KEJUTAN GELAP DIMALAM JUMAT

 

 Oleh :  Meisya Eva Natasya

Kembali ke rumah setelah lama merantau selalu penuh dengan harapan dan kebahagiaan. Apalagi kali ini, aku pulang untuk merayakan syukuran weton kelahiran yaitu momen yang sudah kami tunggu-tunggu. Selama dua minggu, kami merencanakan acara ini dengan sepenuh hati. Rabu adalah hari syukuran yang kami nantikan, dan dihari selanjutnyanya kami juga kebanjiran orderan jajanan pasar yang lumayan banyak. Jadi, sekeluarga begadang untuk mempersiapkan semuanya.

Hari-hari persiapan penuh kesibukan kami berlangsung dengan baik.  Selasa malam kita sudah mulai menyiapkan segala sesuatu untuk acara syukuran dan memenuhi kebutuhan pesanan jajanan. Semua berjalan lancar, hingga kami semua merasa sangat lelah. Setelah selesai acara syukuran dan menyelesaikan  pesanan, kami semua langsung tertidur lelap.

Aku biasanya sangat peka terhadap kebiasaan malam, baik untuk pergi ke kamar mandi, mengusir kucing yang suka masuk kamar, atau sekadar memeriksa keadaan. Namun, malam itu, kelelahan membuat kami semua terlelap begitu dalam sehingga tak ada satu pun dari kami yang terbangun.

Jumat pagi dengan suasana yang tenang. Aku bangun dan mulai menjalani aktivitas seperti biasa, menyiapkan sarapan, mencuci piring, dan memberikan sisa makanan untuk ayam peliharaan. Aku memanggil ayam-ayam dengan suara khas yang biasa mereka respon, namun pagi itu tidak ada satu pun yang datang. Aku berpikir mungkin mereka sedang berkeliaran di sekitar rumah atau mungkin menuju ke sawah di belakang rumah kami.

Beberapa menit kemudian, ibu memanggilku dengan nada cemas. “Ayam-ayamnya kemana, ya?” tanyanya sambil mengerutkan kening. Aku merasa ada yang tidak beres. Biasanya, ayam-ayam peliharaan kami berkumpul di sekitar kandang kambing, di mana mereka sering tidur diatas  kayu panjang. Namun pagi itu, tidak ada satu pun ayam yang terlihat.

Ibu dan aku mulai mencari di sekitar area tersebut. Ketika kami tiba di dekat kandang kambing, aku melihat tumpukan batu yang tidak ada sebelumnya. Tumpukan batu tersebut tampaknya sengaja diletakkan di situ. Aku bertanya kepada ayah, “Yah, siapa yang menumpuk batu ini?”

Ayahku yang terbagun dari tidur lelapnya hanya menggelengkan kepala. “Aku juga tidak tahu. Sepertinya batu-batu ini belum ada kemarin sore,” katanya. Dengan raut wajah yang semakin khawatir, ayahku menambahkan, “Coba nyalakan lampunya.”

Ketika aku mencoba menyalakan lampu kandang tersebut, ternyata lampunya mati. Kegelisahan mulai terasa. “Kayaknya ini bukan hal yang biasa. Kita mungkin sudah kemalingan,” gumamku dengan suara yang bergetar.

Saat itulah ingatanku kembali pada peringatan dari tetangga sebelum acara syukuran. Tetangga kami pernah bilang, “Cepat sembelih ayam-ayam itu sebelum keduluan maling.” Dan ternyata, apa yang kami khawatirkan benar-benar terjadi. Pencurian ayam yang sebelumnya kami alami juga bertepatan dimalam jumat dan sempat menyisakan ayam-ayam kecil. Namun kali ini, semua ayam hilang tanpa tersisa satupun.

Dengan rasa frustrasi dan cemas, kami mulai mencari informasi dari tetangga sekitar. Ternyata, bukan hanya kami yang mengalami musibah ini. Beberapa tetangga juga mengalami hal serupa. Sepertinya, ada kelompok pencuri yang sudah memantau dan mengetahui waktu yang tepat untuk beraksi.

Pagi itu, kami bingung dan sedih. Dari semua kesibukan yang melelahkan dan perayaan yang meriah, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan pahit. Pencurian ayam di malam Jumat adalah kejadian yang tak terduga dan menambah deretan kesulitan yang kami alami.

Meskipun kehilangan ayam-ayam peliharaan kami sangat mengecewakan, kami mencoba untuk tetap tegar. Dengan semangat baru, kami bertekad untuk memulai kembali dan menghadapi tantangan berikutnya dengan kepala tegak. Di balik semua kekacauan, kami belajar bahwa meskipun segalanya tidak selalu berjalan sesuai rencana, kami harus tetap kuat dan terus melangkah maju.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp