Oleh Muflikhah Ulya
Baru beberapa minggu aku pindah ke asrama baru, tiba-tiba ada satu penghuni tak diundang yang mulai sering mampir. Seekor kucing oren! Dia bukan kucing biasa—lebih mirip pencuri profesional. Setiap hari dia datang dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, seperti sedang menilai apakah asrama ini cukup nyaman untuk jadi markas barunya. Awalnya, aku pikir dia cuma kucing jalanan biasa yang lewat, tapi ternyata dia punya agenda lain.
Pertemuan pertama kami cukup dramatis. Saat itu aku sedang memasak tempe di dapur. Setelah selesai, aku tutup tempe itu dengan piring dan pergi sebentar. Namun, ketika kembali, piringnya sudah pecah, dan tempenya hilang! Siapa pelakunya? Tidak lain dan tidak bukan: si oren. Dengan gerakan lincah, dia mencuri tempeku dan kabur dengan ekspresi tanpa dosa. Teman-temanku marah, tapi aku diam-diam tertawa. “Kucing ini benar-benar nekat!” pikirku.
Sejak hari itu, si oren jadi sering datang ke asrama. Akhirnya, karena kasihan (dan mungkin takut tempeku makin sering hilang), aku mulai memberi dia makan tempe setiap hari. Ajaibnya, si oren jadi makin sering main ke rumah. Mungkin dia menyukai tempenya, atau mungkin dia menyukai asrama yang nyaman ini. Dia mulai bertingkah seolah-olah ini rumahnya, tidur di teras, nongkrong di kursi, terus minta makan, dan sepertinya merasa asrama ini sudah jadi wilayahnya. Si oren itu kini kukasih nama Oyin.
Namun, sekitar sebulan kemudian, aku sadar perutnya mulai buncit. “Waduh, jangan-jangan dia hamil?” pikirku. Dan benar saja! Sekitar sebulan kemudian, si Oyin melahirkan lima anak kucing lucu-lucu di dalam kardus di bawah wastafel dapur. Lima! Lima ekor anak kucing! Aku jadi “orang tua dadakan” buat segerombolan anak kucing.
Kasih nama mereka? Tentu saja! Aku mulai dari yang mudah: Piyik, Peyuk, Piyin, dan Yali Yali. Tapi, ada satu anak kucing yang namanya belum ketemu. Sampai sekarang, aku masih mikir nama yang pas buat dia. Mungkin kamu punya ide? Asramaku mendadak penuh dengan suara meongan lembut dari lima bayi kucing yang baru seminggu dilahirkan. Mereka masih sangat kecil, bahkan belum bisa berjalan. Mereka hanya tidur, menyusu, dan sesekali menggerakkan kaki-kaki mungil mereka.
Yang menarik lagi, setelah si oren jadi ibu, aku nggak tega lagi ngasih tempe. Jadi, aku mulai beliin mereka makanan kucing dari minimarket. Masalahnya, makanan kucing itu harganya lumayan mahal, dan dompetku mulai menjerit pelan-pelan. Tapi gimana lagi? Aku tidak tega, dan ya Namanya udah terlanjur saying.
Setiap hari, aku melihat si Oyin menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Piyik, Peyuk, Piyin, dan Yali Yali selalu meringkuk dekat ibunya, mencari kehangatan dan kenyamanan. Meski mereka belum bisa berjalan, mereka mulai membuka mata, mencoba mengenali dunia di sekitar mereka. Dan setiap kali aku masuk dapur, aku melihat si Oyin menatapku dengan tatapan penuh harap, seolah berkata, “Terima kasih sudah merawat kami, jangan lupa kapan-kapan makanannya upgrade ke whiskas ya”
Meski mereka masih kecil dan rentan, kehadiran si Oyin dan anak-anaknya membuat suasana asrama jadi jauh lebih hidup. Mereka memang belum bisa berlarian, tapi suara lembut mereka, kehangatan yang mereka bawa, membuat asrama terasa lebih hangat dan penuh kasih. Bahkan teman-temanku yang awalnya marah karena insiden tempe, sekarang ikut jatuh cinta pada keluarga kecil ini.
Aku tahu, tantangan baru akan datang seiring mereka tumbuh besar. Nafsu makan mereka pasti akan bertambah, dan mungkin aku harus mencari cara untuk menghemat biaya makanan. Tapi, melihat mereka tumbuh sehat, lucu dan menggemaskan, rasanya semua itu sepadan. Oyin, Piyik, Peyuk, Piyin, dan Yali Yali—keluarga kecil yang tak terduga ini kini menjadi bagian dari keseharianku. Setiap hari adalah petualangan baru bersama mereka, dan aku tak sabar melihat mereka tumbuh besar dan mulai berjalan-jalan di sekitar asrama.






