ASCHENPUTTEL

Oleh: Syauqi Abdullah

Mereka  duduk bermalas-malasan di sofa. Zain dengan sebatang rokok yang sedari tadi menyala  dan Ella dengan segelas  teh panas. Mereka sama-sama menghadap ke jendela. Langit bersih malam itu, hanya ada satu dua bintang dan  beberapa awan tipis yang menggerombol di sekitar bulan. Awan-awan itu, menghalangi  cahanya sehingga tampak sedikit suram.

“Lihatlah bintang itu, Ella”

“Iya, Zain. Itu indah sekali.”

“Bukan itu maksudku, lihatlah, Ia sedang kesepian di langit yang luas itu .”

“Oh ayolah, suamiku. Sebenarnya mereka ada banyak disana.”

“Tetap saja, sayang, terlihat kesepian itu menyakitkan”.

Zain menghisap rokonya. asapnya mengepul, keluar dari hidung dan antara dua bibir keringnya. Nyala bara rokok itu menerangi mereka sementara.

“Zain, sayang”

“Hmmmm…”

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”

“Tidak ada yang spesial, hanya beberapa meeting lalu setelah itu aku bertolak sebentar ke luar kota.”

“Tapi, bukankah kamu kemarin bilang bos sedang marah dikantor?”

“Hanya sebatas marah, sayang. Bos bukanlah pendendam. Ia hanya marah di hari itu saja, selainnya normal seperti hari-hari biasa.”

“Oh, mungkin ia sedang banyak pikiran saat itu…”

“Hmmm, mungkin saja.”

Zain memadamkan rokonya yang sudah sepanjang kuku.  Sementara itu, Ella meraih cangkir teh disebelahnya. Diseruputnya teh yang sudah mulai menghangat seiring obrolan mereka malam itu. Ella menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

“ella..” Zain memulai kembali obrolan. Ia memegang kepala istrinya dan dihadapkanya  muka ella ke mukanya. Zain melihat tatapan  teduh dari wajah istrinya.

“Iya, suamiku..”

“Bagaimana anak-anak hari ini? Bagaimana  Rani dan Mauda? Kesibukanku akan pekerjaan, seakan mengharuskanku untuk selalu menanyakan hal ini.”

“Mereka kakak adik yang lucu.”

“Iya, aku tahu mereka berdua anak yang lucu. Tapi istriku, Ayolah. Aku juga ingin tahu bagaimana  mereka tumbuh.”

“Keduanya anak yang aktif, sayang.  Rani di usianya yang baru enam tahun sudah sangat mahir membaca. Kemarin, saat kita meliwati salah satu Bookstore di kota, ia memintaku membelikannya buku dongeng. Itu aschenputtel.

“wow,  menakjubkan. Apakah Mauda juga sama?”

“Maksudmu?”

“Membaca, apakah dia juga seperti kakaknya?”

“Ya Tuhan, usianya masih empat setengah tahun. Tentu saja huruf-huruf itu sesuatu yang masih baru dikenalnya.”

“Siapa yang tahu, mereka kan anak yang cerdas dan cantik seperti ibunya.” Goda zain sambil mengelus dagu istrinya.

“Anda mulai genit ya, tuan.” Balas Ella sambil mencubit-cubit paha suaminya.

“Hentikan… oh, hentikan.. itu sakit… Aku kan suami mu, sayang.. ”

” Ya. Tapi rayuan gombal itu terasa menjijikkan.”

”Maaf, Ella.”

Ella mendengus kesal. Ia berhenti mencubit paha suaminya.

“Maafkan aku..”  Zain meraih pundak istrinya itu. Sedikit mendekap. Ella menyandarkan kembali kepalanya di pundak Zain.

“Bagaimana dengan Mauda? Kamu belum menceritakannya padaku” Zain melanjutkan pertanyaanya. Saat itu tanganya mengelus-elus kepala Ella, ia hendak menenangkan  Istrinya.

“Seperti kataku tadi, suamiku. Mauda baru saja mengenal beberapa huruf, terkadang ia juga mencoba menghafal nama-nama hewan melalui poster di kamarnya. Terlebih beberapa minggu ini, ia sangat semangat mendengarkan cerita dari kakaknya. Setiap malam,  saat sebelum tidur,  mauda selalu meminta kakaknya membacakan satu dongeng untuknya. The cat and the fox dan The sick Lion. Itu hal yang menggemaskan.” Matanya berbinar,  Ella merasa bangga dengan apa yang ia ceritakan.

