Pusara Klandestinia

Oleh : Ilman Mahbubillah

Sebelum pena menolak kembali terisi, biarkan umpatan sajak-sajak memulainya dengan basa-basi. Seiring nyanyian musim semi yang dilantunkan sepanjang hari, sedang telinga; tak henti menyaring nada miring di setiap harapan yang meruncing, mengais irama hening di sisa halaman kosong yang tak bisa dibaca nyaring. Hingga hujan jatuh ke pangkuan bumi; pohon, tanah, batu, kodok pun ikut bernyanyi.

Saat sudah kubasuh teduh mataku, selayak kilatan petir yang membawa pesan darimu; sebelum langkah pengembaraan lekas dimulai, bukankah telah sepakat di dermaga yang sama-perjalanan akan dilerai? Bahkan murung para gemawan ubahnya turut mengamini; haruskah hujan turun lagi? Entah teluk mana yang menawanmu hingga berhenti dan menepi? atau pada hati siapa lagi-ombakmu membasahi? Tolong kembali!

Sungguh, kenangan akan tepat jingga yang tersenyum di cakrawala membaur dengan lambaian bintang yang hadir menyapa, rupa anggun bak mekarnya sakura; sosok yang membuatku jatuh cinta. Lalu pada tinta yang akan jadi fondasi setiap kisah, pada hadirnya warna dalam hati yang nyaris hilang nyawa, pada rindu dan asa menjelma desakan pada sukma; tolong sampaikan padanya, kau ini siapa sebenarnya?

Bagaimana bisa senandung rasa terus lirih mengeja setiap aksara pada puisi ini, dan kata-kata memaksaku menawanmu di secarik kertas; di mana kau akan abadi. Dan seluruh tentangmu; menjadi ibu atas lahirnya rima yang menjelma rumah untuk harapanmu dan doa-doaku; lantas perlahan aku membutuhkanmu. Sebagaimana pena menuntunku pada titik; di mana luka seharusnya berakhir, dan kau adalah apa yang kupertaruhkan di atas sabda takdir. 

Puing-puing kisah kita memang tak seanggun peninggalan Syailendra, pun tak semegah kuil pemujaan para dewa. Setidaknya, kau dan aku-ada untuk membentuk kisah sederhana berlandaskan isak, tangis, dan kecewa. Tanpa menuntut sempurna; berbagai nestapa dan bahagia justru membuah cinta lebih berwarna. Dan pada jari jemarimu yang terbuka, juga aminku yang terus mengiba; semoga harapan dapat menembus seluruh dinding semesta.

Hingga waktu sudah tak berpusat pada denting jarum. Hingga sekedar basa-basi patahkan segala rasi-rasi ahli nujum. Hingga cerita terlalu istimewa untuk dirangkum. Hingga kita menjadi pemeran atas sabda “KUN FAYAKUN”

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp