Sabrang Lor.
“T-tunggu… ini tahun berapa?” tanya Lea gagap, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
“Hah? Tahun? Ndedel sekali pertanyaannya, Tuan Putri. Ini tahun 1521! Mari cepat kembali ke kaputren sebelum Raden Abdul Qadir memanggil Anda ke pendopo!” panggil pelayan itu sambil menuntun Lea yang masih linglung.
Lea berjalan terhuyung-huyung mengikuti langkah pelayan istana yang terus mengomel cemas. Pikirannya berkecamuk hebat. Jadi, kalung pemberian nenek misterius itu benar-benar membawanya menembus waktu ke tahun 1521, di jantung Kesultanan Demak! Lebih gila lagi, ia kini berada di dalam tubuh Ratu Ayu permaisuri dari Adipati Unus alias Raden Abdul Qadir, sang raja Demak kedua.
“Tuan Putri, silakan bersihkan diri dan ganti pakaian Anda di kaputren. Kanjeng Sultan sebentar lagi akan berangkat ke pelabuhan untuk memimpin langsung armada laut menyerang Portugis di Malaka,” ucap pelayan itu sambil menunduk hormat setelah mengantarkan Lea ke sebuah kamar berarsitektur klasik Jawa kuno yang dipenuhi ukiran kayu jati.
Begitu pintu kamar tertutup, Lea langsung terduduk lemas di atas pembaringan kayu. Ia menatap kalung kunci di lehernya dengan perasaan campur aduk. Bagaimana caranya aku bisa kembali ke masa depan? batinnya frustrasi.
Nenek di kolam renang tadi sempat bilang bahwa ia harus mencari “gemboknya”. Tapi di mana gembok itu berada di era abad ke-16 ini?
Tiba-tiba, suara hiruk-pikuk terdengar dari luar halaman kaputren. Suara derap kaki kuda, sorak-sorai prajurit, dan suara perintah bernada tegas membahana di udara. Rasa penasaran yang teramat besar mendorong Lea bangkit. Ia melangkah cepat menuju jendela kayu berukir di kamarnya dan mengintip ke luar.

Di halaman istana yang luas, barisan pasukan Demak berdiri gagah mengenakan pakaian perang tradisional. Di tengah-tengah mereka, berdiri sosok panglima tertinggi dengan jubah kebesaran dan mahkota kecil khas Kesultanan. Pemuda itu berbalik menghadap ke arah prajuritnya untuk memberikan instruksi terakhir.
Jantung Lea seakan copot dari tempatnya.
Panglima agung sekaligus Sultan Demak itu… memiliki wajah yang luar biasa tampan, tegas, dan dingin. Wajah itu adalah jiplakan sempurna dari Revan Adi Pratama, musuh bebuyutannya di SMA Cahaya Bangsa!
“Revan?!” teriak Lea tanpa sadar, cukup keras hingga beberapa prajurit di bawah menoleh ke arah jendela kamarnya.
Sultan Demak yang wajahnya sangat mirip dengan Revan—menghentikan kalimatnya. Ia mendongak, menatap tajam ke arah jendela tempat Lea berdiri. Tatapan mata itu… sorot mata yang penuh misteri, senyum tipis penuh rahasia yang sama persis dengan apa yang sering diberikan Revan saat mengejeknya di kelas.
Sang Sultan mengernyitkan sedikit alisnya, lalu perlahan mengangkat sebelah tangannya, seolah memberi isyarat rahasia kepada Lea, persis seperti kalimat yang sering diucapkannya dulu: ‘Suatu saat kamu akan memahami maksudku, Lea.’
Sebelum Lea sempat berteriak membalas atau melompati jendela, sang Sultan sudah membalikkan badan, menaiki kuda perangnya, dan memimpin pasukan menuju pelabuhan untuk memulai ekspedisi berbahaya ke Malaka—sebuah pertempuran besar yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai akhir dari riwayat sang Pangeran Sabrang Lor.
Lea tertegun, meremas kalung kuncinya erat-erat. Ia baru sadar, terjebak di masa lalu bukanlah sebuah kecelakaan biasa. Ada rahasia besar di balik kehadiran Revan atau sang Adipati Unus dan takdir sejarah yang sebentar lagi akan terukir di hadapannya.
Bersambung…