”Kamu Ibu yang baik, Ella. Terima Kasih. Kurasa,  merawat mereka berdua sama beratnya  dengan pekerjaanku di kantor,  hahaha… ”

“Mungkin saja” ucap Ella sedikit setuju. “Namun, setiap hari melihat pertumbuhan mereka, itu membayar lunas setiap tetes peluhku. Aku benar-benar bahagia. Meskipun, satu dua kali otot leherku dipaksa keluar untuk melerai pertengkaran mereka. Ya, Itu konflik kecil. berebut mainan, remot TV dan sebiji nugget. Siapapun yang pernah menjadi anak-anak pasti melakukannya.”

“Wah, selamat. Kamu naik pangkat, istriku. Kamu memang Ibu yang baik dan penyabar, hahaha..”

“Oh, seiring  dengan kenaikan pangkat ini berarti saku bulananku  bertambah juga kan, Suamiku?” Sindir Ella, membalas godaan suaminya.

”Hmmm.. Bisa dipertimbangkan.”  Zain sedikit menyesali perkataanya.

”Horeee…”

Zain pergi berdiri di dekat jendela, lalu  mulai memasang kembali rokonya. Ia melihat kembali langit. Itu benar-benar bersih, awan tipis yang beberapa menit lalu disekitar bulan sudah menghilang. Dilonggokkannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur dibawahnya. Sinar bulan yang lembut itu seakan-akan membuat bangunan-bangunan itu tertidur dalam kehangatan.

“Apakah menurutmu sebaiknya kita pergi berlibur, Istriku? Aku ingin sekali menghabiskan satu hari penuh dengan anak-anak kita.”

“Itu ide yang sangat bagus, tapi kita akan pergi kemana?”

“Kemana saja, Central Park Zoo, sebuah villa di pedesaan dan barbeque, Hill Outdoor

“Itu pilihan yang menarik, suamiku. Sebaiknya  kita juga diskusikan ini dengan anak-anak.”

****

“A- Apa ada yang bilang liburan?” Sebuah pertanyaan terlontar dari belakang mereka, sedikit mengagetkan Ella dan Zain. Itu dari kamar. Seorang gadis kecil keluar seiring pintu yang  terbuka. Gadis itu mengusap kedua matanya, mulutnya menguap lebar. Di belakangnya, sayup-sayup sinar lampu tidur menyala.

“Rani…” Ucap Ella dan zain berbarengan.

“Kamu belum tidur?” Ucap Zain. Dimatikanya rokok yang masih setengah, ia segera menghampiri tubuh ankanya lalu menggendongnya.

“Kamu tidak tidur, sayang?” Zain mengulangi lagi pertanyaanya, sembari mencium halus kening anaknya. Ella segera menghampiri mereka .

“Aku sudah berusaha ayah, itu setelah aku selesai membacakan aschenputtel kepada Mauda.   Tapi mataku tidak mau diajak kerjasama. Ia malah begitu terang, saat aku memejamkannya.” Rani menerangkan dengan polosnya.

“Ya Tuhan, sayangku.” Ucap ella.

”Ibu, ayah. Maukah kalian membacakan sebuah cerita?”

”Tentu, sayangku.” Jawab Zain.

“Bacakan padaku aschenputte.

“Bukankah kamu habis membacakanya untuk adikmu, sayang?” Timpal Ella.

“Tapi, aku ingin mendengarnya. Bukan membacanya.”

“Baiklah, ayo segera pergi ke kamar.” Ucap Zain.

Mereka bertiga pergi ke kamar. Ella menutup pintu. Zain menaruh anaknya Rani di tengah kasur spring bed itu, bersebelahan dengan adiknya Mauda yang sudah terlelap. Zain disebelah kiri lalu Ella disebelah kanan. Ya, satu kasur berempat itu lumayan menyesakkan. Zain bersiap dengan buku dongengnya. Dibukanya  halaman pertama buku dongeng itu.

aschenputtel…….”

-Tamat-

 

 

 

 

 

 

 

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp